1 October 2015

[Resensi "RENTAK KUDA MANGGANI"] 21 Cara Membangun Cinta

Judul: Rentak Kuda Manggani
Penulis: Zelfeni Wimra, dkk.
Editor: Addin Negara
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Agustus 2015
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-255-954-2
Harga: Rp 38.000,00
Rating saya: 3/5


Mengapa "bangun cinta", bukan "jatuh cinta", atau malah "jatuh-bangun aku mengejarmu" (eh, malah jadi lagu dangdut)?


"Bangun cinta" adalah tema lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Grup Titik Temu, bekerja sama dengan Penerbit DIVA Press, yang masa lombanya berakhir pada tanggal 15 April 2015. Mengapa saya tahu? Karena saya pernah berniat mengikuti lomba ini, tapi niat tinggallah kenangan (dan penyesalan) jika tak ditransformasikan menjadi tindakan.

Pertama kali mendengar istilah "bangun cinta", ada yang menggelitik kuping saya. Kok, aneh, ya? Biasanya, kan, "jatuh cinta"? Ternyata, panitia lomba memiliki filosofi unik di balik pemilihan kata "bangun". Kalau "jatuh", kan berarti sakit, maka fokus kita ada di rasa sakitnya. Sementara itu, kata "bangun" memiliki aura optimisme untuk bangkit kembali, meski cinta kadang tak sesuai harapan!

176 halaman buku ini begitu padat disesaki 21 cerpen. Rentak Kuda Manggani diambil dari judul cerpen pemenang lomba, karya Zelfeni Wimra. Ya, dalam kumpulan cerpen tipis ini terkandung nama-nama penulis yang beberapa sudah terkenal sampai tingkat internasional, sebut saja salah satunya Faisal Oddang. Ada Yetti A.K.A., Peringga Ancala, Benny Arnas, dan kawan-kawan, yang sudah punya banyak karya.

***

21 Cara untuk Membangun Cinta


"Seharusnya tidak ada kenangan di Manggani dan tidak ada ingatan tentang perempuan bau cengkih itu. Tidak ada kelebat bayangannya menunggangi kuda berbulu daun pinus gugur, menyisiri jalan setapak di lereng-lereng Bukit Manggani." (hal. 35)

Sesuai dengan tema kumpulan cerpen ini, tokoh-tokoh di dalamnya membangun cinta dengan cara masing-masing. Dalam Rentak Kuda Manggani, tokoh "aku" berusaha memperbaiki kesalahannya di masa lalu, yaitu meninggalkan istri-anaknya untuk merantau mencari kerja di luar pulau. Istrinya telah berkata, sekali pergi, tak berhak ia kembali. Kini, di masa tuanya, si "aku" hendak meminta maaf secara baik-baik. Kesalahan yang tak ringan itu, akankah dimaafkan? Sisi menarik lain dari cerpen ini adalah latar belakang si "aku" dan hubungannya dengan kemerdekaan Indonesia. Kompleksitas cerpen ini, beserta deskripsi mental si tokoh utama, nuansa kesenduan yang cukup mencekam, membuatnya layak menjadi juara pertama.

Bicara tentang perjuangan membangun cinta, latar belakang Perang Dunia yang mengerikan, yang telah memutuskan banyak ikatan cinta sepasang manusia, agaknya menjadi pilihan beberapa penulis. Ada tiga cerpen yang mengangkat setting Perang Dunia, dan ketiga tokoh utamanya sama-sama tentara Jerman. Stille Nacht (Adam Yudhistira); Love, Halley, and War (Ade Ferdiansyah); dan Gisela Meine Rose (Granito Ibrahim). Ketiga tokoh utama dalam cerpen tersebut tetap berjuang mempertahankan cinta pada pasangan masing-masing dan juga pada negara (Jerman). Tentunya ada kesenduan di setiap cerpen tersebut, tapi yang paling mampu meretakkan hati saya adalah Gisela Meine Rose.

Dengan teknik permainan point of view--yang seperti biasa, awalnya terasa membingungkan, tapi jika telah dipahami berkali-kali, ia berubah memukau--Faisal Oddang menyuguhkan kisah seorang lelaki yang menderita agyrophobia, yaitu takut menyeberang jalan, dan secara tak langsung, berperan dalam kematian istrinya.

"Kematiannya bagiku adalah cara Tuhan mengembalikanku ke tempat kami pertama menambatkan cinta." (hal. 65-6)

Kalau sudah mengenang begitu, ia seolah-olah melihat dirinya saat masih berumur 30 tahun, berciuman di bawah hujan dengan perempuan yang ia cintai, yang telah meninggal itu.

Dalam cerpen Dan Selamat Sore, Cinta (Kevin Arnando), tokoh yang mengenang masa lalu kali ini mewujud dalam sosok perempuan (yang mungkin pikun atau terserang gejala lupa ingatan entah-apa) yang mengingat-ingat sosok suaminya yang telah meninggal. Ia menganalogikan cintanya seperti Yoko Ono dan John Lennon yang akhirnya harus berpisah karena kematian (hal. 75). Sebenarnya saya agak curiga, atau dia sendiri adalah Yoko Ono?

Cinta yang tengah bersemi menjadi garis besar cerpen Sebelum Mencapai Tacloban (W.N. Rahman) dan Sepotong Cinta dalam Mangkuk Berwarna Hijau Lumut (Majenis Panggar Besi). Sepasang tokoh dalam cerpen yang pertama melewati serangkaian proses dialog yang berlangsung dalam perjalanan ke Tacloban untuk meliput bencana taifun yolanda (peristiwa ini terjadi pada awal November 2013 di Tacloban, Filipina) yang sangat menggambarkan perbedaan cara berpikir mereka, untuk akhirnya salah satu mengalah demi kebersamaan mereka. Dua pemikiran yang berbeda ini barangkali (lewat petunjuk slogan "TV Pemilu") menyimbolkan dua pasang calon wapres-cawapres Pemilu 2014, yang sering berdebat (dalam acara debat di TV, misalnya). Alangkah baiknya jika salah satu mengalah atau bersama-sama berusaha mencari solusi terbaik.

Cinta sejati tak lekang dimakan usia atau penyakit, seperti kisah antara pasangan di Biji Mata yang Tak Boleh Menangis (Wanda SP) dan Tentang Kisah Cinta Kakek dan Kisahku Sendiri (Elin Nofia Jumesa). 

Nah, patah hati adalah bagian "sakit" kalau jatuh cinta. Maka dari itu, seharusnya "bangun" meskipun patah hati. Apa yang akan dilakukan dua orang lelaki yang patah hati dalam Gadis Pelari dan Lelaki Bertato Sayap (Endah Suci Astuti) dan Lelaki Patah Hati yang Terjebak di Ruang Nostalgia (Fatur Shau)? Bagaimana jika seorang lelaki patah hati bertemu dengan perempuan yang juga sedang patah hati?

Membangun cinta tak hanya berlaku bagi sepasang manusia. Dalam Namata (Peringga Ancala), tokoh Hiri mulai bertekad membangun cintanya pada budaya Sabu, tanah kelahirannya, berkat tamparan seorang bule yang lebih dulu mengabdi demi melestarikan budaya Sabu. Di Menjadi Jangkrik (Benny Arnas), sepasang kekasih berdialog, menunjukkan perhatian (cintanya) akan kesusastraan.

Ken Hanggara dan Karta Kusumah menggunakan sudut pandang benda mati sebagai tokoh utama untuk mengengonotasikan pengalaman manusia. Dalam Sepasang, sepasang sepatu terlahir di dunia dan terdiam di sebuah toko yang dijaga oleh seorang kakek. Kemudian Robert membelinya dan membawanya keliling dunia.

"Kita hanya mati jika satu dari kita tiada." (hal. 120)

Sementara itu, dalam Blowing in the Wind, yang merupakan variasi dari lirik lagu berjudul sama karya Bob Dylan, Karta Kusumah menggunakan sudut pandang sebuah suara yang terlempar di sana-sini, sebelum kembali ke awal mula perjalanan. Suara seseorang yang menangisi nasibnya.

"The answer is blowing in the wind..." (hal. 127)

Mel A. juga menggunakan sudut pandang benda mati dalam Matahari Bukan Jodohmu, Bulan! Begitu selesai membaca judulnya, saya langsung bisa menebak akan seperti apa kisah cinta di dalamnya. Sepertinya saya sering menjumpai perumpaan "kisah cinta antara bulan dan matahari" sebagai gambaran "kasih tak sampai". Namun saya kurang setuju dengan penggunaan kata "bintang" dalam cerpen ini, yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiahnya. Secara ilmiah, matahari adalah salah satu bintang yang ada di alam semesta ini. 

Kasih pada anggota keluarga, dari orang tua kepada anak-anaknya, pun menarik untuk diceritakan. Dalam Tentang Seekor Kucing dan Ingatan-ingatan Lainnya, Yetti A.K.A. menggambarkan kerinduan orang tua pada anaknya yang di perantauan dengan dialog-dialog lewat telepon. Ada saja cara orang tua untuk menyempilkan rasa rindunya secara implisit. Saya terharu membaca cerpen ini, mungkin karena saya seringkali bertingkah seperti si anak. Kemudian saya tersenyum ketika sampai di bagian twist.

Anak-anak yang tersebar di mana-mana, meninggalkan orang tua di kampung halaman digambarkan seperti ayam yang lepas oleh Deddy Arsya, dalam Lepas Seperti Ayam. Meski dirawat dengan penuh kasih, sudah dikandangi berkali-kali, entah bagaimana, mereka berhasil lepas lagi!

"Mungkin betul mereka sudah tak mau lagi berkandang!" (hal. 159)

Dalam Presque Vu (Fina Lanahdiana) sepasang suami-istri juga merindukan anak-anaknya. FYI, presque vu berasal dari Bahasa Perancis, dan bisa diartikan sebagai perasaan yang intens seakan berada di tepi epifani (kesadaran yang tiba-tiba dan menampar); pengalaman yang sangat bikin frustrasi, lantaran tidak pernah ada pemecahan masalahnya, sehingga kau memimpikannya dengan putus asa (Urban Dictionary).

"Besok kita ke kota yang mengasuh anak-anak, yang menggantikan kita sebagai orang tua." (hal. 168)

Kemudian, ada cerita tentang seorang pegawai pajak yang dibenci oleh semua orang, dalam Pegawai Pajak (Yohanes W. Hayon).

Sesuai ketentuan lomba, gaya bahasa semua cerpen dalam buku ini agak nyastra. Yang paling terlihat adalah gaya penyajian dialog dalam Menjadi Jangkrik. Dua orang yang berdialog itu menggunakan diksi yang mengalir seperti puisi.

"Oh, kau tak seharusnya mengait-ngaitkan orang dengan karyanya!"
"Ah, kau klise nian, Istriku!"

(hal. 22)

Nah, sesuai lagi dengan ketentuan lomba, semua cerpen ini disajikan untuk pembaca young-adult. FYI, young-adult secara umum digunakan untuk menyebut umur 18--35 tahun.

Secara keseluruhan, semua cerpen berhasil menggambarkan tema "bangun cinta" dengan bervariasi dan unik. Namun, ada satu cerpen yang belum saya tangkap keterkaitan temanya dengan "bangun cinta", yaitu Pegawai Pajak. 

Beberapa cerpen menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan maksud sesungguhnya, yang menyebabkan petualangan membaca saya menjadi lebih seru. Saya harus membaca beberapa kali untuk mengupas kulit demi kulit yang menyembunyikan intinya. Sebut saja cerpen Sebelum Mencapai Tacloban. Tak mudah menemukan maksud penulis sesungguhnya. Kemudian Blowing in the Wind juga. Lepas Seperti Ayam juga menggunakan kiasan, tapi di bagian akhir penulis menyampaikan maksud sebenarnya. Sementara itu, Lelaki yang Menyeberang Jalan membingungkan saya berkat point of view-nya yang terasa rumit di awal.

Tentang Seekor Kucing dan Ingatan-ingatan Lainnya, Gadis Pelari dan Lelaki Bertato Sayap, dan Lepas Seperti Ayam adalah cerpen favorit saya dalam buku ini. Saya suka penggambaran kerinduan orang tua pada anaknya yang tak harus mengeksploitas kata "rindu" itu sendiri, dalam cerpen yang pertama dan ketiga. Sementara itu, cerpen kedua menyajikan kisah pertemuan yang unik antara dua orang laki-laki dan perempuan yang sama-sama patah hati. Membaca cerpen ini, saya teringat film Silver Linings Playbook yang dibintangi Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets