31 October 2014

[Resensi "RINDU" - Bagian 3] Menurut Saya ini Gado-gado


(Sebelumnya: bagian 1, bagian 2)
Bagaimana Penulis Menghidupkan Ceritanya
Cerita yang saling bertautan di atas kapal itu dituliskan oleh penulis dengan alur maju. Penulis menceritakan kejadian-kejadian secara detail pada bagian tertentu, dan sekilas saja, pada bagian lain yang tidak terlalu penting. Penulis yang baik tahu di bagian mana harus diberikan pemaparan lebih, mana yang tidak perlu.

Meskipun penulis menyodorkan banyak kota tempat transit, beserta segala suasana dan kebudayaannya, tetap saja, sebagian besar cerita bertempat di atas kapal. Namanya saja di atas kapal, pasti aktivitas berjalan secara rutin hingga mendekati “membosankan”. Misalnya saja, saya ambil contoh kasus aktivitas Anna. Pagi: bangun, shalat shubuh, mandi, sarapan, sekolah. Siang: selesai sekolah, makan siang, bermain, atau melakukan hal lain. Sore: belajar mengaji, menonton sajian pemandangan hewan laut (jika ada), bermain, singgah ke kabin Gurutta, kembali ke kabinnya sendiri, mandi. Malam: makan malam, membaca, tidur. Keesokan harinya, jika masih berada di tengah laut, aktivitas itu akan berulang kembali. 

Bahkan, mungkin saking hafalnya akan urutan aktivitas para penumpang, penulis tidak sengaja menulis kalimat yang sama dua kali.

“Di luar terik matahari menyengat ubun-ubun. Tidak ada yang berminat berdiri atau duduk di dek melihat pemandangan.” (halaman 144)
“Di luar terik matahari menyengat ubun-ubun. Tidak ada yang berminat berdiri atau duduk di geladak melihat pemandangan.” (halaman 154)
Dari kedua kalimat tersebut, perbedaan hanya terletak pada “dek” dan “geladak”.
  

Namun, penulis dengan lihai mengalihkan kebosanan pembaca dengan memunculkan beberapa teka-teki, yang dibuka petunjuknya sekeping demi sekeping. Tapi, menurut saya, ujung dari 5 teka-teki itu bisa saya tebak dengan cukup mudah, kecuali teka-teki si Ambo. Kebosanan pembaca yang mungkin muncul juga dapat diminimalisasi dengan membagi cerita menjadi bab-bab yang pendek. Salah satu hal teknis yang membuat saya betah membaca novel ini, ya, itu, bab-bab yang pendek. Hehehe.

Sayangnya, ini adalah kali pertama saya membaca novel Tere Liye, sehingga belum terbiasa dengan istilah-istilah islami yang sering digunakan penulis, dan tidak saya mengerti artinya. Mungkin penulis bisa membikin hal ini menjadi lebih general, sehingga pembaca yang awam dalam bahasa Arab dapat mengerti maksudnya. Atau, mungkin penulis memang ingin agar pembacanya lebih aktif mencari sendiri arti istilah-istilah tersebut, seperti masbuk dan Qari. Dari melihat konteks kalimatnya, saya bisa mengira bahwa masbuk berarti “terlambat”. Sementara itu, Qari ternyata adalah orang yang mendeklamasikan Alquran dengan kaidah pengajian yang tepat (Wikipedia).

Saya juga mengapresiasi teknik yang digunakan penulis untuk menjelaskan arti bahasa Belanda yang sering digunakan dalam cerita. Alih-alih menggunakan catatan kaki, penulis memilih menjelaskan secara implisit melalui narasi. Dengan begitu, pembaca tidak merasa dianggap bodoh, bisa menangkap sendiri artinya berdasarkan konteks. Saya pernah membaca suatu novel sejarah dengan istilah bahasa Belanda bertebaran, dan si penulis sering mengulang catatan kaki yang berisi arti istilah-istilah tersebut. Saya jadi merasa sedikit terganggu dan dianggap pelupa atau bodoh oleh penulis. Hohoho. Tapi, sayangnya, ada beberapa istilah yang oleh Tere Liye tidak dijelaskan artinya sama sekali. 

Pemilihan menulis dengan sudut pandang orang ketiga serba-tahu membuat penulis dapat lebih luas mengeksplorasi pikiran-pikiran para tokoh, dan motif tindakan mereka. Hal ini menguntungkan, karena pembaca dapat lebih mendalami karakter para tokohnya. Dalam novel ini, cara tersebut berhasil menghidupkan karakter-karakter yang kuat.

Dari membaca novel ini, saya dapat menangkap suatu gaya khas cara menulis Tere Liye. Beliau gemar menggunakan kalimat yang dimulai dengan “Bilang…” alih-alih semacam “Dia mengatakan bahwa…”.


 “Bilang masak di kabin.”
Halaman 104
“Bilang berselera tinggi.”
Halaman 128



Juga, penulis suka menggunakan keterangan waktu “besok lusa”, yang awalnya saya kira artinya benar-benar lusa, hari sesudah besok (besok beneran, lho, bukan “besok”-nya orang Jawa. Hehehe). Ternyata, yang dimaksudkan penulis dengan “besok lusa” adalah “nanti, kapan-kapan”.

Gaya penulis untuk memaparkan sesuatu terkadang melibatkan penggunaan analogi yang cukup kreatif.
“Seperti kartu yang didirikan berbaris lantas roboh satu per satu,  perintah singkat itu segera menyebar ke seluruh kapal.” (halaman 466)

Gado-gado Pengetahuan
Beragam suku, bahasa daerah, perangai penumpang berdesakan dan membaur jadi satu dalam kapal itu selama kira-kira 30 hari perjalanan ke Jeddah. Mulai dari suku Bugis, Jawa, Minang, Aceh hingga orang Tionghoa. Penulis pun menyebut Kapal BLITAR HOLLAND sebagai perwujudan Nusantara versi mini. Indonesia yang benar-benar bhinneka tunggal ika; kerukunan dan solidaritas terjalin tanpa cela, yang saya rasa belum terwujud dengan baik di dunia nyata sekarang ini. Lihat saja, para awak kapal yang nyaris semuanya beragama Kristiani, menghormati para penumpang. Begitu pula, ketika para awak kapal merayakan Natal bersama, para penumpang pun menghargainya.

Salah satu tujuan seorang penulis menulis adalah untuk memberikan pengetahuan kepada pembacanya. Nah, lewat novel ini, Tere Liye menyuguhkan pada saya banyak pengetahuan baru. Tentang sejarah, tentu saja. Cerita tentang Sultan Hasanuddin yang pernah saya baca waktu pelajaran IPS dulu, disodorkan kembali di depan hidung saya. Bukan hanya sejarah. Tentang cara kerja mesin uap secara umum pun disajikan penulis. Sebagai seorang mahasiswa teknik, saya mengapresiasi hal ini.

Pandangan baru yang saya dapatkan: ternyata tak semua “balas-budi” itu benar, yah, meski terlihat baik. Seperti ketika Daeng Andipati hendak membalas-budi terhadap Ambo, tapi dilarang oleh Gurutta. Pengetahuan tentang obat-obatan herbal juga diselipkan oleh penulis, seperti minuman jahe yang berkhasiat membantu meredakan mabuk laut (halaman 64). Penulis juga menyelipkan suatu ironi, bahwa pada suatu kesempatan, orang pribumi pun bisa memerintah para penjajahnya (ketika Ambo memimpin pemasangan layar kapal di halaman 526).

Sayang Sekali….
Berbanding lurus dengan banyaknya pengetahuan yang dituliskan penulis, sedemikian banyak juga kesalahan penulisan yang sedikit membuat saya kesal.
Bagaiman jiak Anda di minta membca kslimat srperti ini? 
Anda memang dapat menangkap artinya, tapi tetap saja, kenikmatan membaca telah berkurang, bukan?

Contoh Kasus Kesalahan Penulisan atau Kebingungan yang Saya Alami
Paragraf ke-
Halaman
Kapalan à kapal-kapalan.
“.... Kapal Blitar Holland seperti kapalan kecil...”
3
285
Kata semua cukup ditulis satu kali.
“Tapi itu semua sifatnya adalah pemberhentian semua...”
2
284
Saya bingung akan maksud kalimat ini.
“Ijah juga mabuk laut. Dia sejak kecil, sekali pun belum pernah menginjakkan kaki di perahu.” – Istri Daeng Andipati.
Variasi terjemahan saya:
1.     “Ijah juga mabuk laut. Sejak kecil, ia sekali pun belum pernah menginjakkan kaki di perahu.” à sekali pun = satu kali pun
2.     “Ijah juga mabuk laut sejak kecil, sekalipun belum pernah menginjakkan kaki di perahu.” à sekalipun = meskipun
Sepertinya, maksud penulis seperti yang nomor satu.
2
50
“Cantik sekali bukan.” – Ruben
Cantik sekali, bukan?
5
88
“Masih ada sisa makan malam, Ambo.” – Gurutta