Showing posts with label gudang. Show all posts
Showing posts with label gudang. Show all posts

16 November 2015

Petualangan Seru di Gudang Gramedia (Ronde II)

Sebelumnya:

Ronde I | 26 September


Sekarang:


Ronde II | 30 September


Dalam melakukan sesuatu, kalau belum puas, rasanya pengin melakukan lagi dan lagi. Begitu pula dengan "belanja buku". Menimbun buku agak mirip kecanduan, sebenarnya. Apalagi di Ronde I nafsu beli buku saya cuma disokong dengan empat lembar sepuluh ribuan. ITU. SANGAT. KURANG. Apalagi, untuk standar belanja di gudang. Hahaha. Empat hari kemudian, di siang hari yang terik, saya berangkat lagi ke Gudang Gramedia, kali ini nggak sendirian, ditemani teman kosan. Namun, masih tetep nggak punya banyak uang (masih tanggal tua). Meski begitu, saya bawa banyak uang hasil ngutang. (Tidak patut diteladan.)

Sebagai hasil dari pamer-pamer buku hasil borongan di Ronde I ke grup WA Kampus Fiksi 12 (sebut merk), teman-teman di luar kota (yang, sayang sekali, nggak ada Gudang Gramedia), nitip buku ke saya. Dan minta ditalangi *sigh, mengurangi jatah saya*. Salah saya sendiri, sih, pamer-pamer. Eh, tapi saya seneng-seneng aja lho dititipin, lumayan, bisa nebeng baca dulu sebelum dikasih ke orang yang nitip. Haha. Ada dua orang yang nitip buku-bukunya Roald Dahl, karena sebelumnya saya pamer The Witches. Akhirnya, saya memborong buku cerita anak-anak tersebut.


Sejauh ini, saya sudah baca The Witches dan The Enormous Crocodile.

Bertolak-belakang dengan cerita anak, ada juga yang nitip novel romance dewasa (termasuk saya sendiri). Motivasinya, sih, sebagai referensi mau ikut lomba novel Twigora. Kalau untuk genre ini, saya nemu cukup banyak novel dari beberapa penulis yang ada di daftar referensi. Lisa Kleypas, Charly Phillips, Susan Mallery, dan Julie James. Nah, sembari mondar-mandir (saya bolak-balik ke rak yang sama berulang kali) dari rak buku ke Mas-mas pencari harga, saya juga mengintip rating dan sinopsisnya di Goodreads. Rating novel-novel Lisa Kleypas memang terbilang tinggi, tapi saya sedang nggak berminat baca historical romance. Jadilah saya membeli tiga judul novel Julie James ini, yang setelah saya kepoin di Goodreads, selain ratingnya bagus, pola ceritanya mirip novel contemporary romance-nya Chrismor (yah, se-subgenre juga, sih, jadi wajar).

Sejauh ini, saya sudah baca Practice Makes Perfect dan Just the Sexiest Man Alive.


Selanjutnya, karena saya sedang menggiatkan diri membaca karya sastra klasik, saya menyempatkan menengok rak khusus buku klasik terjemahan. Ada banyak sebenarnya, termasuk yang saya inginkan adalah Jane Eyre, yang sangat tebal itu, tapi saya nggak jadi beli karena harganya 30 ribu. Ya, ya, saya memang kontradiktif. Pengin beli banyak buku, tapi pelit juga ngeluarin duit. Haha. Selain itu, 30 ribu adalah harga termahal di sale tersebut (kalau nggak salah). Akhirnya, saya memilih satu buku klasik berikut, Nobody's Perfect, yang ratingnya di Goodreads juga bagus. Saya memang terlalu percaya pada rating Goodreads :').


Di akhir petualangan menyusuri rak-rak besi, tanpa sengaja, di bagian bawah, saya menemukan kumpulan dongeng Rudyard Kipling, Just So Stories, yang langsung saya ambil karena ilustrasinya lucu.


Selain buku klasik, saya juga sedang punya misi untuk membaca karya-karya Mitch Albom, apa pun judulnya. Haha. Jadi, setelah membeli satu judul karyanya di Ronde I, saya beli lagi dua judul ini.


Demikianlah, akhirnya saya nggak cuma beli empat buku doang :'). Setelah masa sale ini berakhir, di awal November, Gramedia juga membuka sale di gudangnya lagi. Saya nggak ke sana lagi, soalnya timbunan buku sudah terlalu tinggi dan belum berkurang :")

10 November 2015

Petualangan Seru di Gudang Gramedia (Ronde I)

Ronde I | 26 September


Bukan perjalanan mudah menemukan letak gudang Gramedia ini. Meski alamatnya telah cukup lengkap tertera di poster yang eye-catching-meski-agak-ruwet-itu, ternyata optimisme saya untuk menemukannya tak bersambut lekas. Di poster tertera bahwa gudang akan tutup pukul 16.00, dan hari Sabtu sore itu saya berangkat sekitar pukul 14.00. Maguwoharjo cukup jauh dari kos saya, belum lagi saya muter-muter nggak jelas, sehingga waktu saya habis di jalan. Saat menyusuri Ring Road Utara, dengan polosnya (pedenya) saya menganggap bahwa gudang Gramedia itu terletak di pinggir jalan Ring Road :'). Sampai di ujung Ring Road yang tembus Jl. Laksda Adisucipto, saya tidak menemukan sama sekali penampakan bangunan "gudang" itu. Saya putar balik, jauh sekali, sampai menemukan pertigaan, yang ke kiri menuju Stadion Maguwoharjo. Kenapa tadi saya tidak kepikiran masuk ke jalan itu, ya?! Nah, di putaran kedua itu saya masuk ke jalan itu. Berhenti sejenak di pinggir jalan untuk membuka aplikasi Maps, saya menemukan bahwa itu jalan yang benar: Jl. Raya Tajem. Nah, sekarang tinggal mencari "gudang"-nya, yang dalam benak saya pasti ada tulisan Gudang Gramedia besar-besar di depannya.

Wuuussss....!
*suara Bang Karis membelah udara dengan kecepatan 60 km/jam*
*tengok kanan, tengok kiri sepanjang jalan*
*sampai perempatan Stadion*
*masih nggak nemu, di manakah wahai gerangan, si Gudang?*

Dengan pedenya, saya terus melaju hingga ke jalanan sepi yang kiri-kanannya diapit pepohonan dan sawah. Lah, ini saya malah nyasar ke mana?! Akhirnya saya memutuskan putar balik, lalu berhenti sebentar untuk mengecek tablet. Ada seorang teman memberitahukan bahwa letak si Gudang tak terlalu jauh dari perempatan Stadion. Lah, tapi tadi saya nggak nemu! Saya teruskan perjalanan. Melewati perempatan Stadion, saya melaju pelan-pelan sambil mepet ke kiri jalan.

Jeng, jeng, jeng!

Itu dia, ada poster outdoor yang teramat kecil dibandingkan dengan ekspektasi saya T_T. Posternya seperti ini:


Bangunan gudangnya menjorok lumayan jauh dari gerbang bercat putih. Pantas saja, tidak terlihat, soalnya gerbangnya pun seperti gerbang rumah biasa. Saya memarkirkan motor di area parkir di lahan terpisah dari Gudang. Sampai di dekat pintu gerbang, ada satpam yang bertugas menyegel tas pengunjung. *seolah mau kabur nyolong buku setumpuk* Ternyata ada spanduk besar, tapi ditempel di dinding luar Gudang, yang mana tak terlihat dari jalan T_T.

Di halaman ada bagian khusus penerbit Kompas. Saya melihat-lihat sebentar, tapi tak terlalu tertarik, lantaran diskonnya sedikit. Huehehe. Langsung saya masuk ke Gudang, dan agak kaget ketika mendapati bahwa itu benar-benar Gudang! Secara harfiah! Isinya rak-rak besi besar dan tinggi. Untuk mencapainya, pengunjung harus naik tangga dulu. Tangganya seperti tangga kilang minyak, btw, dari besi, kecil, dan agak sempit. Wow, di depan mata saya terpampang deretan komik. Dengan bergairah, saya raih tas dari pinggir tangga, dan langsung mencari rak novel. Bertamengkan masker, saya siap menyerang rak-rak penuh buku berdebu!

Ironisnya, saat itu saya tidak membawa banyak uang (tanggal tua), jadi saya hanya bisa membeli empat buku, yang masing-masing harganya 10.000 rupiah.


Saya nyesek ketika sampai di kasir, dan melihat pengunjung lain membawa setumpuk, bahkan sekardus buku :'). Oh, ya, bagian ketika mengecek harga sangat tidak praktis. Pengunjung menyerahkan buku yang ingin dicekkan harganya (cos harga yang tertera di punggung buku bukan harga sebenarnya) ke mas-mas yang jaga seperangkat laptop berisi daftar harga.

Bersambung ke Ronde II...

bloggerwidgets