Showing posts with label grasindo. Show all posts
Showing posts with label grasindo. Show all posts

13 January 2016

[Resensi Dae-Ho's Delivery Service] Harga Sebuah Rekonsiliasi

Judul: Dae-Ho's Delivery Service
Penulis: Pretty Angelia
Editor: Cicilia Prima
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, Agustus 2015
Tebal: vi + 226 halaman
ISBN: 978-602-375-164-8
Harga: Rp 48.000,00
Rating saya: 4/5

Han Dae-Ho, memutuskan tinggal sendiri di Seoul setelah ia mengetahui bahwa ia bukanlah anak kandung dari kedua orang tua yang ia sayangi. Dua bulan setelah menetap di Seoul, Dae-Ho mendapatkan pekerjaan sebagai pengantar surat. Dae-Ho akhirnya tahu ia bukanlah pengantar surat biasa. Choi Hyun-Ki, bosnya, menyuruhnya menjamin bahwa si penerima surat membaca surat itu. Karena surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah disangka akan didapatkan si penerima.

Dae-Ho sangat menikmati pekerjaannya. Meski begitu, ia tetap sulit melupakan keluarganya yang selama ini menemani hari-harinya. Termasuk Hana, gadis blasteran Korea dan Amerika Serikat yang sangat disukainya. Semakin Dae-Ho lari dari masa lalunya, masa lalu itu justru tiba-tiba datang di hadapannya. Dae-Ho pun bertanya-tanya, mengapa ia memerankan sebuah drama yang tidak pernah ingin dilakoninya itu?


"..kau harus mengantar pesan berupa surat langsung ke penerimanya dan memastikan si penerima membaca pesan yang kaubawa. Kalau si penerima tidak sudi membaca pesan yang kaubawa, kau harus memikirkan berbagai macam cara agar si penerima mau membacanya." (hlm. 16)

SETELAH Jung-Hwa, ibu Dae-Ho meninggal, dan ia kecewa pada ayahnya, Dae-Ho meninggalkan rumah dan merantau ke Seoul. Dae-Ho, yang suka berjalan-jalan dan membahagiakan orang, diterima dengan mudah oleh Choi Hyun-Ki, ketika pemuda itu melamar kerja sebagai pengantar surat. Oleh karena Dae-Ho adalah satu-satunya kurir di sana, maka nama proyek pengantaran surat, yang sebelumnya Wings Express, diganti oleh Harabeoji Choi Hyun-Ki menjadi Dae-Ho's Delivery Service. Pada tugas perdananya, Dae-Ho telah menerima penolakan dari si penerima surat, dengan bonus guyuran air. Itulah salah satu alasan Harabeoji memperingatkannya untuk tahan banting. Setelah itu, Dae-Ho kena marah oleh seorang guru, kemudian akhirnya ia mendapat respon gembira dari penerima terakhir di hari pertama. Hari berikutnya lebih menantang, ternyata, ketika Dae-Ho harus mengantarkan surat untuk seorang gadis penderita Alzheimer. Namun, meski itu bukan tugas yang mudah, Dae-Ho berhasil membantu  Sang-Min, si pengirim surat, dan bahkan berteman dengannya.


Petualangan demi petualangan disambut oleh Dae-Ho dengan penuh semangat. Berkelana ke Busan, demi membacakan surat untuk seekor anjing bernama Nico, yang sedang terkena rabies. Man-Young, bocah laki-laki pemiliki anjing itu, adalah si pengirim surat. Sejak menolong Sang-Min, Dae-Ho terlibat makin jauh dalam kehidupan tiap kliennya. Termasuk membantu Man-Young untuk merelakan Nico.

"Baginya, meski kebohongan dilakukan demi kebaikan, kebohongan tetaplah kebohongan. Kebohongan akan membuat pedih hati yang dibohongi." (hlm. 70)

Surat keenam membawa Dae-Ho pulang ke kampung halamannya, Daegu. Di sana, ia menjadi saksi akan peristiwa mengharukan: rujuknya kembali dua orang sahabat yang telah terpisah selama 15 tahun. Surat ketujuh mengantarnya jadi saksi pertemuan kembali seorang anak dengan ibunya.

"Tidak akan ada anak yang melupakan ibu yang melahirkannya." (hlm. 115)

Dae-Ho juga sempat terlibat dengan boyband 6 Kings, membantu tertangkapnya pembunuh seorang pengirim surat, hingga surat yang ditulis Hyun-Ki sendiri, yang mengguncang dunia masa kini Dae-Ho. Makin jauh, petualangan-petualangan itu selalu punya cara untuk mengingatkan Dae-Ho akan permasalahannya sendiri, yang belum ia selesaikan. Ayahnya, yang membuatnya kecewa. Cho-Hee, adiknya, Hana, gadis yang disukainya, dan... ibu kandungnya, yang tak pernah ia sayangi.

***

NOVEL pemenang pertama #PSA3 yang diadakan oleh Grasindo ini saya dapatkan secara gratis dari memenangkan sebuah giveaway. Waktu itu, saya benar-benar ingin menang giveaway tersebut, karena saya penasaran akan isi cerita novel ini, seperti apa, sih, karya yang menjadi pemenang pertama #PSA3? Pasalnya, (menelan ludah pahit) mungkin saya sudah pernah menyinggung di postingan yang lain, saya juga ikut #PSA3 dan naskah saya nggak terpilih. (Padahal saya sudah sangat percaya diri. Well, saya memang selalu percaya diri, sih.)
Setelah membaca karya Kak Pretty ini, (saya membacanya saat tubuh saya lemas terserang diare dan menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran sambil baca buku--kalau untungnya lagi nggak pengin ke toilet), saya tahu mengapa novel ini menang #PSA3.

1. IDE CERITA yang unik. Ketika disuruh menulis novel bertema "Korea", saya nggak terpikir sama sekali akan mengulik kisah seorang pengantar surat, lho. Mungkin karena di zaman modern ini, surat konvensional sudah kalah pamor dibandingkan surat elektronik, aplikasi chat Android, dan sebagainya, jadi profesi pengantar surat mudah terabaikan dan terlupakan. Nah, melalui novel ini, penulis mengangkat kembali kisah pengantar surat, tapi dengan sentuhan yang unik. Keunikannya adalah terletak di "Dae-Ho harus memastikan surat dibaca oleh penerima" dan kombinasinya dengan teknologi modern. Hyun-Ki, sebagai penggagas proyek tersebut, mengelola juga website proyek, di mana para klien bisa menuliskan testimoni.

2. GAYA BERCERITA yang unik. Novel ini menjadi unik karena ia seolah terdiri dari beberapa flashfiction, masing-masing menceritakan latar belakang tiap klien, baik penerima, maupun pemberi surat, dan surat itu sendiri. Setiap flashfiction memiliki kisah menyentuh tersendiri. Namun, penulis tetap berhasil menjalin benang merah cerita secara keseluruhan.

3. TEMA & KISAH YANG INSPIRATIF. Kalau boleh, saya ingin menyebut tema utama novel ini sebagai "rekonsiliasi". Detailnya, rekonsiliasi dengan masa lalu demi masa depan yang lebih cerah. Klien-klien yang suratnya diantarkan oleh Dae-Ho, memiliki masalah dengan masa lalu. Rekonsiliasi juga mewujud dari "eksploitasi surat" demi membantu rekonsiliasi antara si pemberi dengan penerima surat. Seperti para kliennya, Dae-Ho juga bermasalah dengan masa lalu, dan dengan orang-orang terdekatnya dulu. Nah, tiap flashfiction memiliki subtema tersendiri. Misalnya, dalam kisah "Dia yang Dilupakan", subtemanya adalah percintaan dan kesetiaan.

Sementara itu, kisah "Kasih Anak Sepanjang Jalan" juga berbicara tentang kesetiaan--kesetiaan anak kepada orang tuanya. Dalam kisah ini, penulis juga menyampaikan kritik sosial. Kisah seorang nenek tua yang dipenjara karena didakwa mencuri bambu, barangkali mengingatkan kita akan serentetan berita serupa di media massa dalam negeri. Betapa kasihan orang setua itu harus mendekam di penjara! Kemudian, "6 Kings Forever" mengisahkan tentang persahabatan antaranggota boyband, yang ternodai oleh keegoisan dan berakhir mengharukan. Nah, ketiga cerita yang saya sebutkan itu adalah favorit saya ^^.

Surat dari seorang suami yang sudah meninggal kepada istrinya (dalam "Cinta Datang Terlambat") mengingatkan saya akan novel P.S.: I Love You karya Cecilia Ahern. Kemudian, kisah "The Next South Korean's Writer" menggelitik saya akan dunia akademis Korea Selatan, dan mungkin juga di Indonesia. Sering, seorang murid kurang dihargai oleh para gurunya karena ia hanya punya nilai bagus di satu mata pelajaran. Terlebih kalau mata pelajaran itu adalah Bahasa Korea (atau Bahasa Indonesia). Orang-orang akan lebih silau jika seorang anak punya nilai bagus dalam Fisika, Matematika, Kimia.... Bahkan, mahasiswa jurusan Sastra pun sering dipandang sebelah mata. (Kalau saya, sih, tetap bangga menjadi mahasiswi Teknik yang sebentar lagi wisuda *yakin banget*.)


4. PLOT. Plot yang digunakan pembaca maju-mundur, serta merupakan pertalian antara plot mayor dan plot minor yang beriringan secara harmonis.Jadi, pembaca bisa menikmati tiap flashfiction, seolah ia cerita terpisah, tapi juga tetap bisa mengikuti alur utama dengan baik. Plot mayor, tentu saja kisah Dae-Ho selama menjadi pengantar surat. Plot minor adalah alur yang dimiliki tiap kisah dari para klien. Meski begitu, agak disayangkan, karena cerita menjadi berpusat pada tiap kisah klien, dan menyudutkan Dae-Ho ke balik bayang-bayang. Pembaca mungkin akan lebih mendalami kisah para klien ketimbang kisah Dae-Ho sendiri.

Bisa dibilang, penulis menggunakan pola alur yang tertebak untuk setiap kisah klien. Namun, untungnya, penulis menyelipkan surprise, yang dipandu oleh teka-teki, yang membuat pembaca bertanya-tanya, sehingga terus membaca hingga akhir. Salah satunya adalah teka-teki yang disuratkan adegan ketika Hyun-Ki menatap foto bayi laki-laki "yang belakangan menjadi sumber kebahagiaannya" (hlm.101). Siapakah bayi laki-laki itu? Meski, bagi saya, teka-teki ini mudah sekali ditebak, hehe.

5. KARAKTER. Karakter utama novel ini memang Dae-Ho, ditambah Hyun-Ki, tapi pembaca mungkin akan lebih "mengenal" karakter para klien ketimbang si tokoh utama. Dae-Ho, digambarkan sebagai pemuda yang cerdas, suka berjalan-jalan, periang, suka membantu orang lain, tapi belum bisa berdamai dengan masa lalu. Sementara itu, susah untuk tidak menyukai tokoh Hyun-Ki. Berkat ia-lah, proyek pengantaran surat yang unik itu ada. Sosoknya, yang lebih seperti kakek sendiri ketimbang bos, selalu terlihat ceria.
6. SETTING TEMPAT. Oleh karena bertema "Korea", maka setting tempatnya tentu saja di Korea Selatan. Aktivitas pengantaran surat yang dilakukan Dae-Ho memberi keuntungan bagi penulis, yaitu bisa mengajak pembaca berkeliling kota-kota lain selain Seoul. Jangan harap kalian akan menemukan deskripsi tempat-tempat terkenal di Korea Selatan (seperti kecenderungan novel lokal berlatar Korea Selatan yang lain), karena ini bukan buku panduan wisata, wkwk.Alih-alih, penulis cukup menuangkan nuansa Korea Selatan melalui interaksi para tokohnya, sedikit penyebutan tempat, dan jalur-jalur subway yang diambil Dae-Ho ketika akan ke suatu tempat. Well, novel ini terasa Korea. Namun, saya merasa ada beberapa percakapan yang sepertinya lebih cocok ada di novel teenlit berlatarkan Indonesia. Kurang berasa "terjemahan". begitu. Berikut contohnya:

"Apa saya bilang, lebih baik dititipkan sama saya saja suratnya." (hlm. 21)

Kalimat tersebut akan lebih terasa "terjemahan" kalau seperti ini: "Apa kubilang, lebih baik kautitipkan padaku saja suratnya." Iya, nggak? Eh, nggak, ya? Ya, udah deh *ngambek*.

*Meski ngambek, tetep lanjut* Ada penggunaan kata yang menurut saya kurang pas.

"...karena sifat pemaluku yang akut." (hlm. 85)

Mungkin lebih tepat kalau kata "akut" diganti "kronis".

***

KEMBALI ke pertanyaan awal. Mengapa novel ini menang #PSA3? Barangkali, (karena pasti tiap orang punya pendapat tersendiri) karena kisah-kisah dalam novel ini bicara lantang tentang manusia. Tiap kisahnya mungkin mengingatkan kita akan permasalahan kita sendiri. Saya sering mengalami, betapa sulitnya berbicara jujur dan berdamai dengan seseorang. Betapa sulit mengakui kesalahan. Nah, betapa beruntungnya jika kita dibantu oleh pengantar surat seperti Dae-Ho ^^. Pada akhirnya, seperti Dae-Ho, kita harus berani berjumpa lagi dengan masa lalu yang pernah kita tinggalkan (kabur), dan berdamai dengannya. Sebuah novel yang manis dan inspiratif :).


Catatan nggak penting:
Resensi adalah salah satu pembayaran utang saya atas buku-buku yang sudah dibaca di tahun 2015 dan belum diresensi. Saya akan berusaha menebusnya!

6 November 2015

The First & Last Bookish Gift in October

Pict source: here, edited by me.

Maybe I can't be called as a kind of giveaway hunter, and to be exact, "book-giveaway hunter", but I always try not to miss the chance to get a (seemed-to-be-)good book. Above all, who can avoid enter a giveaway which offer a book included in your wishlist? Well, I have enter many giveaway this October, and the wheel of Fortune finally stops at my name. Once. Haha. And lucky me, I won this book (in a series of blogtour) at Atria's blog. (Thank you, Atria, for you have chose me among all the participants, hehe.)


Daeho's Delivery Service is the first winner of #PSA3 (Publisher Searching for Authors), held by Grasindo publisher. Maybe you wanna know why I'm interested in reading this book.... It's because:

1. I did send my own manuscript to #PSA3, and the manuscript didn't win (sigh). So, it comes to me naturally that I wanna read the winning book of competition that I can't win. Haha.
2. The reviews of this book that I have read, averagely give positive comments, and the synopsis is pretty intriguing for me.
3. The book's cover is cute!

That is the first and last bookish gift I got from giveaway in October, and the author, Pretty Angelia, sent it right away to me. Oh, she also sign this book for me. Can't wait to read it soon!

20 May 2015

[Resensi INSOMNIA] Yakin, Cowok A dan Cewek B Tidak Cocok?

Judul buku: Insomnia (Mr A vs Miss B)
Penulis: Flazia
Editor: Anin Patrajuangga
Tebal buku: vi + 202 halaman
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, Januari 2015
ISBN: 978-602-251-858-7
Harga buku: Rp 45.000,00
Rating saya: 4/5


Sebenarnya saya ingin membaca Mr O vs Miss B (karena katanya cewek B paling cocok berpasangan dengan cowok O), tapi ternyata belum ada novel seri Blood Type terbitan Grasindo yang tentang itu. Adanya Miss B dipasangkan dengan Mr A. Akhirnya saya beli, karena saya cewek B dan ingin berkaca pada tokoh yang kepribadiannya mirip dengan diri sendiri. Sudah cukup lama saya vakum nonton drama Korea dan baca novel/komik romantis, sehingga novel ini benar-benar mengobati kerinduan saya.

Seorang playgirl, Shin Yun-Hee, bertemu kembali dengan teman SMU-nya, yang dulu pernah menyatakan cinta padanya, tapi ia tolak karena alasan bahwa cewek B tidak cocok dengan cowok A. Masalah lainnya, lelaki itu, Kang Jeong-Tae, adalah seorang playboy! Seorang playboy dan seorang playgirl yang sama-sama terlibat dalam insiden Sunday Affair di Caffest, dengan masalah serupa: tertangkap basah oleh pasangannya sedang bersama dengan perempuan/laki-laki lain. Lalu, bagaimana jika dua orang sesama player itu memutuskan untuk berpacaran?


Kepribadian mereka yang bertolakbelakang—sebagai efek dari golongan darah B dan A—menimbulkan pertengkaran-pertengkaran yang selalu baru tiap hari. Pertengkaran itu mencapai puncaknya ketika Yun-Hee mengetahui rencana ayahnya—sang konglomerat yang bisa melakukan apa saja demi menjamin kebahagiaan putri semata wayangnya. Kepribadian Yun-Hee yang mencintai kebebasan dan mengutamakan kesuksesan dari hasil kerja keras sendiri membuatnya marah dan kecewa ketika mengetahui bahwa selama ini tangan ayahnyalah yang mengendalikan hidupnya. Di saat Yun-Hee mulai meragukan semuanya, apa yang akan ia lakukan?

-------------------------------------

Bahasa yang digunakan penulis cukup ringan. Alurnya tidak bertele-tele. Konflik yang diciptakan cukup menyentuh perasaan saya yang tengah kering akibat terlalu sering menonton film anarkis (sebut Game of Thrones) dan film detektif (sebut Conan dan serial Galileo). Suasana Korea benar-benar terasa, meski penulis tidak menjejalkan tempat-tempat menarik di Korea Selatan (nanti malah jadi buku panduan wisata). Suasana ini dibangun oleh kebudayaan dan tingkah laku para tokohnya, seperti yang juga dilakukan dengan baik oleh Ca dalam novelnya, Married, Single, and in Between

Kemajuan hubungan Yun-Hee dan Jeong-Tae berjalan agak terlalu cepat di awal, tapi setelah itu mengalir dengan ringan dan natural. Yang paling saya suka adalah bagian di mana Yun-Hee sadar bahwa selama itu Jeong-Tae telah melakukan banyak hal untuknya.

Beberapa Hal Menarik dari "Insomnia"

#1
Mengapa Judulnya "Insomnia"?


Insomnia memiliki peran penting dalam hubungan Yun-Hee dan Jeong-Tae. Insomnia menandai bahwa Yun-Hee, si gadis bergolongan-darah B yang egois itu mulai memikirkan orang lain. Ia melakukan itu demi menemani Jeong-Tae yang insomnia sejak ayahnya meninggal.
"Aku bahkan pura-pura insomnia hanya karena aku ingin memahami Jeong-Tae."
(Yun-Hee, hal. 166)
Masalah insomnia ini juga yang akhirnya mengantar mereka pada satu titik untuk saling mengerti rencana satu sama lain.
#2
Fenomena Golongan Darah di Korea Selatan

Sumber di sini.
Dari keempat golongan darah tersebut, termasuk yang manakah kamu? Atau, jangan-jangan kamu belum tahu apa golongan darahmu? (Mungkin kau berminat mencoba tes ini.) Ya, ini wajar sekali terjadi di Indonesia--banyak orang tidak tahu golongan darahnya. Sepertinya sangat tidak lazim, ya, ketika berkenalan dengan calon mertua, mereka menanyakan apa golongan darahmu. Di negara kita boleh seperti itu, tapi tidak di Jepang dan Korea Selatan. Bisa jadi, ketika mengobrol dengan orang Korea, ia akan mengajukan pertanyaan itu padamu. Ini hal yang cukup lumrah terjadi di sana, lantaran mereka percaya bahwa golongan darah seseorang mencerminkan kepribadiannya. Sehingga ada idiom, "What's yo name what's yo blood type?" [1].

Mungkin tidak 100% kriteria kepribadian kita cocok dengan teori itu, tapi menurut beberapa orang, golongan darah lebih dapat menggambarkan kepribadian dibandingkan astrologi. Meski begitu, teori ini memang belum terbukti secara ilmiah, seperti yang tak lupa dituliskan oleh Park Dong-sun dalam webtoon-nya yang terkenal, Simple Thinking About Blood Type. Park Dong-sun menuliskan komik itu berdasarkan pengalamannya dalam mengamati orang-orang di sekitarnya, dan yang lebih penting, komik itu ditulis just for fun!

Teori kepribadian berdasarkan golongan darah ini telah menjadi stereotip di Jepang dan Korea Selatan. Parahnya, pernah terjadi, lho, diskriminasi karena golongan darah! Seorang akademisi Jepang, Furukawa, pernah meneliti tentang rasisme terhadap orang Taiwan yang memberontak terhadap imperialisme Jepang. Peneliti menyimpulkan bahwa karena lebih dari 40% orang Taiwan bergolongan darah O--yang dipercaya memiliki sifat paling susah untuk tunduk pada sesuatu/seseorang--pihak Jepang melakukan kawin silang dengan mereka agar golongan darah O yang kental itu makin mencair. Meski begitu, banyak akademisi Jepang lainnya yang menentang teori itu karena dasar ilmiahnya lemah [2, 3].

Tren golongan darah ini kemudian terbawa ke Korea Selatan sejak akhir 1990-an, dan menjadi sangat populer di awal tahun 2000 sampai sekarang. Bahkan, ada aturan di dunia per-Kpop-an, bahwa para leader boyband/girlband dipilih berdasarkan golongan darahnya, lho, yaitu golongan darah A! Mereka ini dipercaya memiliki sifat bertanggung jawab, mematuhi aturan, dan suka melayani orang lain. Menyenangkan, bukan, jika pemimpin kita seperti itu?

Ada juga boyband/girlband yang dinamai berdasarkan golongan darah. Contohnya, boyband B1A4 (karena beranggotakan 1 B dan 4 A), atau fan base boyband MBLAQ yang bernama A+ karena semua anggota boyband itu bergolongan darah A.

Jung Yong-hwa, leader CNBlue, golongan darah A.

Lalu, orang bergolongan darah AB selalu dianggap alien, salah satunya adalah Heechul Super Junior, yang menyebut dirinya berkepribadian 4-dimensi.

Contoh gaya rambut dan tanda tangan Heechul Super Junior yang eksentrik.
Sumber di sini.


Inilah dua contoh stereotip. Dalam novel bertajuk Blood Type Series ini, sang penulis memang mematuhi teori kepribadian berdasarkan golongan darah. Namun, di sisi lain, ia juga menggagalkan stereotip tersebut. Misalnya, karakter tokoh Jeong-Tae (A).

Seharusnya: malu mengakui perasaan, sensitif pada apa yang dikatakan orang, lebih sulit bersosialisasi daripada B karena sifatnya yang pemalu, paling setia
Karakter Jeong-Tae: kadang dengan mudah mengatakan perasaannya, kadang tidak peduli dan menganggap ucapan yang tidak penting sebagai angin lalu, lumayan humoris & bisa bergaul dengan baik, playboy, perfeksionis, susah melupakan suatu kenangan.

Kalau berdasarkan teori, yang dianggap sebagai playboy adalah pria B. Bagi yang sedang punya pacar pria B, jangan khawatir, ini hanya stereotip, meski, ya, mungkin bisa saja cocok. Hehehe.

#3
Seoul yang Damai Saat Sooneung

Korea Selatan dikenal sebagai negara yang masyarakatnya sangat mementingkan pendidikan. Sepulang sekolah, anak-anak akan mengikuti berbagai kursus, seperti kursus musik atau melukis, atau les tambahan, yang tak jarang sampai larut malam. Mereka sudah biasa bekerja keras demi mendapatkan nilai bagus dan prestasi tinggi. Oleh karena itu, tidak heran, jika hari pelaksanaan ujian akhir alias sooneung, dihormati oleh seluruh penduduknya. 
“Inilah hari sakral  bagi semua penduduk Seoul! Sooneung tiba. Tahun-tahun sebelumnya aku menikmati hari sooneung karena pada hari itu Seoul menjadi kota yang damai demi menghormati terselenggaranya ujian.... kendaraan dilarang membunyikan klakson.... Orang-orang juga mulai bekerja sekitar pukul sepuluh agar saat pagi hari jalanan tidak macet.... Tidak ada aktivitas pesawat untuk sementara saat ujian dilaksanakan karena suara pesawat akan mengganggu bagi ujian listening comprehension. Bus umum juga datang lebih sering untuk mencegah keterlambatan peserta ujian. Sangat damai dan terkendali, ‘kan?” 
(Kang Jeong-Tae, hal. 133) 
Wah, keren sekali, ya? Bandingkan dengan kondisi di Indonesia saat ujian. Para penduduk yang tak punya anak atau saudara atau kerabat yang sedang ujian, pasti tidak peduli. Saya ingat, waktu tryout ujian nasional SMA dulu, sedang ada perbaikan entah apa di sekolah, yang menimbulkan kebisingan seperti suara mesin las. Dan sialnya, ruang kelas saya berada dekat dengan sumber suara itu.

#4
Istilah "Sunday Affair"

Istilah ini pertama kali saya dapati dari blurb di sampul belakang novel, dan disebut "tragedi". Penamaan ini membuat saya tertarik dan penasaran, sebenarnya apa, sih, Sunday Affair yang melibatkan Yun-Hee dan Jeong-Tae ini? Setelah membaca bab pertama yang berjudul Sunday Affair juga, ternyata istilah ini digunakan penulis untuk menamai insiden perselingkuhan di Caffest. Waktu itu Yun-Hee dan Jeong-Tae sama-sama tertangkap basah sedang berselingkuh oleh kekasih masing-masing.


#5
Fisik Buku yang Unyu

Pertama, sampul depan yang simpel dan lucu. Kemudian, ilustrasi berikut ini dan pembatas buku yang berupa stiker.

Ilustrasi di halaman pertama setelah sampul depan.
Gambar para tokoh yang akan terlibat di Blood Type Series.
Pembatas buku berupa stiker gambar kartun tokoh.
Hal-hal menarik tersebut cukup memikat hati saya, sehingga saya menghadiahkan rating 4/5 untuk novel manis ini ^^.

bloggerwidgets