22 August 2013

Resensi SUNSHINE BECOMES YOU "Secerah Sinar Mentari"

Judul Buku                        : Sunshine Becomes You
Penulis                              : Ilana Tan
Tebal                                 : 432 halaman
Penerbit/cetakan               : Gramedia/Cetakan kedua, 2012
ISBN                                : 978-979-22-7813-2
Harga                                : Rp 65.000,00 48.750,00 (diskon 25%)

Nama Ilana Tan yang tertera pada sampul depan novel ini tentunya memberi harapan besar akan kepuasan pembaca, seperti yang sudah-sudah. Ingatlah tentang empat karyanya sebelumnya, tetralogi empat musim yang laris manis bak barang diskon plus buy one get one free (apaan, sih -_-). Kisah romansa yang manis ciptaan Ilana Tan selalu berhasil menyihir saya, meskipun ada yang sad ending (baca Autumn in Paris). Mungkin jarang sekali orang menyukai kisah yang nggak happy ending. Tapi kalau semua kisah di dunia ini berakhir bahagia, itu sih bukan kehidupan nyata, melainkan cerita dongeng karangan Hans Christian Andersen. Hehehe.
Awalnya saya mengira Sunshine Becomes You ini akan berakhir bahagia. Sinopsis di sampul belakangnya juga nggak mengisyaratkan barang satu kata pun yang mengarah ke sad ending. Tapi ternyata, tak dinyana-nyana….
Alex Hirano, seorang pianis terkenal, terpaksa harus membatalkan konsernya. Mia Clark-lah yang patut ia salahkan, atas tangan kirinya yang terkilir. Membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk bisa digunakan secara normal kembali, padahal tanggal konsernya semakin dekat. Yah, meskipun gadis itu tak sengaja jatuh dari tangga dan menubruk, menimpa tubuh Alex hingga tangannya jadi seperti itu. Tetap saja, satu alasan itu cukup untuk membuat Alex membenci Mia. Pasti begitulah juga perasaanmu terhadap orang yang menyebabkan konsermu batal dan kau harus menderita kerugian besar. Belum lagi kerepotan yang diakibatkan kehilangan fungsi satu tangan, seperti kesulitan ketika hendak membuat kopi. Atau sekadar membuka pintu apartemen sambil memegang secangkir kopi. Ngomong-ngomong, Alex tak bisa mengawali harinya tanpa minum secangkir kopi. Dan itu akan membuatnya uring-uringan. Ditambah lagi dengan idenya yang sedang mampet untuk menciptakan lagu baru.
Alex mengerutkan kening menatap malaikat kegelapannya yang mendadak muncul di depan matanya. Kenapa gadis itu datang ke sini? (halaman 35)
Dituntun oleh rasa bersalah yang sedemikian memuncak mengalahkan gunungan sampah seantero Jakarta yang dikumpulkan jadi satu, Mia Clark menawarkan bantuan pada Alex. Dengan berat hati, awalnya, karena Alex takut berada dekat-dekat dengan malaikat kegelapannya itu, Alex menerima Mia di apartemennya.
“Kalau kau memang ingin menjadi pesuruhku, kuizinkan kau menjadi pesuruhku.” (halaman 42)
Sikap Alex yang antipati terhadap Mia sangat berlawanan dengan sikap Ray Hirano, adiknya. Cowok yang lebih dulu mengenal Mia itu (karena mereka sama-sama menjadi pelatih tari di studio Small Steps Big Steps) malah terlalu kentara memperlihatkan rasa sukanya terhadap Mia. Tapi ia harus kecewa karena Mia memperlakukannya sama dengan teman-teman pria lainnya.
Bisa ditebak, kebersamaan Alex dan Mia lama-lama mengubah sikap Alex terhadap gadis itu. Cowok itu jadi menyadari bahwa ia sangat membutuhkan kopi yang enak, buatan gadis itu. Mendadak, ia juga mendapat inspirasi untuk menulis lagu baru, setelah teringat akan Mia Clark, akan senyum gadis itu yang secerah sinar matahari. Ia juga merasa aneh ketika mendapati dirinya kesal melihat Mia bersama teman prianya, tersenyum pada mereka seperti ia tersenyum pada Alex. Lalu sebuah rasa pensaran muncul ketika Alex mengetahui bahwa Mia dulunya adalah salah satu penari Dee Black Dance Company (salah satu klub tari tersohor Amerika Serikat). Juga, kata Dee Black, Mia adalah salah satu penari terbaik yang pernah ia miliki, satu dari lima penari kontemporer terbaik dunia. Fakta itu membuat Alex bertanya-tanya, jika memang Mia sehebat itu, kenapa ia memilih hanya menjadi seorang pengajar di studio tari—bukannya bergabung dengan klub tari terkenal dan menari di panggung-panggung broadway?
Ketika akhirnya rasa penasarannya itu terjawab, Alex malah menyesal. Ia tak ingin memikirkan kemungkinan terburuk berkaitan dengan kondisi kesehatan Mia yang menjadi alasan untuk berhenti menari di panggung. Juga kenapa Mia tampak tak mau menjalin hubungan istimewa dengan laki-laki, padahal tak sedikit yang mengejar-ngejarnya (Ray termasuk di dalamnya). Begitu juga, akhirnya saya tahu maksud implisit dari salah satu kalimat sinopsis novel ini: “Kemudian Alex Hirano tersenyum, dan jantung Mia yang malang melonjak….” Frase kuncinya adalah “JANTUNG MIA YANG MALANG”.
Well, kalau obat-obatan tidak berhasil, tidak ada cara lain selain mencari jantung baru untukku.” (halaman 316)
Lalu satu tawaran untuk menari di panggung menyambut Mia. Dee Black memintanya menjadi penari utama pada pertunjukan terakhirnya di New York. Satu kali saja, menampilkan kembali kemampuannya yang luar biasa pada dunia dan mewujudkan impiannya….
“Impian setiap penari adalah menari di atas panggung, Dee. Kau tahu itu.”
“Aku juga penari. Jadi aku juga memiliki impian itu.” (halaman 303)
Tawaran yang dilematis, sementara kondisi jantung Mia makin melemah…. Pilihan apa yang akan dipilih Mia? Menari satu kali saja dengan membahayakan jantungnya, atau tidak menari sama sekali dan menyesal?
Alex juga mengalami kekhawatiran tersendiri, yaitu ketika Mia menghindarinya setelah ia menyatakan perasaannya pada gadis itu. Apa yang ia lakukan selanjutnya? Yang paling ingin ia ketahui adalah perasaan Mia terhadapnya. Apakah Mia sebenarnya memiliki perasaan yang sama atau tidak?
Ilana Tan selalu berhasil membikin saya berkhayal tentang tokoh laki-laki yang ia ciptakan. Tokoh laki-laki yang manis seperti Alex Hirano; yang rela melakukan apa saja demi gadis yang dicintainya. Gaya penuturan cerita dengan sudut pandang orang ketiga terbatas (bukan serba tahu) khas milik Ilana Tan membuat saya mengetahui pemikiran tiap-tiap tokoh utama. Kisah perkenalan hingga kebersamaan antara Alex dan Mia pun mengalir secara lincah dengan tempo yang tak terlalu cepat, tereksplor dengan optimal dan tak berlebihan, meski kadang banyak terjadi kebetulan. Tapi kebetulan-kebetulan itu masih wajar dan masuk akal.
Tapi saya merasa agak bosan dengan cara Ilana Tan menjabarkan pikiran-pikiran dan ekspresi tokohnya, terasa agak didramatisir, mungkin? Atau ini mungkin efek terlalu mengenal gaya penulisan Ilana Tan melalui novel-novel sebelumnya? Entahlah. Juga tentang setting-nya, latar tempat cerita. Saya tak terlalu merasakan suasana kota New York, meskipun Ilana mewadahi adegan-adegannya dengan hawa dingin musim gugur dan musim dingin kota New York, adegan perayaan Natal, adegan di beberapa spot kota New York, seperti kawasan Soho. Tapi semua deskripsi tempat itu terasa mengambang. Mungkin memang karena penulis tak memfokuskan karyanya pada penjabaran latar tempat, melainkan pada interaksi antartokoh.
Jujur saja, saya agak kecewa ketika sampai di bagian ending novel ini yang terasa terlalu cepat. “Oh gitu doang.” Begitulah kira-kira yang terucap setelah saya merampungkan sampai halaman terakhir. Plot yang diciptakan Ilana pun terasa datar, tanpa klimaks yang benar-benar klimaks. Menurut saya, ending Autumn in Paris jauh lebih menggigit emosi saya daripada ending novel ini. Saya ingat, beberapa tahun lalu, saya meneteskan air mata ketika membaca bagian ending Autumn in Paris. Sungguh disayangkan, padahal saya berharap lebih pada kepiawaian menulis Ilana Tan yang sudah terbukti.
Tunggu dulu, ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak saya. Mengapa sedikit pun tak tebersit pemikiran di otak Alex Hirano untuk mendonorkan jantungnya buat Mia? Bukankah ia sangat mencintainya? Well, mungkin jantung mereka tidak akan cocok atau Alex tak sampai segitunya merelakan hidupnya sendiri. Atau bagaimana, ya? Saya nggak ngerti tentang syarat-syarat jadi donor transplantasi jantung.
Kemudian, ketika mendengar bahwa novel ini akan di-layarlebar-kan, saya jadi antusias karena ingin sekali mendengar seperti apa lagu Sunshine Becomes You ciptaan Alex itu. Lagu yang bisa membuat “penonton mendesah dan memejamkan mata, membayangkan sinar matahari yang hangat, padang rumput yang hijau, dan langit biru tak berawan” (halaman 432). Juga bagaimana memukaunya tarian Mia Clark pada penampilan terakhirnya di atas panggung. Saya ingin melihat bagaimana “ia bergerak dan menari dengan keanggunan, kelas, dan kehebatan penari tingkat dunia” dan bagaimana “ia bercerita melalui gerakan tubuh dan raut wajahnya” (halaman 389).
Tak sampai di situ saja. Mulailah otak saya berkelana, membayangkan siapa artis Indonesia yang cocok memerankan Alex, Mia, dan Ray. Hingga saya mampir di Google dan mendapatkan beberapa profil yang mungkin cocok seperti di bawah ini, meskipun saya tak tahu apakah mereka mumpuni untuk bermain piano (Alex) dan menari (Mia dan Ray).

  1. Alex Hirano: Mike Lewis

     
  2. Mia Clark: Jill Gladys
  3. Ray Hirano:  Fendi Chow
Lastly, I look forward to Sunshine Becomes You The Movie ^^

2 comments:

  1. Dan sekarang beneran ada filmnya :P
    Cast Predictionnya meleset semua tapi semoga filmnya sukses yaaa hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku blm nonton, Selvia :-q
      Dan kecewa sama cast-nya wahahaha

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets