28 January 2016

[Resensi MEET LAME] In Between


Judul: Meet Lame
Penulis: Christian Simamora
Editor: Prisca Primasari
Penerbit: Twigora
Cetakan: I, November 2015
Tebal: viii + 296 halaman
ISBN: 978-602-70362-4-6
Harga: Rp 88.800,00 (Bukupedia)
Rating saya: 2/5
Meet Lame adalah buntelan pertama di tahun 2016 yang saya dapat dari giveaway. Rasanya seperti terlempar ke masa lalu, saat saya memburu Marry Now, Sorry Later, dengan selalu meninggalkan jejak di setiap giveaway dalam rangkaian blog tour. Usaha saya berbuah manis waktu itu, sekaligus mengantarkan saya untuk pertama kali ke dalam rengkuhan contemporary romance a la Bang Ino. Sekali baca MNSL, saya langsung suka dengan gaya bercerita si Abang. Makanya, waktu tahu si Abang ngeluarin novel baru lagi (gila, si Abang produktif banget, ya), saya langsung berburu giveaway dalam acara blog tour-nya. Hehe.

 I love you. You love her. He kissed me.

Si Aku, entah apa yang direncanakan oleh si penulis bernama Christian Simamora itu terhadap hidupnya, yang tiba-tiba berubah drastis akhir-akhir ini. Bagaimana tidak? Dulu semasa sekolah ia pernah mengagumi seorang cowok, Janiel Wiratama, tapi cowok itu tak pernah lebih menganggapnya sebagai seorang teman yang rajin menawarinya cemilan di dalam kelas, mengerjakan tugas Geografi, dan yang paling sering adalah tugas Bahasa Indonesia.
"Dan apa balasan yang kudapat sebagai ganti membantunya? Yang jelas bukan materi. Aku nggak hanya diperdaya olehnya, aku juga hanya dikasih senyuman. SENYUMAN! Sama, euh, pernah sekali deng pake ucapan terima kasih DAN Janiel menggenggam tanganku sekitar lima, sepuluh detik-an gitu. Nggak worthy banget kan? Kan?" (hlm. 29)
Lantas saat ini, ketika si Aku sedang sibuk "mengasuh" toko pakaian online-nya di Facebook, tiba-tiba Janiel muncul dalam bentuk pesan melalui Facebook Messenger. Apa sebenarnya yang cowok itu mau? Ternyata, Janiel minta diajari cara berbisnis online dengan sistem magang di rumah si Aku. Oleh karena sikap lembut, kegantengan, dan keseksian Janiel, si Aku telanjur berharap lebih. Tak tahunya, hatinya tergerus tak tanggung-tanggung, ketika mengetahui bahwa Janiel kini sudah punya pacar, Putri.

Lain halnya dengan Daniel. Jika Janiel tidak pernah melihat si Aku lebih daripada seorang teman, si Daniel ini lebih kejam. Si Aku dan Daniel dulu bertetangga, sebelum cowok itu pindah ke Singapura bersama keluarganya dua tahun yang lalu.
"Daniel adalah orang terakhir di muka bumi ini yang pengen aku ajak bernostalgia." (hlm. 93)
Mengapa si Aku begitu tak inginnya bertemu kembali dengan Daniel? Penyebabnya adalah apa yang terjadi di hari perpisahan mereka berdua dua tahun yang lalu.
"Hari itu, di hari perpisahan itu, aku melakukan sesuatu yang percuma juga untuk aku sesali. Daniel Kevin Vincensius--itu nama panjangnya--mencuri ciuman dan keperawananku pada hari yang sama. Dan meninggalkan Indonesia beberapa jam kemudian." (hlm. 95)
Bisa bayangin, kan, bagaimana perasaan si Aku pascakepergian Daniel? Dan sampai dua tahun kemudian, mereka tak saling bertukar kabar. Tak heran, si Aku begitu kalap, sampai-sampai menyebut ibunya si Ibu Tiri, lantaran beliau-lah yang memberi kabar bahwa Daniel akan ke Indonesia dan selama itu, beliau meminta si Daniel tinggal di rumahnya. Di rumahnya, yang, saat itu hanya ditinggali si Aku seorang diri, karena orang tuanya sedang menghabiskan waktu bersama cucu pertama mereka di rumah sang kakak. Jelas, si Aku tidak akan membiarkan dia hanya tinggal berdua dengan Daniel. Muncullah ide (nggak) cemerlang di otaknya: meminta tolong Janiel untuk datang ke rumah dan pura-pura jadi pacarnya. Gawatnya, Janiel terlalu mendalami peran bohongannya, dan tanpa ragu mencium si Aku di depan Daniel. Gawat bagi jantung si Aku, pun gawat bagi nyawanya. Bagaimana jika Putri melabraknya?

Belum selesai, lho ini. Di satu sisi, si Aku (dengan mudahnya) terjebak lagi oleh tingkah Daniel yang hobi nyosor (baca: nyium-nyium nggak tahu diri, tapi nggak pa-pa deng, soalnya ganteng dan seksi, jadi diampuni). Di sisi lain, si Aku harus memberi jawaban pada Janiel, yang tiba-tiba putus dengan Putri dan menyatakan perasaan padanya. Rumitnya lagi, si Putri yang habis diputusin, malah curhat ke si Aku. Jalan mana yang akan si Aku pilih?

Dulu, si Aku bahkan tidak dilirik oleh Janiel. Sekarang, dua lelaki hot memperebutkan hatinya.

***

Meet Lame bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!). 

Saya ingin mengawali resensi ini dengan fakta-fakta menarik di balik penulisan Meet Lame. Kalau kalian sudah tahu, tetep jangan dilewatin, ya bagian ini #plak.


Nah, saya ingin menambahkan keterangan untuk beberapa poin fakta tersebut.
1. AWALNYA saya nggak ngerti apa itu "meet cute", for I have been so lame. But thank's Larry and Sergey, there is almost nothing that we can't find by Googling it (if only I can find my Mr. Right there too #lol). Jadi, "meet cute" adalah adegan fiksi saat kedua tokoh--yang nantinya akan jadi pasangan--bertemu pertama kali. Pertemuannya itu bisa manis, menghibur, nggak biasa, atau seolah sudah ditentukan oleh alam semesta. Nggak hanya fiksi ternyata, pasangan-pasangan di dunia nyata pun ada yang mengalami ini (coba baca ini). 
Nah, karena novel ini judulnya "meet lame", bisa ditafsirkan bahwa kejadian pertemuannya berkebalikan dengan "meet cute". Pertemuan kembali si Aku dan Janiel dilatarbelakangi keinginan si cowok untuk belajar bisnis. Pertemuan kembali si Aku dengan Daniel malah sangat nggak cute, karena si Aku sangat menghindarinya. Kedua pertemuan ini juga nggak kayak "seolah sudah digariskan alam semesta" (nggak kayak pertemuan Sara dan Jonathan di film Serendipity).
2 dan 5. SAYA mengapresiasi keberanian Bang Ino untuk keluar dari comfort zone dalam hal penggunaan sudut pandang cerita. Apalagi Bang Ino teguh dan sangat berhati-hati hingga berhasil tetap menjadikan si Aku tak bernama sampai akhir cerita. Dengan si Aku tak bernama ini, Bang Ino bisa membuat para pembaca (terutama cewek jomblo, ups, single kayak saya) makin delusional karena seolah memosisikan si Aku sebagai diri sendiri.
3. KALI ini Bang Ino menggambarkan tokoh utama ceweknya nggak se-perfect biasanya. Si Aku digambarkan sebagai cewek overweight, yang kalau lagi galau, nggak segan-segan makan Indomie pukul satu pagi. Profesi si Aku bikin dia terasa sangat membumi (hayoo, berapa dari kalian yang juga jualan online?). Nah, sebagai gambaran, berikut ini adalah cast para tokohnya.
Si Aku: Denise Bidot.
Siapa bilang kalau overweight nggak cantik?




Janiel: Ryan Lanteigne. Awww, awww, awww >//<

Daniel: Dimitris Alexandrou. Hmm, lebat, ya >//<
MEMANG, ilustrasi, layout, dan kover novel-novel Bang Ino selalu menarik. Namun ilustrasi tokoh si Aku kurang mencerminkan bahwa dia overweight. Inilah sebabnya, saya kurang bisa mengimajinasikan sosok si Aku. Baru bisa bayangin setelah saya Googling Denise Bidot (which is too late, cos when I wrote this review).

Mungkin menurut saya aja, ya, kalau ilustrasinya kurang overweight, hehe.
KARENA novel Bang Ino yang pertama saya baca adalah MNSL, dengan segala konflik kompleksnya yang saya sukai itu, ketika membaca Meet Lame saya semacam jetlag. Mungkin karena memang Bang Ino sengaja menulis novel ini dengan storyline yang ringan dan simple... Namun, sebagai pembaca yang banyak maunya #plak, saya kurang puas dengan storyline yang shallow seperti ini. Para tokoh utamanya sudah berumur hampir kepala tiga, tapi konfliknya sekelas novel teenlit.
Konflik mayor: si Aku bingung memilih Janiel atau Daniel. Namun, menurut saya, kadar "bingung"-nya kurang, lantaran dua pilihan itu sama sekali nggak sulit dipilih. Saya sudah tahu dari awal siapa yang akan dia pilih, lantaran di dalam cerita sendiri, si Aku sudah mengisyaratkan tendensinya ke mana.
Konflik minor: si Putri melabrak si Aku, which is, seperti masa SMA, gitu nggak sih? Labrak-labrakan karena rebutan cowok. Wkwk.
Karakter si Aku terlalu hiperbolis (baca: lebay) dalam urusan percintaan, kayak baru pertama kali naksir cowok saat masih ABG, gitu. Padahal, kan, umurnya hampir tiga puluh tahun :'). Dia terlalu kegeeran dengan menganggap kebaikan Janiel sebagai benih-benih cinta, sebelum kemudian patah hati dengan tidak cantiknya saat tahu bahwa Janiel sudah ber-Putri. Namun, saya menyukai sisi percaya dirinya, jiwa entrepreneurship-nya, dan gaya berceritanya yang ceplas-ceplos.
Karakter Janiel kurang dekat dengan pembaca (a.k.a. saya). Mungkin ini efek samping penggunaan sudut pandang orang pertama, ya? Saya merasa dia orang yang... yah, biasa-biasa aja. Kurang berkesan di benak saya. Untunglah, dia ganteng, seksi, dan baik banget cenderung polos. Polosnya, dia langsung mau dan nurut-nurut aja saat si Aku minta bantuannya untuk menjadi pacar palsu. Polosnya lagi, waktu nginep di rumah si Aku, dia nggak berani ngasih tahu Putri. Padahal, si Aku sudah mewanti-wantinya untuk memberi tahu Putri dulu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. 
Karakter Daniel lebih menancap di benak saya ketimbang Janiel. Mungkin karena sifatnya yang seenaknya sendiri, semacam bad boys, dan agresif. Atau mungkin juga karena adegan ciumannya dengan si Aku jauh lebih banyak dan lebih hot ketimbang waktu ciuman dengan Janiel. Haha. Namun, secara nggak sadar, karena adegan keintimannya dengan si Aku lebih banyak ketimbang dengan Janiel, saya jadi mengasumsikan bahwa Daniel lebih kuat posisinya di hati si Aku. Apakah benar begitu? Hiyaaa, nggak mau spoiler, ah. Apalagi, si Aku dan Daniel kalau ngobrol pake "aku-kamu", sedangkan kalau sama Daniel pake "gue-elo". (Nggak mau spoiler, tapi tetep....)

Ups, ada satu lagi karakter yang saya demen: Ibu si Aku, yang suka iseng dan seenaknya sendiri. Haha. Kayaknya asik punya ibu kayak dia.
Mungkin, salah satu kekurangan yang saya rasakan adalah absennya sosok sahabat si tokoh utama. Karena tiap baca contemporary romance (eh, bentar, novel ini termasuk contemporary romance, kan? Atau nggak?), saya terbiasa dengan susunan tokoh utama plus sahabat dekatnya, yang kadang malah lebih saya sukai ketimbang si tokoh utama :').

Alurnya simpel, untuk mengakomodasi storyline yang juga nggak kompleks. Alur maju dan sedikit kenangan masa lalu yang muncul di ingatan si Aku, berpadu dengan gaya narasi si Aku yang lincah dan ceria, novel ini mudah sekali dilahap. Namun, saya merasa kadang ada bagian alur yang bolong, seperti saat tiba-tiba Janiel jatuh cinta dengan si Aku. Terlalu cepat, menurut saya. Sampai di bagian yang saya kira sudah tamat, saya hendak protes,  "Lho, udah, cuma gitu?". Eh, ternyata masih ada epilog, dengan scene terakhir yang malah jadi favorit saya. 

'Heartbreak's never easy to take. But can we still be friends?'
(Can We Still Be Friends? - Todd Rundgren)
Saya menemukan keanehan pada timeline cerita. Saat bercerita, si Aku berusia 29 tahun. Si Aku dan Dani bertemu kembali setelah dua tahun Dani pindah ke Singapura. Berarti, saat Dani pergi, si Aku berumur 27 tahun. Saat itu (saat ia 27 tahun), si Aku bilang bahwa dia dan Dani telah 7 tahun hidup bertetangga, berarti mereka mulai bertetangga saat si Aku 20 tahun. Tapi, ada satu momen ketika ibu si Aku nyeletuk bahwa dulu waktu kecil si Aku dan Dani pernah mandi bareng telanjang (eh maaf, agak lupa, mandi atau hujan-hujanan bareng, ya?). Jadi bagaimana caranya bisa ada kenangan masa kecil antara mereka berdua? Hmm, atau mungkin "7 tahun bertetangga" itu nggak terjadi secara beruntun, mungkin 2 tahun bersama waktu kecil, lalu 2 tahun lagi waktu remaja, lalu sisanya sampai Dani pindah. Namun, kalau begitu, masa mereka hidupnya pindah-pindah, kan nggak lagi merantau di gurun pasir.

Salah satu ciri khas tulisan Bang Ino adalah, dia mampu memanfaatkan elemen-elemen mikro sebagai pendukung cerita yang cukup nampol. Contohnya, dalam novel ini yang saya sukai adalah analogi yang digunakan si Aku tentang keledai.
"Terluka karena hal yang sama untuk kedua kalinya itu sakitnya dobel lho--yang satu didapat dari perih yang dirasakan, satu lagi karena rasa malu punya kesadaran di bawah keledai, mengingat binatang itu nggak sudi jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya." (hlm. 236)
Dan, tentu saja, ide-ide unik Bang Ino untuk mencipatakan istilah-istilah baru yang lucu, seperti kisslag.


Secara keseluruhan, saya cuma bisa memberi rating 2 bintang ^^. Terakhir, berikut ini saya sertakan video klip soundtrack novel ini.


"Temen gue bilang, sakitnya bukan main. Tapi mungkin itu proses yang harus dia jalani kalo mau bahagia. Jadi, dia memang nggak baik-baik saja sekarang. But she will be." (hlm. 86)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets