8 April 2016

[Resensi DISTANCE BLUES] Hubungan Terserak Jarak dan OCD di Kepalanya

Judul: Distance Blues
Penulis: Agustine W.
Editor: Diara Oso
Penerbit: PING
Cetakan: I, 2016
Tebal: 288 halaman
Harga: Rp 44.000,00
Rating saya: 3/5

 

PLOT SUMMARY


Sepintas, Elmi terlihat memiliki hidup yang sempurna. Keluarga yang mencintainya, meski terkadang menyebalkan. Mama yang dominan. Papa yang bisa santai dan tegas sesuai kebutuhan. Ersa, adik yang suka semaunya. Dirga, sang kekasih yang mungkin adalah pria idaman setiap wanita: tampan, cerdas, pekerja keras, serta hot and cold (kadang bersikap manis, kadang cool). Pekerjaan yang terbilang sudah cukup mapan sebagai supervisor HR merangkap bagian General Affair di sebuah department store bergengsi di Surabaya. Sahabat yang ceria dan blak-blakan, si penjual pakaian, Laras. Namun, perlahan benih-benih kekacauan tumbuh di kehidupan Elmi. Mulai dari kecemasan berlebihan yang berputar-putar di otaknya, apakah tadi dia sudah melakukan salat dengan benar, apakah ada rakaat yang terlewati. Ia pun jadi menghabiskan waktu terlalu lama di toilet, untuk mencuci tangannya sampai berkali-kali, mencuci ujung roknya yang terkena cipratan air toilet, membersikan gelangnya yang terjatuh di lantai dengan tisu basah berulang kali... Semuanya karena ia takut barang-barangnya jadi najis. Elmi bahkan tidak pernah menonton di bioskop lantaran ia takut akan isu jarum bekas ODHA, yang sempat ramai dibicarakan pada tahun 2006. Ia lantas berkonsultasi dengan Bu Nurul, dosennya semasa kuliah psikologi dulu, tentang gejala-gejala tersebut. Bu Nurul memastikan dugaan Elmi benar, bahwa ia menderita OCD.

Elmi berusaha menyembunyikan perubahan cara berpikir dan bersikapnya ini, tapi orang-orang terdekatnya tetap bisa merasakan perubahan. Mama sampai bilang bahwa mungkin Elmi terkena gangguan jiwa, yang membuat Elmi marah ketika tidak sengaja mendengarnya. Ia marah karena tak bisa dipungkiri, pola pengasuhan Mamalah yang menyebabkan ia menderita OCD. Sejak kecil, Mama selalu menuntut yang sempurna dari Elmi, sehingga hal itu terbawa alam bawah sadar hingga dewasa.

Hubungan jarak jauhnya dengan Dirga juga sedang terombang-ambing. Dirga sedang menjalani serangkaian pelatihan kerja di luar kota, bahkan luar negeri, sehingga mereka jarang bertemu. Belum lagi, waktu di Singapura, Dirga satu pelatihan dengan Firda, perempuan masa lalu Dirga. Dulu, Firda menolak cinta Dirga, tapi sekarang terlihat gelagatnya untuk mencoba mendekati Dirga lagi. Sementara itu, Elmi semakin dekat dengan Rasyad, pemilik restoran Timur Tengah yang memiliki gerai di department store tempat Elmi bekerja. Chef yang cukup terkenal dan sangat tampan dengan wajah kearab-araban itu menunjukkan secara blak-blakan bahwa ia menyukai Elmi. Meski Elmi sudah memperingatkan bahwa hatinya hanya untuk Dirga, Rasyad tidak menyerah, tapi ia juga tak melewati batas.

Elmi memang masih merahasiakan OCD-nya pada Dirga, karena ia takut lelaki itu akan menjauhinya karena ia 'aneh'. Rasyad, yang tahu tentang OCD-nya, membantunya untuk lebih 'santai' dalam menghadapi hidup. Masalah menjadi makin rumit ketika tanpa diketahui Elmi, Dirga melabrak Rasyad. Ada orang sirik yang mengadukan kedekatan Elmi dengan Rasyad pada Dirga. Yah, meskipun Elmi juga tak bisa dibenarkan karena sempat tergoda oleh ketampanan dan perhatian Rasyad.

Pada akhirnya, akankah Elmi sanggup menenangkan pikiran OCD-nya? Dan, siapakah yang Elmi pilih, Dirga atau Rasyad?

REVIEW


Distance Blues bergenre romance drama, bertemakan long distance relationship. (Kelihatan dari judulnya, kan?) Sekilas, terlihat biasa saja novel ini (kecuali kovernya yang colorful dan gambar orangnya bagus--sebelum-sebelumnya gambar orang di kover buku-buku Divapress Group sering kurang bagus, maklum, ini Mbak Desainernya baru). Namun, setelah membaca halaman demi halaman dan tenggelam dalam pusaran pikiran sarat kecemasan Elmi, saya tahu novel ini bukan sekadar novel romance biasa.

Kekuatannya jelas ada di penokohan Elmi. Karakter Elmi sangat kuat, paling kuat di antara tokoh lainnya (jelas, soalnya dia tokoh utama). Dengan detail, penulis mampu menggambarkan cara berpikir Elmi yang penuh dengan kecemasan, melakukan suatu hal berulang kali, lebay pokoknya, hingga menghantui pembaca. Begitu kuatnya pemikiran Elmi memengaruhi saya, hingga saya kesal. Pengin sekali saya nyemprot Elmi, "Oi, Mbak, nyantai dikit, napa?", saking gemasnya. Dari tokoh Elmi, saya menyadari sangat tidak enaknya menderita OCD. Berbahagialah saya, yang meski kadang perfeksionis, seringnya selow.

Karakter Dirga dan Rasyad bikin agak delusional. Dua-duanya punya fisik menawan (meski Rasyad lebih tampan dan Dirga lebih tinggi) dan mapan. Dirga jarang mengekspresikan perasaan; menurut saya lebih sering cool ketimbang hot. Lebih sering lempeng ketimbang bermanis-manis. Waktu berjauhan saja, dia sering tidak mengangkat telepon ataupun membalas pesan Elmi lantaran sibuk. Belum lagi, kepesimisan Ersa dan Laras akan kesetiaan Dirga pada Elmi. Pasalnya, sebelum menjalin hubungan dengan Elmi, Dirga seorang playboy. Apalagi ketika bertemu lagi dengan Firda, yang sekarang berubah haluan gantian mengejarnya, bisa jadi Dirga lupa daratan. Tapi, Elmi dan Dirga sebenarnya mirip; sama-sama workaholic dan perfeksionis.

Nah, kemunculan Rasyad pastilah merupakan embusan kehangatan sekaligus kesegaran bagi Elmi. Sosoknya yang tanpa ragu mengekspresikan perasaan, lebih ceria, dan perhatian, membantu Elmi untuk menenangkan semut-semut OCD dalam kepalanya (pinjam istilah Mbak Anggun Prameswari dalam cerpen "Wanita dan Semut-semut di Kepalanya") dan menikmati hidup. Dalam alur novel ini, lebih banyak kedekatan Rasyad-Elmi yang mendapat porsi, daripada Dirga-Elmi, karena memang saat itu Dirga sedang berada di Singapura, lalu nyamperin Elmi sebentar sebelum ke Bali.

Para tokoh antagonis, seperti Sinta dan Firda, juga Mama, meskipun sebelumnya bertingkah menyebalkan, saya lega pada akhirnya penulis membuat mereka mengakui kesalahan. Saya juga lega, penulis menyelesaikan semua konflik dengan elegan, tanpa sok nge-drama-queen.

Alur novel ini berlangsung secara progresif, dengan sedikit selipan flashback melalui pikiran para tokohnya. Sudut pandang penceritaan yang digunakan adalah orang ketiga terbatas, paling sering dari sudut pandang Elmi.

Cerita berlangsung dengan setting di Surabaya, lebih spesifiknya di department store tempat kerja Elmi, di rumah Elmi, rumah Dirga, ruang dosen Bu Nurul, rumah Bu Nurul, tempat yoga... Adegan mengharukan adalah ketika Elmi berdamai dengan Mama (hlm. 238-241).
"Tidak ada pernyataan cinta yang paling melemahkan selain pernyataan cinta orang tua kepada anaknya." (hlm. 240)
Melalui novel ini, penulis hendak menyampaikan pesan kepada pembaca, terutama para calon orang tua: jangan sampai pola asuh menjadikan anak menderita. Selain itu, penulis juga mengingatkan kita bahwa selalu ada dua sudut pandang dalam sebuah hubungan antara dua orang. Masalah akan terselesaikan kalau kita sudah mencoba melihat dan memahami sudut pandang yang lain.

Tiga bintang untuk Elmi yang berhasil bikin saya kesal sekaligus empati dengan OCD-nya :).
Reaksi:

2 comments:

  1. Mungkin kisah Elmi dan Mamanya yang akan menjadi alasan saya akan membaca buku ini nanti. Kalau romance-nya, saya kok kurang yakin akan manis ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, memang nggak terlalu dieksplor "manis"-nya romance Elmi dan dua cowok itu, sih, lebih ke perjuangan Elmi menghadapai OCD-nya ;)

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets