8 February 2016

[Resensi FESYENISHEEZA] Sudah Bukan Zamannya ABG Galau Romens

Judul: Fesyenisheeza
Penulis: Nita Lana Faera
Editor: Miz
Penerbit: PING
Cetakan: I, 2016
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-391-060-1
Harga: Rp 38.000,00
Rating saya: 2/5

Sewaktu TK dulu, Sheeza pernah menggambar rancangan baju untuk Minie, kucingnya. Sebuah artikel yang menunjukkan betapa gemilangnya karier seorang perancang busana, terlebih perancang busana muda Indonesia bernama Rafi Abdurrahman Ridwan, membangkitkan tekad Sheeza untuk memulai lagi menggambar baju. Kali ini bukan baju buat kucing, melainkan rancangan kebaya. Ia membaca banyak buku tentang desain dan belajar secara otodidak. Suatu ketika, saat mengumpulkan tugas menggambar dari Bu Lidya--sang guru kesenian--Sheeza salah mengumpulkan buku gambarnya yang berisi rancangan-rancangan kebaya. Rancangan ini menarik perhatian Bu Lidya, yang lalu membelinya untuk digunakan sebagai kebaya untuk acara lamaran yang akan berlangsung tak lama lagi.

Sejak saat itu, kemampuan merancang Sheeza mulai tenar di kalangan para guru. Tentu, tak semua temannya seperti Vonny dan Ratu, dua sahabat yang selalu mendukungnya. Ada juga kaum siriker, yang diketuai Bianca. Melihat kesuksesan Sheeza dalam hal merancang busana, malah bisa menghasilkan uang sendiri juga, ia tak terima. Bersama ketiga anggota gengnya, Febri, Mila, dan Gina, ia berusaha menjahili Sheeza. Mulai dari mencuri kertas-kertas gambarnya, yang lalu diberikan ke ibu penjual gorengan di kantin sekolah, sampai memplagiat gambar Sheeza yang dipublikasikan di blog. Sebelumnya, Sheeza memang membuat blog untuk berbagi tutorial merancang baju. Blognya itu bernama Fesyenisheeza. Namun, setelah insiden itu, ia menutup blognya. Namun, serangan dari geng siriker tak berhenti di situ.

Selain itu, Sheeza juga pusing karena ingin mengikuti sebuah lomba desainer tingkat nasional, tapi umurnya masih di bawah 18 tahun (ketentuan pesertanya harus sudah 18 tahun). Di sisi lain, Mama Sheeza yang lebay abis itu, mengkhawatirkan anaknya yang sekarang berubah: seharian mengurung diri di dalam kamar untuk menggambar. Ia cemas anaknya akan kehilangan ke-gahol-annya. Oleh karena itu, secara gegabah, ia mencarikan cowok untuk Sheeza, yaitu Emir, anak temannya. Siapa sangka, Sheeza sama sekali tak mau pacaran dulu, dan selalu memasang sikap jutek tiap kali ada Emir. Suatu saat, Sheeza ngerjain Emir, dan itu membuat Emir ingin balas dendam.

***

"Novel ini unik dalam pilihan idenya, jarang ditulis para novelis teenlit kita, plus upaya pencarian 'makna hidup' yang menyelipkan inspirasi." (Edi AH Iyubenu)
Demikianlah endorsement dari Pak Edi, rektor #KampusFiksi, di kover novel Fesyenisheeza. Pendapat Pak Edi ini pasti tak bisa dilepaskan dari tren teenlit yang banyak mengambil genre romance, yang tokohnya dedek-dedek gemes alay mengejar cinta. Nah, di tengah penghuni tahta novel teenlit macam itu, penulis Fesyenisheeza (meski belum lepas dari segala ke-alay-an yang membuatnya jadi sangat teenlit), berhasil merobek-robek tren tersebut. Sheeza, si tokoh utama, bukannya mengejar cinta, malah mengejar mimpi jadi seorang fashion designer terkenal! Dia baru 14 tahun dan sudah sadar cita-cita seperti itu. Hmm, sebentar, di umur segitu saya juga sudah sadar diri akan jadi penulis, lho. Tiap hari isinya menuhin notebook dengan puisi-puisi (yang kalau dibaca lagi sekarang, sering bikin saya malu sendiri.

Sheeza bisa dibilang kebalikan dari tokoh sinetron remaja kebanyakan, yang intensi utamanya bersekolah adalah untuk cari gebetan. Kemudian jambak-jambakan dengan cewek lain karena rebutan cowok. Malah, si Mama yang keracunan sinetron, dengan menjodohkan Sheeza dengan Emir, padahal Sheeza jelas-jelas menolak.
"Pokoknya sekarang ini gue nggak mau pacaran dulu. Gue cuma mau fokus sekolah dan ngejar impian gue untuk jadi desainer terkenal." (Sheeza, hlm. 63)
Sosok Sheeza digambarkan penulis sebagai tokoh ideal teladan para remaja (dan teladan para jomblo berkualitas! Tuh, anak remaja 14 tahun aja lebih mentingin pendidikan dan mengejar mimpi ketimbang pacaran, masa yang udah 20 tahunan masih galau-galau perkara pacaran.). Seharusnya remaja sudah tahu jelas mimpi dan cita-citanya, serta sudah mulai berusaha untuk menggapai cita-citanya itu. Seorang remaja seharusnya tidak pantang menyerah dan berani mengambil risiko, seperti saat Sheeza nekat ikut lomba desainer, padahal umurnya belum 18 tahun. Seorang remaja seharusnya punya cita-cita mulia untuk membanggakan seluruh Indonesia (yah, minimal membikin bangga diri sendiri dulu). Remaja Indonesia seharusnya tidak menjadi seorang siriker, seperti Bianca, yang selalu sirik akan keberhasilan orang lain. Seorang remaja yang memiliki kemampuan tertentu, seperti merancang busana, seharusnya tak pelit untuk berbagi ilmu. Seperti Sheeza, yang berbagi pengetahuan melalui blognya. Sungguh, betapa mulia tokoh Sheeza! Sebaliknya, betapa bikin eneknya tokoh Bianca!

Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa penulis masih menganut paham hitam dan putih dalam menciptakan karakter utama protagonis (Sheeza) dan karakter utama antagonis (Bianca). Melalui tokoh Sheeza yang berpikiran kritis, yang terbilang cukup dewasa untuk umurnya, penulis banyak melancarkan sindiran. Misalnya, sindiran untuk majalah-majalah remaja, yang isinya nggak bermanfaat bagi kecerdasan nusa dan bangsa. Misalnya, "Tips Pacaran Murah Meriah untuk Anak Sekolah" (hlm. 21).
"Pacaran murah meriah? Kalau nggak pengin duit abis, kenapa juga harus pacaran? Udah tahu jadi anak sekolah yang duit jajannya masih dikasih bokap-nyokap, pas-pasan pula. Mending ntar aja kalo udah bisa cari duit sendiri, bisa pacaran tanpa harus ngirit-ngirit." (Sheeza, hlm. 21)
Melalui tokoh Bianca and the gang, penulis juga menyindir para siriker yang suka ngatain orang lain yang bawa bekal "lagi ngirit, ya?", padahal dirinya sendiri kalau makan di kantin mesti seporsi berempat, dengan dalih "lagi diet". Padahal mereka sendiri yang ngirit, biar duitnya bisa dibeliin alat-alat make-up (oh my gosh, bocah 14 tahun udah main dandan-dandanan menor). Contoh lain adalah ketika pada akhirnya Bianca and the gang menyadari manfaat bawa bekal (hlm. 118), padahal sebelumnya Bianca ngeledekin Sheeza yang bawa bekal ke sekolah.
"Besok-besok mbok ya cari kegiatan yang bisa menghasilkan duit, jadi ndak perlu diet. Bisa beli soto sendiri-sendiri. Kalau kerjaan ngerumpi aja, yo sampe kapan juga diet terus. Makan soto semangkuk rame-rame sambil ngomongin orang yang bisa nyari duit." (Si Abang penjual soto, hlm. 85)
Namun, kadang Bianca bijak juga, seperti ditunjukkan kata-katanya di hlm. 123.
"Makanya kalo nulis itu yang jelas dong, siapa yang lo maksud. Namanya juga dunia maya, tempat banyak orang yang ngerasa kena sindir, walaupun nggak ada maksud buat nyindir."
Sementara itu, melalui tokoh Bu Lidya, penulis ngrasani para ABG alay di luar sana. "Bu Lidya nggak lama lagi bakalan resmi jadi seorang istri dan menyandang status 'married', bukan cuma di Facebook layaknya ABG yang ngebet banget pengen kawin, tapi tentunya di dunia nyata alias beneran." (hlm. 124). Selain itu, ada lagi di halaman 70. Hayo, siapa yang pernah ngelakuin, atau pernah punya teman yang hobinya kayak Bu Lidya ini?
"Ya, Bu Lidya juga seperti manusia pada umumnya yang selalu bilang, 'Eeeh, ini rahasia, ya', tapi nyatanya dia sendiri yang nyebar-nyebarin rahasia itu. Ya, itulah manusia, eh maksudnya Bu Lidya."
Nah, tokoh-tokoh lain bikin saya mesam-mesem, seperti Pak Gun (tokoh untuk lucu-lucuan, tapi syukurlah pada akhirnya ia bertemu jodohnya). Nah, ada satu kesempatan di mana Pak Gun mengatakan sesuatu yang tidak konsisten. Awalnya, ia berkata, "Saya tidak mungkin melempar kalian ke penjara. Nanti saya juga yang repot. Pondok Bambu itu macet...". Sejurus kemudian, karena gemas perintahnya ditawar-tawar oleh Bianca and the gang, ia berkata, "Sekali lagi kalian nawar, lebih baik saya masukkan aja ke penjara sekalian. Mumpung ke Pondok Bambu cuma sekali naik angkot." (hlm. 105) Yah, meski demikian, inkonsistensi ini sah-sah saja jika untuk memperkuat kekonyolan tokoh Pak Gun.

Seperti Mama (yang lebay overdosis, fobia keterlaluan kalau anaknya bakal jadi kuper; berpanduan hidup berupa majalah fashion, sinetron, dan acara gosip; yang kesenangan hidupnya adalah membeli sepatu diskonan dan menjodohkan anaknya semena-mena), dan Papa (yang, meski hobi nonton sinetron, tak lantas jadi lebay seperti Mama).
"Bayangin aja, Pa. Sazkia Gotik batal tunangan, Sheeza nggak tahu. Siapa aja pejabat yang terlibat korupsi, Sheeza nggak tahu.... Ya, gimana dia bisa tahu, kalau tiap liburan yang diurusin cuma gambar, gambar, gambar aja." (Mama, hlm. 49)
Tokoh Mama mungkin diciptakan penulis sedemikian rupa untuk menyindir para mama dan/atau orang tua modern di luar sana, yang kurang bisa memahami anaknya, dan karena terpengaruh sinetron, jadi bertindak aneh-aneh. Terlepas dari itu, Papa cukup bijaksana, lho. Nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau Papa juga se-lebay Mama. Ada satu nasihat Papa Sheeza yang jadi favorit saya:
"Kalau nanti ada cowok yang ngajak kamu jalan, kamu harus tetap bawa uang. Kali aja itu cowok bakalan kabur dan akhirnya kamu yang harus bayarin makannya dia." (hlm. 66)

"Cowok ganteng itu nggak akan traktir cewek pake uang orang tuanya, apalagi harus berbohong biar punya uang lebih buat pacaran." (hlm. 67)
Keluarga Sheeza yang terlihat menyenangkan, lengkap dengan percek-cokan nggak penting mereka, tapi yang menghidupkan suasana rumah. Seperti ketika perdebatan terjadi karena Mama ingin dianterin Papa ke mall, sedangkan Sheeza minta dianterin ke toko buku (hlm. 11). Mengapa mereka nggak ke mall aja, kan ada toko buku juga di mall? Tapi, ntar kasihan Papa, sih, diperas Mama suruh beliin sepatu diskonan. Namun, ada adegan yang lebay menurut kacamata saya. Yah, mungkin ini salah saya juga, sih, sudah tahu bukan umurnya lagi baca teenlit semi-komedi kayak gini... Adegan itu adalah ketika mereka sekeluarga tiba-tiba menyadari bahwa kebersamaan mereka kini telah dirampas oleh kesibukan bermedia sosial (hlm. 155). Si Papa sampai nangis segala, lho, makin membuat adegan ini berlebihan. Pun agak aneh, karena sejak awal atmosfer di dalam rumah Sheeza terasa nyaman-nyaman saja. Papa-Mama cukup perhatian pada Sheeza. Lalu, tiba-tiba di adegan tersebut mereka saling menyadari kalau selama ini terlalu sibuk dengan dunia sendiri?!

Dengan gaya bahasa santai nan lincah a la remaja gaul ibu kota, alur cerita terasa mudah diikuti. Namun, jalan cerita terasa dimudahkan bagi Sheeza untuk jadi seorang desainer pakaian yang cukup tenar. Mungkin ini imbas dari kapasitas halaman yang tak mencapai 200 tebalnya, pun akan terasa agak berat untuk kategori teenlit, jika proses pencapaian mimpi Sheeza menemui banyak lika-liku (kecuali lika-liku yang disebabkan oleh Bianca and the gang). Karena faktanya, mencapai mimpi tak semudah itu. Uniknya, penulis menyertakan satu momen sureal ketika bibir Bianca yang hobi monyong-monyong itu tiba-tiba nggak bisa balik. Ini mungkin pesan dari penulis agar jangan sirik melulu, ntar bisa-bisa mulutmu kaku!

Terlepas dari beberapa kesalahan teknis penulisan, seperti di hlm. 12 ("Bianca, cewek teman sekelas Sheeza yang emang terkenal banget sebagai "siriker" alias orang sirik.") dan hlm. 52 (Pinter, karena [agar] nggak dibego-begoin anak gue.), novel teenlit ini layak dibaca oleh segenap ABG Indonesia, biar alay-nya dialihkan ke hal-hal yang bermanfaat, seperti mencapai mimpi. Yah, meski novel ini sendiri pun sejak awal terkesan alay berkat judulnya yang susah dibaca itu. Tapi saya suka desain kovernya, simpel, tapi unyuk :x
"Sahabat sejati adalah orang yang selalu mengingatkan bila sahabatnya berbuat salah. Jika ada sahabat yang malah menyuruh sahabatnya melakukan hal yang tidak baik, itu perlu kamu pertanyakan. Apa dia benar-benar menganggapmu sahabat atau kamu hanya diperalat?" (Bu Lidya, hlm. 137)
Reaksi:

2 comments:

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets