31 October 2014

[Resensi "RINDU" - Bagian 2] Nusantara Versi Mini



(Sebelumnya, bagian 1)

Buku ke-13 karangan Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika ini masih mengusung tema yang selama ini selalu digarap beliau, tentang kehidupan nyata dengan segala macam aspeknya. Kali ini, bagian dari kehidupan yang ingin diolah beliau adalah seputar kerinduan yang dipadukan dengan sejarah bangsa Indonesia. Awalnya, ketika membaca sinopsis yang terukir di punggung putih buku itu, saya mengira akan menjumpai kisah cinta antara sepasang manusia lelaki dan perempuan. Hah, tentunya saya terlalu picik menilai arti kata “rindu”. Meskipun ternyata salah satu dari lima kisah di dalam novel ini memang tentang kisah cinta antara seorang pemuda dan gadis yang dicintainya, tapi tema besarnya adalah kerinduan para calon haji di atas kapal itu untuk menginjak Tanah Suci dan menatap Ka’bah.

Sebenarnya, tema kisah ini sederhana. Tentang sebuah perjalanan panjang menaiki kapal. Hanya saja, jika diolah oleh seorang penulis berpengalaman, maka tema ini menjadi terasa spesial.

Mengapa sedemikian besar rasa rindu untuk naik haji di zaman itu—pada masa penjajahan Belanda?
Dijelaskan oleh sang penulis, bahwa di masa itu, biaya untuk naik haji sangatlah mahal, ditambah lagi dengan berbagai risiko yang menghadang selama perjalanan panjang. Sekarang, naik pesawat dari Jakarta ke Jeddah (hanya) membutuhkan waktu sembilan jam. Namun, pada masa itu, dibutuhkan waktu 30 hari naik kapal. Haduh, baru sekali saja saya naik kapal dari Pontianak ke Semarang selama 36 jam, dan menurut saya itu sudah super sekali goncangannya, mengena di hati dan perut, tentunya. Nah itu, bagaimana jika 30 hari berada di dalam kapal?


Nusantara Versi Mini
Mungkin saya akan tidak terlalu bosan jika sebelah kabin saya dihuni keluarga Daeng Andipati, terutama karena keberadaan Elsa dan Anna, yang pastinya mampu membuat suasana ceria. Elsa, yang selalu berusaha sok dewasa dengan mengatur dan memarahi adiknya. Tapi sebenarnya, dia gadis 15 tahun yang cerdas. Ia dapat menduga bahwa kapal sudah mendekati sebuah pulau ketika ia melihat burung camar beterbangan (halaman 103 akhir – 104 awal). Ia juga berhasil mengkhatamkan bacaan Alquran-nya di hari ke-28.

Lain dengan Anna, meski selalu berisik dan penuh rasa ingin tahu, ia adalah sosok bocah yang ramah dan menyenangkan. Cara berpikirnya yang polos seringkali membuat senyum saya mengembang. Terlebih ketika dia terlibat obrolan melelahkan yang penuh salah-paham dengan Mbah Kakung. Hehehe.
“Orang dewasa kenapa rumit sekali... kenapa mereka mencemaskan banyak hal (?)” – pikiran Anna (halaman 199)
Atau ketika Anna terjebak di antara kericuhan massa pasca pemberontakan pribumi di Surabaya. Meski habis hilang di tengah keramaian, Anna tetap saja memikirkan terus baju barunya yang untungnya tidak hilang. Dasar bocah, haha! (halaman 134)

Sebelumnya, ketika pertama kali penulis memperkenalkan kedua tokoh bocah ini, saya langsung curiga. Mengapa penulis menamai mereka Elsa dan Anna? Otak saya langsung menghubungkannya dengan film animasi Frozen, yang sempat menyabet sederet penghargaan festival film internasional. Tentunya Anda ingat, bukan? Tokoh utama dalam film itu adalah sepasang kakak-beradik, yang bernama Elsa dan Anna. Dalam film itu, kedua orang tua mereka meninggal di atas kapal di tengah laut. Nah, novel ini pun kisahnya mondar-mandir di dalam kapal di tengah laut. 

Hal kedua yang membuat saya curiga adalah, di zaman itu, mungkinkah pasangan suami-istri Bugis menamai anaknya dengan nama khas Eropa? Baru saja saya menelan pertanyaan itu, eh, penulis seolah bisa membaca isi kepala saya. Di halaman 72, saya dipuaskan oleh penjelasan Daeng Andipati tentang makna nama kedua putrinya.

Anna, berkat keceriaannya, bisa dibilang satu-satunya bocah yang dapat membuat Ambo Uleng tersenyum di hari-hari terberatnya. Ambo Uleng, pemuda bertubuh kuat dan berkulit legam khas seorang pelaut itu beberapa kali menolong Anna dan Daeng Andipati. Meskipun pendiam, tapi Gurutta tahu bahwa ia seorang pemuda yang berbudi baik.
“Dia tidak akan mau mengambil kesempatan hanya karena ada orang berhutang budi padanya.” – Gurutta (halaman 274)
Namun, Ambo patut bersyukur lantaran teman sekabinnya adalah Ruben, seorang kelasi senior yang ramah dan ceria. Ia selalu suka bercerita, meski Ambo hanya menanggapinya dengan diam (misalnya, di halaman 88). Selanjutnya, tokoh Ruben ini juga menjadi salah satu tokoh yang cukup sering muncul, terutama di adegan makan bersama malam-malam di kantin kapal bersama Gurutta. Malah, Ruben pernah menanyakan arti kebahagiaan sejati kepada Gurutta, yang sebenarnya juga ingin ditanyakan oleh Daeng Andipati.

Tokoh berikutnya, adalah Bonda Upe, yang memiliki masa lalu kelam. Awalnya, ia malu-malu menawarkan mengajar anak-anak mengaji, karena merasa bahwa pengalamannya masih teramat sedikit. Tapi, Gurutta tidak mempermasalahkan hal itu.
“Mata air yang dangkal, tetap saja tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. Tetap segar airnya.” – Gurutta (halaman 57)
Namun, parasnya yang cantik, suaranya yang lembut, dan perangainya yang kalem membuat anak-anak menyukainya, terutama Anna.

Mbah Kakung dan Mbah Putri yang baru muncul setelah kapal mencapai Semarang pun memberi warna baru dalam cerita. Warna kemerah-mudaan khas romantisme pasangan suami-istri. Meski sudah uzur, bahkan Mbah Kakung lebih tua daripada Gurutta, rasa cinta dan romantisme antara mereka berdua terlihat tak pernah surut. Sikap romantis dan penuh perhatian kepada pasangan ini memberi inspirasi tersendiri kepada para penumpang lain, tak terkecuali Daeng Andipati. Pria itu jadi lebih romantis terhadap istrinya, terutama untuk mengatasi penyakit “cepat marah, mudah cemas, gampang salah-paham” (halaman 266).

Gurutta sendiri, berari “guru kami” (seperti dijelaskan oleh penulis), memegang peranan penting dalam seluruh cerita ini. Bisa dibilang, sesungguhnya beliaulah tokoh yang benar-benar berada di pusat cerita. Seluruh pertanyaan yang diajukan padanya, akhirnya membuat beliau bertanya pada diri sendiri tentang jati dirinya. Jangan salah, seorang tua yang memilki banyak pengalaman, merupakan salah satu guru agama termasyhur di penjuru Nusantara itu pun pernah mengalami kebimbangan akan dirinya sendiri. Sehebat apapun terlihat, seseorang pasti pernah mempertanyakan kebenaran tindakannya selama ini. 

Aktivitas Gurutta tak melulu mengajar agama dan menulis buku. Beliau juga suka bermain dengan anak-anak, terutama Elsa dan Anna. Juga suka mengobrol dengan para penumpang lain. Yang paling sering, beliau mengobrol dengan Ruben, Ambo, Daeng Andipati, dan Chef Lars di kantin kapal, setiap ia datang terlambat makan malam. Seringkali, beliau juga terlibat pembicaraan dengan Kapten Phillips dan dua orang guru sekolah sementara di kapal, Soerjanto dan Mangoenkoesoemo. Gurutta merupakan sosok yang memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ketika Bonda Upe mengurung diri dalam kabin, setiap hari Gurutta menjenguknya, hingga wanita itu siap menemuinya. Betapa rendah hati guru ini. Benarlah pepatah ini: makin berisi, padi makin merunduk.

Satu sifat lain Gurutta yang saya sukai adalah ia tak suka berbasa-basi. Memang, ia bukan orang Jawa, jadi wajarlah tak suka basa-basi. Hehehe. Dan untuk urusan makanan, beliau mirip dengan saya. Ambil saja selagi ada, tak usah malu-malu. Haha. Toh, nantinya beliau juga membagikan makanan itu pada orang lain.
“Kau tidak basa-basi, kan? Karena jangan pernah menawari orang tua ini makan, aku akan ikut makan sungguhan.” – Gurutta (halaman 283)
Contohnya, ketika ia meminta makanan di ruang perawatan Ambo. Atau setiap kali ia datang ke kantin untuk minta diambilkan makanan atau dimasakkan oleh Chef Lars. Nah, sang koki kapal ini memang galak dan kata-katanya pedas. Tapi, di balik kulit tajam itu, ternyata tersimpan isi yang lembut. Pujilah masakannya—yang memang enak—dan ia akan menunjukkan sifat aslinya yang menyenangkan! Memang, Gurutta sangat ahli membangun relasi dengan siapa pun.
“Masakan lezat selalu membuat orang kembali.” (halaman 272)
Bukan hanya koki kapal. Melainkan sang kapten juga adalah orang yang menyenangkan. Kapten Phillips mungkin salah satu anomali bagi kebanyakan orang Belanda berjabatan tinggi. Ia tidak angkuh dan tidak memandang rendah para pribumi. Dengan prinsip egaliter yang dijunjungnya, ia menghargai semua penumpangnya.

Semua tokoh di atas bisa dibilang adalah tokoh protagonis. Sementara itu, ada satu tokoh antagonis, yang saya bayangkan tampilan fisiknya seperti penjahat konyol di film “Home Alone”—siapa lagi kalau bukan Sersan Lucas. Namun, tokoh antagonis ini pun di akhir cerita berubah haluan. Hei, siapa bilang kompleks cerita yang tidak dihuni oleh tokoh antagonis murni itu tak seru? Lagi pula, manusia memang merupakan sosok abu-abu, bukan?

A Journey Across The Seas