18 October 2015

[Resensi PRACTICE MAKES PERFECT] Payton dan J.D.: Lizzie dan Darcy-complex-nya

Judul: Practice Makes Perfect
Penulis: Julie James
Penerjemah: Layna Ariesianti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2012
Tebal: 408 halaman
ISBN: 978-602-00-2109-6
Harga: Rp 10.000,00 (sale Gramedia)
Rating saya: 4/5

Membaca buku romance bukanlah hal natural bagi saya, tapi karena saya adalah extrovert reader (pembaca yang suka lintas genre), maka saya mencoba untuk membaca genre contemporary romance. Sepertinya kurang tepat jika saya menyebutnya "genre", lantaran ternyata contemporary romance ini adalah salah satu subgenre romance. Menurut Carly Phillips, salah satu penulis contemporary romance,

"... contemporary romance is a story set in the present day and the characters and their journey is what drives the story and the hero and heroine towards their happily ever after."(Sumber: Contemporary Romance--Hot? Not?)

Hmm, ya, biasanya ada elemen-elemen hot atau seksi dalam novel contemporary romance. Novel ber-genre tersebut yang pertama saya baca adalah Marry Now, Sorry Later karya Christian Simamora. Setelah selesai membaca novel karya Julie James ini, saya memunguti kepingan elemen atau pun pola yang juga digunakan Chrismor di MNSL. Meski perbedaannya cukup jelas: MNSL jauh lebih banyak memaparkan adegan hot dari pada Practice Makes Perfect. Untuk hal ini, saya pikir Chrismor sangat berani (ini suatu pujian).

Pola cerita yang mirip itu bisa saya jelaskan secara ringkas seperti ini: dua orang laki-laki dan perempuan awalnya saling membenci. Sebenarnya, mereka melakukan aksi "membenci" itu untuk menutupi kenyataan yang tersimpan dalam hati mereka masing-masing, bahwa mereka sebenarnya sudah saling menyukai. (Saya menekankan kata sudah karena hal ini terjadi sejak awal mereka bertemu--biasanya di adegan flashback.) Nah, kedua tokoh ini kemudian tercerahkan oleh bantuan sahabat mereka masing-masing, yang lalu mengubah cara pikir mereka. Si laki-laki yang awalnya bertingkah "bajingan", mulai berubah. Si perempuan yang awalnya jual mahal, juga mulai mengakui perasaannya. 

Nah, kalau dalam MNSL, Chrismor merekacipta dongeng Beauty and the Beast, dalam Practice Makes Perfect, Julie James (agak) merekacipta Pride and Prejudice.

***

Delapan tahun bekerja sebagai pengacara di firma hukum bergengsi di Chicago, Payton Kendall dan J.D. nyaris tak pernah melewatkan sehari pun untuk saling mengejek, saling mencibir--yah, pokoknya saling berkompetisi. Rivalitas mereka berdua mencapai puncaknya setelah mereka berdua sama-sama hampir mencapai puncak karier: tinggal menunggu pengangkatan sebagai partner. Awalnya, semua berjalan baik-baik saja, lantaran meski bermusuhan, Payton dan J.D. tak pernah ditugaskan untuk kasus yang sama, Masuk akal, sih, karena konsentrasi mereka sangat kontras: konsentrasi J.D. adalah class-action (kasus-kasus besar, banyak penggugat, banyak distrik), sedangkan Payton di hukum ketenagakerjaan (satu penggugat, diskriminasi ras dan jenis kelamin, kerusakan kecil, publisitas besar). 

Nah, sialnya, beberapa minggu sebelum pengumuman pengangkatan partner, Ben, bos mereka berdua, mengumumkan bahwa ada perubahan peraturan. Hanya akan ada satu orang saja yang diangkat menjadi partner. Orang yang tak terpilih, sila hengkang dari sana dan selamat memulai karier pengacara dari awal lagi di firma hukum yang lain. Kejam, eh? Baik Payton maupun J.D. sama-sama percaya diri akan kapabilitas masing-masing, sebelum sebuah kasus besar mengharuskan mereka bekerja sama. Sebuah kasus diskriminasi terbesar yang pernah diajukan, yaitu kasus diskriminasi kelamin, yang merupakan gugatan dari 1,8 juta pegawai perempuan perusahaan Gibson.

Well, meski bermusuhan, mereka tetap harus terlihat memiliki hubungan yang baik di depan bos dan klien, dong! Padahal sebenarnya mereka sedang perang, sampai-sampai melakukan keusilan kotor pada satu sama lain. Siapa sangka, kerja sama antara Payton dan J.D. itu benar-benar mengubah hubungan di antara keduanya. Jangan lupa, pengangkatan partner masih menghantui!

***

Karakter yang Modern dan Loveable


Payton dan J.D. sama-sama sosok yang cerdas, pengacara yang hebat dalam bidang masing-masing, dan sama-sama arogan. Julie James menghidupkan dua karakter ini hingga terasa benar-benar nyata. Keduanya memiliki karakter yang menarik dan loveable.

Anggapan Payton tentang J.D.

Payton selalu menganggap J.D. hanyalah pria beruntung dengan latar belakang keluarga kaya (ayahnya adalah seorang hakim), sehingga pencapaiannya tak cukup mengesankan Payton. Yah, meski sebenarnya dalam lubuk hati paling dalam yang tersembunyi dari lirikan mata J.D., Payton mengakui bahwa J.D. adalah pria yang menawan.

Anggapan J.D. tentang Payton

Sementara itu, J.D. selalu dengan senang hati mencibir feminisme Payton. Yah, meski sebenarnya dalam lubuk hati paling dalam yang tersembunyi dari bibir sarkas Payton, J.D. mengakui bahwa rok pendek ketat dan kaki Payton yang bertumpu pada high heels itu tak bisa diabaikan.

Anggapan Payton tentang dirinya sendiri

Ia menjalani prinsip hidup yang mungkin agak tidak lazim di kalangan wanita-wanita modern AS, berkat asuhan ibunya yang adalah "ibu tunggal yang mantan hippie, yang kehidupan sosialnya seradikal yang memungkinkan dalam batasan hukum (setidaknya, seringnya begitu)" (hal. 48). Payton adalah seorang vegetarian, feminis, sarkas, dan blak-blakan. Persahabatannya dengan Laney pun agak unik, karena karakter Laney sangat berlawanan dengannya. "Keduanya tidak bisa lebih berlawanan dalam spektrum sosial/politik." (hal. 48), dan Payton menganggap kesantunan-dan-kekakuan Laney menarik.

Payton harus bekerja keras melawan J.D. karena sebagai laki-laki, J.D. memiliki satu keuntungan di dunia firma-firma hukum yang kolot, di mana "pengacara wanita masih harus bersaing dengan 'jaringan kawan pria lama'" (hal. 13).

Selain cerdas, Payton adalah pekerja keras dan mampu mengendalikan situasi seburuk apa pun. Karakternya yang terakhir ini adalah favorit saya, seperti dalam tragedi "pantat Payton yang terpampang di persidangan" akibat ulah J.D. Meski malu setengah mati, Payton berhasil menguasai kembali situasi, sehingga para juri dan seisi ruang sidang bersimpati padanya. Ini kemampuan yang luar biasa, yang belum saya miliki sampai saat ini. 

Meski begitu, tak jarang Payton melakukan hal konyol. Contohnya, saat ia curhat pada Laney tentang kronologi bagaimana ia "tidur" dengan J.D. secara agak vulgar, tanpa mengetahui bahwa di dapur Laney sedang ada Nate (suami Laney) dan lima pria lain, yang telah mendengar semuanya (hal. 342-45).

Anggapan J.D. tentang dirinya sendiri

Memang, keluarganya berada, sehingga tak jarang orang-orang menganggap keberhasilannya tidak mengesankan. Padahal, semua adalah hasil kerja kerasnya! Siapa yang tiba di kantor paling pagi? Tentu saja J.D.! Pria lulusan Harvard Law School ini bahkan menolak bekerja di bawah bayang-bayang nama ayahnya, sehingga memilih jalur reguler untuk menjadi pengacara di firma hukumnya sekarang.

Selain urusan pekerjaan, J.D. memang jarang "serius". Oleh karena itu, ketika sekalinya ia melakukan "keseriusan", Tyler, sahabatnya, mempertanyakannya.

Tyler: Jangan tersinggung, J.D., tapi tidakkah itu terlalu serius untukmu?
J.D.: Aku sudah berhasil menjadi luar biasa dangkal di hampir seluruh aspek kehidupanku yang lainnya. Kurasa ini menyeimbangkannya. 
(hal. 370)

J.D. bukan jenis pria romantis. Di saat semua orang sepertinya pernah membaca Pride and Prejudice, pengetahuannya tentang novel klasik legendaris itu nol besar. Padahal, kata Tyler:

"[...] para wanita menggilai buku itu. Dan bahkan lebih menggilai para pria yang telah membacanya." (hal. 235)
Nah, buku ini ternyata malah menjadi titik balik perubahan sudut pandang dan sikap J.D. terhadap Payton dan hubungan mereka berdua! Semuanya bermula dari nasihat seorang sopir taksi:

"Karena semua orang tahu Darcy tidak mendapatkan Lizzie hanya karena bersikap baik... Begini, semuanya soal Sikap Rela Berkorban. Begitulah caramu mendapatkan gadis itu." (hal. 238)
Lucunya, ketika secara tak sengaja Payton menangkap basah J.D. sedang membawa buku Pride and Prejudice, gadis itu langsung nyeletuk:
Payton: Ya. Itu salah satu favoritku.
(hal. 288)
Hmm, ternyata benar kata Tyler di awal tadi! Hahaha. J.D. kemudian menyimpulkan bahwa secara tidak langsung karakter Payton mirip dengan karakter Lizzie (tokoh perempuan utama dalam Pride and Prejudice).

***

Witty Dialogues and Naturally-Flowing Plot


Salah satu karakter contemporary romance adalah tokoh-tokoh modern yang berbicara dengan gaya dialog cerdas, dan terus memerangkap pembaca dengan alur yang mengalir lincah. Ketika membaca ini, saya benar-benar terasa "dikuasai cerita". Sebentar saja meletakkan buku ini untuk melakukan hal lain, pikiran saya kembali teralih ke cerita selanjutanya antara Payton dan J.D. Saya yakin, dialog-dialog cerdas dan (terkadang) penuh humornya berperan besar dalam hal ini. Berikut ini adalah salah satu contoh dialog Payton--Laney, yang makin menegaskan berlawanannya karakter mereka berdua. 

Payton: Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman, Laney. Kurasa menjadi seorang yang konservatif berarti kau tidak meyakini adanya kebebasan berbicara.
Laney: Jangan memulai keangkuhan liberalmu--tentu saja aku meyakini kebebasan berbicara.
Payton: Kalau begitu harusnya aku boleh mengatakan apapun yang kumau, kan? Bahkan kata 'penis'?
(hal. 49)
Ucapan-ucapan sarkas yang canggih, yang dilontarkan ibu Payton, yang memang hobi nyinyir itu, membuat saya tertawa.

"Yah, biasanya aku akan memberitahu kalau 'hanya pakaian kerja'-mu itu bisa saja memberi makan sepuluh gadisku selama seminggu." 
"Karena itu aku tak akan mengatakan kalau seekor sapi harus mati untuk membuat dompetmu."
(hal. 209)
Karena contemporary romance memang biasanya berakhir bahagia, saya tak kaget ketika mendapati ending yang seperti itu, meski ada elemen penyelesaian sengketa yang unik di sini. Ingat, kan, kalau konflik utamanya adalah perubahan peraturan yang memutuskan bahwa hanya satu di antara Payton dan J.D. yang akan diangkat jadi partner? Nah, kecerdikan J.D. berperan dalam mengubah sudut pandang mereka berdua, untuk tak lagi bersaing, tapi bekerja sama. Saya tak akan menulis lebih detail lagi tentang ini, takut spoiler. Hehehe.

***

Meski ada ketidaksempurnaan dalam penerjemahan dan penerapan EYD, secara keseluruhan novel ini sangat mudah dinikmati. Yah, selain itu juga menimbulkan efek delusional dan perasaan "I need romance" yang tiba-tiba berkecipak setelah membaca ini. Hahaha. Bacaan yang menghibur, meski kalau terlalu sering membaca novel jenis ini, mungkin saya akan bosan juga akibat plot tipikalnya.

"Cari tahu apa yang kauinginkan." (hal. 240)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets