4 December 2014

[Resensi THE ROYAL BREAD] Setangkai Dandelion di Gaunnya



The Royal Bread
Buku                                 : The Royal Bread
Penulis                              : Eko
Editor                                : Itanov
Tebal                                 : 188 halaman
Penerbit/cetakan               : PING!!!/Cetakan I, 2014
ISBN                                 : 978-602-255-638-1
Harga                                : Rp 35.000,00
Rating saya                       :  

Anak tukang roti. Sekali membaca frasa ini, pikiran saya melayang ke ingatan tentang drama Korea yang pernah saya tonton di Indosiar, dulu, Baker King, Kim Tak Gu

Lalu, kaki-kaki memori saya terbang lagi, hinggap ke kabel ingatan tentang Peeta Mellark, anak tukang roti di serial Hunger Games.

Anak tukang roti di novel ini juga memegang peranan penting dalam cerita, seperti dua tokoh tersebut. Bagaimana tidak, orang dia tokoh utamanya, hehe. Ia adalah Albert Glister, anak tukang roti yang juga atlet tim basket sekolahnya, sebuah SMA di New York (penulis tidak menyebut merk sekolahnya). Hidupnya sebagai seorang siswa yang tidak populer di sekolah berlangsung biasa saja (pamor anak basket kalah telak oleh pamor anak football). Hingga seorang putri keluarga kerajaan Inggris datang sebagai murid baru di sekolahnya, Putri Vanessa. Pin berbentuk bunga dandelion yang tersemat selalu di pakaian sang putri menarik perhatian Albert. Barulah, setelah mengenal sang putri, ia akhirnya tahu bahwa pin dandelion itu punya arti penting bagi sang putri.

Awalnya, Al bersikap biasa saja berkenaan dengan kedatangan sang putri sebagai murid baru di kelasnya (malah cenderung enggan terlibat). Lain dengan Seth, cowok populer anggota tim football, yang sudah mengincar Vanessa untuk dijadikan pacar berikutnya, bahkan sejak sang putri belum tiba di sekolah itu. Masalah timbul, bukan di sekolah, melainkan di toko roti Al.
Satu kesempatan yang mungkin dimiliki keluarga Al adalah mengundang sang putri ke toko, agar media meliput sehingga para pengunjung berdatangan. Namun, ini tak mudah, lantaran Vanessa telah jadian dengan Seth, dan pasangan itu sudah seperti truk gandeng—ke mana-mana bersama. Nyali Al tak cukup untuk menghadapi risiko dihantam Seth bila ketahuan mendekati Vanessa. Hingga, suatu saat, kesempatan itu muncul dengan ajaib. Al, yang tak menyiakan kesempatan itu, malah terlibat dalam suatu hubungan rumit dengan Vanessa. Rumit, lantaran sampai melibatkan media massa dan keluarga kerajaan. Toko roti keluarga Al akankah selamat? Dan, apakah mungkin hubungan antara sang putri dengan anak tukang roti miskin itu berlanjut?

Pacaran dengan Putri Kerajaan? Bisa Banget!

AWAS TEENLIT!!! Novel ini adalah teenlit, yang mengusung tema seputar percintaan remaja, dengan konflik yang cenderung ringan. Jangan berharap akan menemui konflik yang berlebihan, karena ini memang teenlit. Bahkan penulisnya pun masih teen.

Tema percintaan antara dua orang yang beda kasta atau berdasarkan parameter status sosial lainnya seolah tak pernah habis diceritakan. Banyak kisah romantis terkenal yang mengusung tema ini. Titanic, Romeo & Juliet. Sampai drama Asia: Meteor Garden, Boys Before Flower, The Heirs… Dan kini, The Royal Bread pun berada pada jalur yang sama. Jika pada berbagai film dan drama yang saya sebutkan di atas, perjuangan cinta antara dua orang beda kasta itu sangat sulit, maka jangan berekspektasi begitu juga dengan novel ini. Tantangan yang dihadapi tokoh Albert untuk mendekati Vanessa bisa dibilang hanyalah:
     ·     Seth, yang bisa disingkirkan dengan mudah, karena sang penulis sendiri telah menyingkirkan tokoh ini dengan kealpaannya di sekolah akibat skorsing (spoiler: salah satunya ternyata disebabkan oleh Jack, sahabat Al).
    ·   Media massa yang memang di mana pun, kapan pun, selalu kejam. Pada akhirnya, rencana sederhana Vanessa dapat dengan mudah mengelabui media massa.

Hubungan mereka berdua sangat dimudahkan oleh keluarga Vanessa, yang meskipun berdarah-biru tidak berpikiran kolot dan kaku dalam memandang status sosial. Ini salah satu sikap yang saya kagumi dari keluarga Vanessa. Hmm, atau saya malah ragu—karena sikap mereka terkesan sangat ideal? Tapi, memang bukan tidak mungkin ada keluarga bangsawan yang bersikap bijak seperti ini.

Karakter Al sebagai anak SMA tergambar dengan sangat nyata, mungkin ini karena sang penulis juga seumuran dengan Al ^^. Al adalah seorang remaja yang rajin, sederhana, dan rendah hati, tapi masih labil. Ia seolah-olah sangat enggan berurusan dengan Vanessa, tapi sesungguhnya ia hanya menipu diri sendiri yang tidak mau terlihat tertarik pada sang putri. Kadang ia kekanak-kanakan dan bersikap nggak jelas.


Hmm, cara berpikirnya naif, khas remaja. Saya akan naik taksi untuk acara istimewa karena bisa sampai ke lokasi lebih cepat (daripada naik bus umum yang harus pindah jalur, misalnya). Tapi bukan untuk alasan “pantas” atau tidak. Hehehe. Bocah ini juga agak lebay, seperti ketika ia mendadak pusing hanya karena melihat makanan-makanan enak nan banyak di atas meja makan rumahnya (halaman 56). Mungkin ini saking miskin keluarganya, sehingga jarang makan enak.

Beralih ke tokoh Jack, sahabat Al. Tokoh ini memegang peranan penting dalam cerita, meski peran terbesarnya tersembunyi hingga akhir. Sayangnya, karena penggunaan sudut pandang orang pertama, tokoh ini kurang ditampilkan karakter sebenarnya, selain selalu sabar dan punya banyak akal untuk membantu Al. Hingga, menurut saya, Al terlihat egois, karena selalu menumpahkan masalahnya pada Jack, tapi bahkan tidak pernah tahu apa masalah Jack.

Putri Vanessa awalnya saya kira seorang gadis yang lemah. Setelah halaman demi halaman kau arungi, kau akan menemukan bahwa Vanessa adalah gadis yang tegas dalam mengambil keputusan, dan cukup cerdas. Meskipun, saya kira, tindakannya menyelamatkan toko roti Al itu agak berlebihan, lantaran waktu itu mereka hanya baru saling tahu nama. Agak nggak masuk akal. 

Oh iya, saya menemukan satu istilah asing di halaman 177 (bathopobia) yang tidak dilengkapi keterangan artinya. Yah, saya hanya manusia biasa yang tidak selalu tahu semua arti kata. Hehehe. Setelah menyelam di lautan Google, saya menemukan bahwa kata ini seharusnya batophobia, yang artinya "the fear of high objects or of high objects falling down". Selain itu, juga ada beberapa kesalahan penggunaan kata, seperti:

 “…siap menghadapi emosional yang mungkin terjadi di dalam rumah.” (halaman 56)
Emosional kurang tepat digunakan dalam konteks tersebut, karena ia merupakan kata sifat. Mungkin lebih tepat jika suasana penuh emosi. Tapi, itu termaafkan dengan mudah, karena nggak ada typo di novel ini. Bravo, Mbak Editor!

Tipis yang Pas

Well, ini adalah novel tertipis yang saya baca tahun ini. Sebenarnya, saya cenderung menyukai novel yang tebal, dengan asumsi tebal yang bagus (bukan tebal yang ngebosenin, lho) sehingga saya tidak lekas kehabisan nikmatnya terhanyut dalam cerita. Novel ini tipis, seperti novel Senyum Pertama di PagiAirin, yang tebalnya sekitar 200 halaman. Meski sama-sama tipis, bedanya, The Royal Bread ini TIPIS, TAPI PAS. Konflik yang dibangun sederhana, dengan satu konflik besar (percintaan beda kasta) dan satu konflik pendukung (toko roti yang terpaksa ditutup). Setelah sampai di halaman terakhir kau tidak akan mengeluh, “Yah, gitu doang? Padahal aku masih penasaran…”

Untuk novel setipis ini, alur cerita yang dibangun penulis berjalan dengan tempo yang tidak terlalu cepat, tapi efisien. Maksudnya, penulis tidak membuang-buang halaman untuk menceritakan hal yang tidak penting. Jadi, meski novel ini miskin teka-teki (kecuali bagian pangeran Spanyol dan rahasia Jack), kau tidak akan terlalu bosan. Yah, apalagi gaya bahasa yang digunakan penulis ringan (namanya aja teenlit, kan). Sayangnya, kau mungkin akan merasa bahwa bagian akhir terasa terburu-buru. Akan lebih baik jika rahasia Jack itu lebih dieksplorasi, atau malah ditunjukkan kejadiannya (karena terdengar seru), daripada hanya diceritakan. Tapi ini memang agak susah, karena sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama Albert.

Saya memberi 2 bintang untuk novel ini di Goodreads. Kenapa? Karena menurut saya, ide cerita novel ini terlalu klise dan konfliknya pun kurang menarik ataupun unik. Latar tempat di New York pun seolah hanya tempelan. Meskipun begitu, budaya anak-anak sekolah Amerika Serikat yang suka berkelompok-kelompok (alias nge-geng) dengan menguasai meja tertentu di kantin cukup tergambar dengan baik di sini[1]. Jika kau ingin membaca novel ringan untuk hiburan, maka The Royal Bread bisa jadi salah satu pilihan ^^.


[1] Pasti kau sering menjumpai budaya semacam ini di film, serial, atau novel. Salah satu novel yang kental dengan budaya nge-geng bocah sekolah Amerika Serikat adalah seri Immortal karangan Alyson Noel.
 


Reaksi:

1 comment:

  1. Anak tukang roti. Wih, sama, aku juga langsung keinget Peeta sama Kim Tak Gu, dulu ibu saya setia banget nonton drakor itu.. XD

    Bukunya tipis ya? Yeah, it's okay kalau tipis tapi emang pas. Mungkin bisa jadi bacaan yang bagus kalau pengen baca buku yang sekali lahap (dan punya waktu luangnya emang sedikit >,<). Interesting.

    ReplyDelete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets