Showing posts with label lomba. Show all posts
Showing posts with label lomba. Show all posts

20 March 2016

So Many Books, So Little Time



Melalui buku, Jorge Luis Borges menemukan kesenangan, dengan jenis yang berbeda-beda untuk tiap buku yang berbeda. Kesenangan yang ia dapatkan saat membaca Arabian Nights tentu berbeda dengan yang ia dapatkan dari Moby Dick. Kesenangan itu seolah telah melebur dalam ingatannya dan tak lekang oleh waktu, sampai saat ia menceritakan buku-buku paling penting dalam hidupnya dalam ceramah bertajuk “Kredo Seorang Penyair” di Harvard University. Dalam kebutaan yang ia alami kemudian (di tahun 1955), tali-tali kehidupan seolah mengikatnya tetap erat dengan buku, yang terlihat jelas ketika ia diangkat menjadi direktur Perpustakaan Nasional dan bertanggung jawab atas sembilan ratus ribu buku. Ironisnya, ia hanya bisa membelai punggung-punggung buku itu tanpa bisa lagi membacanya.

“Tak seorang pun yang mesti membaca dengan mengasihani

atau mencemooh

terhadap pernyataan tentang kebesaran Tuhan ini;

yang dengan ironi yang berlebihan

menghadiahiku buku-buku dan kebutaan secara

bersamaan”
Poem of the Gifts--Jorge Luis Borges
(Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, hlm. 96-7)

Dalam mencintai buku, saya merasa memiliki beberapa kesamaan dengan penulis kenamaan Argentina tersebut. Saya juga sering “membayangkan surga itu sebagai semacam perpustakaan” (Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, hlm. 96), tempat saya bisa berenang-renang di dalam tumpukan buku—seperti Paman Gober yang berenang dalam lautan koin emasnya; menghirup bau kertas dan lem penjilidnya; mengecap tiap kisah yang terukir dalam lembaran-lembarannya.

Inilah yang benar-benar terjadi: saya mengalami goosebumps ketika menemukan banyak sekali novel berbahasa Inggris—dari yang klasik sampai pop—berderet-deret di rak American Corner di Perpustakaan Pusat UGM. Sempat, saya ingin membaca semuanya sebelum saya wisuda dan KTM saya disita, sehingga saya tidak bisa pinjam buku lagi, tapi apalah daya, so many books, so little time. Pada akhirnya, yang sempat saya pinjam dan telah saya tamatkan hanyalah Safe Haven (Nicholas Sparks), Thousand Cranes (Yasunari Kawabata), The Trial (Franz Kafka), sebuah kumpulan cerpen Anton Chekhov. Yang belum berhasil saya tamatkan banyak. Salah satu alasannya adalah bahasa Inggrisnya yang saya rasa terlalu klasik sehingga saya tidak kuat melahapnya sampai habis, misalnya To Kill A Mockingbird (Harper Lee) dan Lolita (Vladimir Nabokov).

Perasaan thrilled dan bergairah juga saya alami tiap masuk ke toko buku. Sebelum saya kuliah di Yogyakarta, saya selalu kesulitan membeli buku. Di kota tempat lahir saya, Juwana, tidak ada toko buku. Beruntung, saya pernah masuk ke toko alat tulis, yang ternyata menjual sedikit novel lama (yang saya duga pihak toko itu mendapatkannya dari obralan Gramedia entah di mana). Di toko itulah saya menemukan dan membeli novel She’ll Take It (Mary Carter), yang konyolnya minta ampun itu. Di Pati pun, kota tempat saya menambang ilmu di SMA, hanya ada satu toko buku yang benar-benar isinya buku semua, di mana saya membeli beberapa buku, salah satunya The Bonesetter's Daughter (Amy Tan). Itupun, koleksi bukunya tidak up-to-date. Inilah mengapa, tiap kali saya berkesempatan pergi ke Semarang atau kota besar lainnya, satu tempat yang wajib saya kunjungi adalah toko buku Gramedia atau Gunung Agung (biasanya saya temukan saat nge-mall).

Jadi, paham, kan, betapa bahagianya saya saat toko buku Gramedia dan Togamas begitu mudah saya temukan di Yogyakarta? Pun di kota istimewa ini, sering sekali diadakan event pesta buku, bazaar buku, bahkan sale gudang Gramedia yang penuh buku dan debu—yang sepertinya sulit ditemukan di kota besar lain. Bahkan, ada juga diskon buku terjadwal, seperti di Togamas (dulu semua novel diskon 25% tiap Jumat di Togamas Galeria, lalu belakangan saya selalu memburunya tiap Selasa di Togamas Affandi). Selain itu, acara-acara lain tentang buku juga sering ditemukan di Yogyakarta.

Oleh karena itu, bukan sepenuhnya salah saya jika semasa kuliah sampai sekarang saya aktif berprofesi sebagai penimbun buku. Keisengan mendatangi acara pesta buku atau sekadar main ke toko buku selepas suntuk kuliah Mekanika Fluida hari Jumat sore biasanya berujung pada buku baru yang diboyong ke kamar kos. Setelah saya jadi book reviewer DIVA Press—yang mendapat 3 buku baru gratis tiap bulan untuk diresensi—dan menjadi giveaway hunter, rak buku saya tidak muat lagi. Akhirnya, kolong meja dan lemari saya pun jadi penuh buku. Belum baca buku yang baru dibeli kemarin, besoknya sudah dapat buku baru lagi. Begitu seterusnya. So many books, so little time. So many books, so little space.

Saya menemukan “kehidupan yang lain” di dalam setiap buku yang saya baca, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Dalam buku fiksi, saya selalu bisa menemukan fakta dalam imajinasi. Sementara itu, dalam buku nonfiksi, saya menikmati cerita tentang fakta. Hal lain yang saya kagumi dari buku adalah, betapa ia bisa berbicara menembus batas-batas dimensi ruang dan waktu. Ketika dunia empat dimensi masih rumit dan sulit dijelaskan secara ilmiah, ternyata sejak awal mula lahirnya, buku telah berhasil mewujudkan dunia empat dimensi ini. Begini, ketika membaca Bumi Manusia karya Pram, maka saya akan tersedot dalam masa penjajahan dengan setting daerah Surabaya. Ketika membaca Lukisan Dorian Gray (Oscar Wilde), saya akan menemukan diri saya berada di Inggris, di era Victoria. Saya menemukan diri saya tegang di dalam suasana serangan Jepang atas Cina dalam novel The Devil of Nanking karya Mo Hayder. Dalam seri In Death (J.D. Robb), Letnan Eve Dallas mengajak saya bertualang memecahkan misteri-misteri pembunuhan di masa depan, lengkap dengan segala peralatan teknologi super canggih. Lain lagi dengan buku-buku dystopia, yang menyeret saya untuk menyaksikan kehancuran bumi di masa depan.

Jauh sebelum saya menyelami dunia kepenulisan, saya lebih dulu membaca. Saya sudah membaca buku sejak awal saya belajar membaca. Ketika masih TK dulu (atau bahkan sebelum masuk TK), ibu saya meminjam banyak buku cerita bergambar dari seorang teman gereja, untuk kemudian menyodorkannya pada saya. Di rumah, di tengah hamparan buku-buku cerita bergambar yang terbuka, saya menemukan kebahagiaan. Hansel dan Gretel, Gadis Berkerudung Merah, Gadis Korek Api, dan entah apa lagi, saya lupa. Saya juga punya buku cerita Putri Aurora yang ditulis menggunakan sistem “go to”, yang sangat menarik karena mengajak saya memilih sendiri kelanjutan cerita. Kemudian tibalah suatu masa di mana sepupu saya yang sudah beranjak dewasa membawa semua koleksi majalah komik Donal Bebek dan Doraemon-nya ke rumah saya. Tiada momen saya lewati tanpa membacanya. Jarang sekali saya buang air besar tanpa baca buku. Makan adalah momen yang nyaris selalu saya lewati sambil baca buku.

Saat SD, saya sering membaca buku yang dipinjam kakak saya dari perpustakaan SMA-nya (yang kemudian jadi SMA saya juga). Yang paling sering adalah buku kumpulan cerita rakyat dari berbagai kota di Nusantara. Saat SMP, saya menjadi satu-satunya penghuni perpustakaan sempit di sekolah saya. Saya gemar meminjam novel-novel detektif cilik. Yang paling saya ingat, karena setelah lulus SMP saya tak menjumpai lagi buku serupa, adalah serial Kalle Blomkvist karya Astrid Lindgren. Di masa itu juga pertama kalinya saya membaca Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh-nya Dee. (Bagi otak polos saya waktu itu, istilah solarplexus yang saya temukan di KPBJ menjadi semacam kata keramat bagi saya.) Buku Harry Potter pertama kali menginvasi saya juga di masa itu. Saya ingat sekali, bagaimana dunia fantasi ciptaan Rowling itu berhasil menelan saya, hingga kewajiban saya menyapu rumah tiap sore sering terbengkalai begitu saya duduk halaman belakang rumah, menunduk di atas buku Harry Potter di pangkuan.

Perpustakaan SMA adalah antitesis dari perpustakaan SMP saya. Banyak sekali novel bersemayam di sana, bahkan sering berdatangan novel-novel baru. Selain itu, banyak teman perempuan saya yang suka baca, sehingga kami sering rebutan antrian meminjam novel-novel terbaru. Saking larisnya, banyak novel yang penjilidnya telah lepas padahal baru saja beberapa bulan menjadi penghuni perpustakaan. Barangkali yang paling lekat di ingatan saya adalah novel-novel detektif (Trio Detektif, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Hercule Poirot, seri In Death); novel thriller (Summer in Hell alias The Ruins dan Birdman, yang sering bikin saya ngilu waktu membayangkan adegan sayat-menyayat, iris-mengiris, atau operasi tanpa bius). Saat SMA, genre favorit saya adalah thriller dan slasher (baik novel maupun film), hingga saya cemas kalau nanti saya ikut-ikutan jadi psikopat. Film Saw adalah salah satu film favorit saya waktu itu, btw.

Namun, di masa itu, saya juga telah tercemar novel-novel Metropop, dan merasa bahwa novel teenlit "nggak banget". Kalau sebelumnya saya suka baca teenlit Gramedia, menginjak kelas XI saya menyukai romance Gagasmedia yang lebih dewasa, selain Metropop. Salah satu favorit saya adalah Winter in Tokyo karya Ilana Tan

Ternyata, sejak dulu, kemampuan dan preferensi bacaan saya senantiasa mengalami perubahan. Belakangan ini saya gemar melahap cerpen dan novel sastra (yang klasik maupun bukan), domestik maupun luar negeri. Baru-baru ini, saya menamakan diri extrovert reader. Istilah ini bisa dimaknai sebagai pembaca yang suka bertualang lintas genre. Meski begitu, saya tetaplah seorang gadis introver. Kalau tidak introver, mungkin saya tak akan segemar itu membaca buku.

“Introverts feel ‘just right’ with less stimulation, as when they sip wine with a close friend, solve a crossword puzzle, or read a book. […] [Although] We can’t say that every introvert is a bookworm or every extrovert wears lampshades at parties…” (Susan Cain in Quiet)

Jika dulu saya selalu bergairah tiap ke toko buku, dan terbilang sering main ke sana, belakangan ini tidak lagi. Pasalnya, saya sering mendapat buntelan buku gratis, pun dilimpahi setumpuk buku pinjaman dari teman, serta e-book berjubelan dalam kartu memori tablet. Oleh karena itu, saya merasa tak butuh lagi membeli buku, kecuali memang ada buku yang saya rasa wajib memilikinya sendiri (seperti Tetralogi Buru dan Inteligensi Embun Pagi). Atau jika ada buku terjemahan yang ingin sekali saya baca, tapi saya tak bisa menemukan e-book versi aslinya, maka saya akan membelinya. Atau kalau ada lomba menulis resensi buku dan saya diwajibkan membeli bukunya. Kalau bisa gratis, kenapa harus beli, begitulah prinsip saya :-h.

Meski sejak memiliki tablet di tahun 2014 saya cukup sering membaca e-book, buku fisik tetap jadi favorit. Namun, saya sadar, di masa depan sangat mungkin semua buku baru akan tidak memiliki wujud fisik. Jika saat itu tiba, saya ingin jadi salah satu manusia yang masih punya koleksi berderet-deret buku di rumahnya.

Sejak tahun 2013, saya gemar menulis resensi buku. Buku pertama yang saya resensi adalah Notasi karya Morra Quatro. Semenjak itu, ratusan resensi (seratus lebih bisa disebut “ratusan”, nggak? :)]) telah saya terbitkan di blog saya. Tahun berikutnya, saya menjadi book reviewer DIVA Press, yang bertugas meresensi buku-buku terbitan barunya tiap bulan. Di tahun 2014 itu pula saya bergabung dengan komunitas Blogger Buku Indonesia, dan sampai sekarang, bisa dibilang, saya masih berapi-api menjadi book blogger.

Dari buku-buku yang saya baca, saya belajar banyak. Sejak jadi book reviewer, otak saya makin terlatih dalam menganalisis buku. Saya suka mengupas lapis demi lapis elemen sastra yang sering tersembunyi di balik simbol dan alegori. Salah satu karya sastra yang membuat saya paling bergairah saat mengupasnya adalah Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan.

Sepanjang saya menulis, saya tak akan berhenti membaca buku. Begitu pula sebaliknya. Suatu saat nanti, saya berharap berhasil menuliskan “sastra sejati”.

“Titik mula sastra sejati adalah orang yang mengurung dirinya di kamar bersama buku-bukunya.” -- Orhan Pamuk (Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, hlm. 151)

Membaca telah menjadi lebih daripada hobi bagi saya. Ia sudah menjelma semacam cinta sejati saya, yang jika berpisah sebentar saja, saya akan merasa ada yang hilang. Maka dari itu, jiwa saya tak utuh lagi jika saya berhenti membaca. Akhirnya, mengingat “so many books, so little time”, saya memutuskan untuk membaca sebanyak mungkin buku selagi saya bisa.

*Judul tulisan ini saya pinjam dari sebuah petikan milik Franz Zappa.

13 January 2016

[Resensi Dae-Ho's Delivery Service] Harga Sebuah Rekonsiliasi

Judul: Dae-Ho's Delivery Service
Penulis: Pretty Angelia
Editor: Cicilia Prima
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, Agustus 2015
Tebal: vi + 226 halaman
ISBN: 978-602-375-164-8
Harga: Rp 48.000,00
Rating saya: 4/5

Han Dae-Ho, memutuskan tinggal sendiri di Seoul setelah ia mengetahui bahwa ia bukanlah anak kandung dari kedua orang tua yang ia sayangi. Dua bulan setelah menetap di Seoul, Dae-Ho mendapatkan pekerjaan sebagai pengantar surat. Dae-Ho akhirnya tahu ia bukanlah pengantar surat biasa. Choi Hyun-Ki, bosnya, menyuruhnya menjamin bahwa si penerima surat membaca surat itu. Karena surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah disangka akan didapatkan si penerima.

Dae-Ho sangat menikmati pekerjaannya. Meski begitu, ia tetap sulit melupakan keluarganya yang selama ini menemani hari-harinya. Termasuk Hana, gadis blasteran Korea dan Amerika Serikat yang sangat disukainya. Semakin Dae-Ho lari dari masa lalunya, masa lalu itu justru tiba-tiba datang di hadapannya. Dae-Ho pun bertanya-tanya, mengapa ia memerankan sebuah drama yang tidak pernah ingin dilakoninya itu?


"..kau harus mengantar pesan berupa surat langsung ke penerimanya dan memastikan si penerima membaca pesan yang kaubawa. Kalau si penerima tidak sudi membaca pesan yang kaubawa, kau harus memikirkan berbagai macam cara agar si penerima mau membacanya." (hlm. 16)

SETELAH Jung-Hwa, ibu Dae-Ho meninggal, dan ia kecewa pada ayahnya, Dae-Ho meninggalkan rumah dan merantau ke Seoul. Dae-Ho, yang suka berjalan-jalan dan membahagiakan orang, diterima dengan mudah oleh Choi Hyun-Ki, ketika pemuda itu melamar kerja sebagai pengantar surat. Oleh karena Dae-Ho adalah satu-satunya kurir di sana, maka nama proyek pengantaran surat, yang sebelumnya Wings Express, diganti oleh Harabeoji Choi Hyun-Ki menjadi Dae-Ho's Delivery Service. Pada tugas perdananya, Dae-Ho telah menerima penolakan dari si penerima surat, dengan bonus guyuran air. Itulah salah satu alasan Harabeoji memperingatkannya untuk tahan banting. Setelah itu, Dae-Ho kena marah oleh seorang guru, kemudian akhirnya ia mendapat respon gembira dari penerima terakhir di hari pertama. Hari berikutnya lebih menantang, ternyata, ketika Dae-Ho harus mengantarkan surat untuk seorang gadis penderita Alzheimer. Namun, meski itu bukan tugas yang mudah, Dae-Ho berhasil membantu  Sang-Min, si pengirim surat, dan bahkan berteman dengannya.


Petualangan demi petualangan disambut oleh Dae-Ho dengan penuh semangat. Berkelana ke Busan, demi membacakan surat untuk seekor anjing bernama Nico, yang sedang terkena rabies. Man-Young, bocah laki-laki pemiliki anjing itu, adalah si pengirim surat. Sejak menolong Sang-Min, Dae-Ho terlibat makin jauh dalam kehidupan tiap kliennya. Termasuk membantu Man-Young untuk merelakan Nico.

"Baginya, meski kebohongan dilakukan demi kebaikan, kebohongan tetaplah kebohongan. Kebohongan akan membuat pedih hati yang dibohongi." (hlm. 70)

Surat keenam membawa Dae-Ho pulang ke kampung halamannya, Daegu. Di sana, ia menjadi saksi akan peristiwa mengharukan: rujuknya kembali dua orang sahabat yang telah terpisah selama 15 tahun. Surat ketujuh mengantarnya jadi saksi pertemuan kembali seorang anak dengan ibunya.

"Tidak akan ada anak yang melupakan ibu yang melahirkannya." (hlm. 115)

Dae-Ho juga sempat terlibat dengan boyband 6 Kings, membantu tertangkapnya pembunuh seorang pengirim surat, hingga surat yang ditulis Hyun-Ki sendiri, yang mengguncang dunia masa kini Dae-Ho. Makin jauh, petualangan-petualangan itu selalu punya cara untuk mengingatkan Dae-Ho akan permasalahannya sendiri, yang belum ia selesaikan. Ayahnya, yang membuatnya kecewa. Cho-Hee, adiknya, Hana, gadis yang disukainya, dan... ibu kandungnya, yang tak pernah ia sayangi.

***

NOVEL pemenang pertama #PSA3 yang diadakan oleh Grasindo ini saya dapatkan secara gratis dari memenangkan sebuah giveaway. Waktu itu, saya benar-benar ingin menang giveaway tersebut, karena saya penasaran akan isi cerita novel ini, seperti apa, sih, karya yang menjadi pemenang pertama #PSA3? Pasalnya, (menelan ludah pahit) mungkin saya sudah pernah menyinggung di postingan yang lain, saya juga ikut #PSA3 dan naskah saya nggak terpilih. (Padahal saya sudah sangat percaya diri. Well, saya memang selalu percaya diri, sih.)
Setelah membaca karya Kak Pretty ini, (saya membacanya saat tubuh saya lemas terserang diare dan menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran sambil baca buku--kalau untungnya lagi nggak pengin ke toilet), saya tahu mengapa novel ini menang #PSA3.

1. IDE CERITA yang unik. Ketika disuruh menulis novel bertema "Korea", saya nggak terpikir sama sekali akan mengulik kisah seorang pengantar surat, lho. Mungkin karena di zaman modern ini, surat konvensional sudah kalah pamor dibandingkan surat elektronik, aplikasi chat Android, dan sebagainya, jadi profesi pengantar surat mudah terabaikan dan terlupakan. Nah, melalui novel ini, penulis mengangkat kembali kisah pengantar surat, tapi dengan sentuhan yang unik. Keunikannya adalah terletak di "Dae-Ho harus memastikan surat dibaca oleh penerima" dan kombinasinya dengan teknologi modern. Hyun-Ki, sebagai penggagas proyek tersebut, mengelola juga website proyek, di mana para klien bisa menuliskan testimoni.

2. GAYA BERCERITA yang unik. Novel ini menjadi unik karena ia seolah terdiri dari beberapa flashfiction, masing-masing menceritakan latar belakang tiap klien, baik penerima, maupun pemberi surat, dan surat itu sendiri. Setiap flashfiction memiliki kisah menyentuh tersendiri. Namun, penulis tetap berhasil menjalin benang merah cerita secara keseluruhan.

3. TEMA & KISAH YANG INSPIRATIF. Kalau boleh, saya ingin menyebut tema utama novel ini sebagai "rekonsiliasi". Detailnya, rekonsiliasi dengan masa lalu demi masa depan yang lebih cerah. Klien-klien yang suratnya diantarkan oleh Dae-Ho, memiliki masalah dengan masa lalu. Rekonsiliasi juga mewujud dari "eksploitasi surat" demi membantu rekonsiliasi antara si pemberi dengan penerima surat. Seperti para kliennya, Dae-Ho juga bermasalah dengan masa lalu, dan dengan orang-orang terdekatnya dulu. Nah, tiap flashfiction memiliki subtema tersendiri. Misalnya, dalam kisah "Dia yang Dilupakan", subtemanya adalah percintaan dan kesetiaan.

Sementara itu, kisah "Kasih Anak Sepanjang Jalan" juga berbicara tentang kesetiaan--kesetiaan anak kepada orang tuanya. Dalam kisah ini, penulis juga menyampaikan kritik sosial. Kisah seorang nenek tua yang dipenjara karena didakwa mencuri bambu, barangkali mengingatkan kita akan serentetan berita serupa di media massa dalam negeri. Betapa kasihan orang setua itu harus mendekam di penjara! Kemudian, "6 Kings Forever" mengisahkan tentang persahabatan antaranggota boyband, yang ternodai oleh keegoisan dan berakhir mengharukan. Nah, ketiga cerita yang saya sebutkan itu adalah favorit saya ^^.

Surat dari seorang suami yang sudah meninggal kepada istrinya (dalam "Cinta Datang Terlambat") mengingatkan saya akan novel P.S.: I Love You karya Cecilia Ahern. Kemudian, kisah "The Next South Korean's Writer" menggelitik saya akan dunia akademis Korea Selatan, dan mungkin juga di Indonesia. Sering, seorang murid kurang dihargai oleh para gurunya karena ia hanya punya nilai bagus di satu mata pelajaran. Terlebih kalau mata pelajaran itu adalah Bahasa Korea (atau Bahasa Indonesia). Orang-orang akan lebih silau jika seorang anak punya nilai bagus dalam Fisika, Matematika, Kimia.... Bahkan, mahasiswa jurusan Sastra pun sering dipandang sebelah mata. (Kalau saya, sih, tetap bangga menjadi mahasiswi Teknik yang sebentar lagi wisuda *yakin banget*.)


4. PLOT. Plot yang digunakan pembaca maju-mundur, serta merupakan pertalian antara plot mayor dan plot minor yang beriringan secara harmonis.Jadi, pembaca bisa menikmati tiap flashfiction, seolah ia cerita terpisah, tapi juga tetap bisa mengikuti alur utama dengan baik. Plot mayor, tentu saja kisah Dae-Ho selama menjadi pengantar surat. Plot minor adalah alur yang dimiliki tiap kisah dari para klien. Meski begitu, agak disayangkan, karena cerita menjadi berpusat pada tiap kisah klien, dan menyudutkan Dae-Ho ke balik bayang-bayang. Pembaca mungkin akan lebih mendalami kisah para klien ketimbang kisah Dae-Ho sendiri.

Bisa dibilang, penulis menggunakan pola alur yang tertebak untuk setiap kisah klien. Namun, untungnya, penulis menyelipkan surprise, yang dipandu oleh teka-teki, yang membuat pembaca bertanya-tanya, sehingga terus membaca hingga akhir. Salah satunya adalah teka-teki yang disuratkan adegan ketika Hyun-Ki menatap foto bayi laki-laki "yang belakangan menjadi sumber kebahagiaannya" (hlm.101). Siapakah bayi laki-laki itu? Meski, bagi saya, teka-teki ini mudah sekali ditebak, hehe.

5. KARAKTER. Karakter utama novel ini memang Dae-Ho, ditambah Hyun-Ki, tapi pembaca mungkin akan lebih "mengenal" karakter para klien ketimbang si tokoh utama. Dae-Ho, digambarkan sebagai pemuda yang cerdas, suka berjalan-jalan, periang, suka membantu orang lain, tapi belum bisa berdamai dengan masa lalu. Sementara itu, susah untuk tidak menyukai tokoh Hyun-Ki. Berkat ia-lah, proyek pengantaran surat yang unik itu ada. Sosoknya, yang lebih seperti kakek sendiri ketimbang bos, selalu terlihat ceria.
6. SETTING TEMPAT. Oleh karena bertema "Korea", maka setting tempatnya tentu saja di Korea Selatan. Aktivitas pengantaran surat yang dilakukan Dae-Ho memberi keuntungan bagi penulis, yaitu bisa mengajak pembaca berkeliling kota-kota lain selain Seoul. Jangan harap kalian akan menemukan deskripsi tempat-tempat terkenal di Korea Selatan (seperti kecenderungan novel lokal berlatar Korea Selatan yang lain), karena ini bukan buku panduan wisata, wkwk.Alih-alih, penulis cukup menuangkan nuansa Korea Selatan melalui interaksi para tokohnya, sedikit penyebutan tempat, dan jalur-jalur subway yang diambil Dae-Ho ketika akan ke suatu tempat. Well, novel ini terasa Korea. Namun, saya merasa ada beberapa percakapan yang sepertinya lebih cocok ada di novel teenlit berlatarkan Indonesia. Kurang berasa "terjemahan". begitu. Berikut contohnya:

"Apa saya bilang, lebih baik dititipkan sama saya saja suratnya." (hlm. 21)

Kalimat tersebut akan lebih terasa "terjemahan" kalau seperti ini: "Apa kubilang, lebih baik kautitipkan padaku saja suratnya." Iya, nggak? Eh, nggak, ya? Ya, udah deh *ngambek*.

*Meski ngambek, tetep lanjut* Ada penggunaan kata yang menurut saya kurang pas.

"...karena sifat pemaluku yang akut." (hlm. 85)

Mungkin lebih tepat kalau kata "akut" diganti "kronis".

***

KEMBALI ke pertanyaan awal. Mengapa novel ini menang #PSA3? Barangkali, (karena pasti tiap orang punya pendapat tersendiri) karena kisah-kisah dalam novel ini bicara lantang tentang manusia. Tiap kisahnya mungkin mengingatkan kita akan permasalahan kita sendiri. Saya sering mengalami, betapa sulitnya berbicara jujur dan berdamai dengan seseorang. Betapa sulit mengakui kesalahan. Nah, betapa beruntungnya jika kita dibantu oleh pengantar surat seperti Dae-Ho ^^. Pada akhirnya, seperti Dae-Ho, kita harus berani berjumpa lagi dengan masa lalu yang pernah kita tinggalkan (kabur), dan berdamai dengannya. Sebuah novel yang manis dan inspiratif :).


Catatan nggak penting:
Resensi adalah salah satu pembayaran utang saya atas buku-buku yang sudah dibaca di tahun 2015 dan belum diresensi. Saya akan berusaha menebusnya!

15 April 2015

[GIVEAWAY MARATHON] Unfortunately, There's No Winner This Episode


Batas waktu GA Marathon #3 ini sudah berakhir tanggal 8 April lalu, dan jumlah pesertanya jauh lebih sedikit dibandingkan episode sebelum-sebelumnya. Mungkin karena genre buku yang saya wajibkan adalah horror, ya? Memang, resensi buku ber-genre ini sangat jarang saya jumpai, dan ini juga berlaku bagi diri saya sendiri. Saya baru pernah meresensi dua novel horror. Hehehe.

Sayang sekali, tidak ada resensi yang menjadi pemenang kali, karena tidak ada yang memuaskan dalam sudut pandang penilaian saya. Saya mohon maaf kepada semua peserta :'(. Buku yang seharusnya menjadi hadiah GA episode 3 ini akan saya hibahkan untuk episode yang lain. Belajar dari pengalaman ini, saya berpikir untuk mengubah syarat dan peraturan GA Marathon untuk episode 4 dan seterusnya. Terima kasih ^^

Episode 4 >>>

[GIVEAWAY MARATHON] Episode #4 16 - 30 April 2015


Hai, semuanya! Mulai episode ini, syarat dan peraturan mengikuti giveaway saya ubah--tentunya menjadi lebih mudah dan bersahabat bagi siapa saja ^^. Tak perlu menulis resensi untuk mengikuti giveaway kali ini, karena saya akan menentukan pemenangnya dengan undian. (Jadi, berdoalah semoga keberuntunganmu cukup besar! Hehehe).

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 16 April sampai 30 April 2015.

Ada satu buku Sherlock Holmes: Petualangan di Rumah Kosong dan satu buku Haseki Sultan yang akan saya berikan pada satu orang pemenang beruntung. Dua buku tersebut cukup saya sukai, apalagi yang pertama, karena saya adalah penggemar serial Sherlock Holmes. Petualangan di Rumah Kosong itu terdiri dari delapan kisah petualangan Sherlock Holmes bersama dr. Watson, dan kesemuanya masih ditulis dengan sudut pandang "aku" dr. Watson. Beberapa dari delapan kisah itu (salah satunya adalah Kasus Terakhir, di mana Holmes mati bersama Moriarty) telah difilmkan dalam Sherlock Holmes versi serial yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch. Salah satu kutipan yang paling saya sukai dari buku ini adalah:
"Kamu melihat tapi tidak mengamati. Perbedaannya besar sekali."
(Sherlock Holmes)
Buku yang kedua, Haseki Sultan, karya Zhaenal Fanani, merupakan novel roman sejarah yang berlatarkan kerajaan Ottoman di Turki sekitar abad ke-15 sampai abad ke-16. Tokoh utama perempuan dalam novel ini adalah seorang haseki sultan yang benar-benar hidup di zaman itu, bernama Roxelana. Unsur-unsur sejarah begitu kental, sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan, di samping menghibur pembaca dengan serangkaian intrik kerajaan yang menegangkan.

Untuk mengikuti giveaway ini, syaratnya, cukup mengisi Google form di bawah ini ^^.
Selamat mengikuti, dan semoga beruntung!




31 March 2015

[GIVEAWAY MARATHON] TANTANGAN MENULIS RESENSI BERHADIAH BUKU #3

Picture source here, edited by me.

Selamat datang di rangkaian Giveaway Marathon Episode 3!

Seperti biasa, ketentuan mengikuti giveaway ini adalah sebagai berikut.

  1. Buku yang diresensi harus ber-genre horror (boleh dari penulis domestik maupun luar negeri).
  2. Buat resensi semenarik mungkin, lalu unggah ke blog/Kompasiana/media yang lain.
  3. Resensi buku dengan genre horror yang pernah diunggah sebelumnya boleh diikutsertakan.
  4. Tidak ada batasan pengiriman jumlah resensi, asal genre-nya sesuai ketentuan.
  5. Hadiah: buku Immortality of Shadow dan satu buku bonus.
Silakan mengirimkan link ke resensimu melalui form berikut ini. Ikuti langkah-langkahnya dengan sabar dan ceria, ya--eh, dengan benar maksudnya. Jangan lupa, genre buku yang diresensi harus horror ^^. Bagikan juga info lomba ini ke teman-temanmu!

Good luck! ^^

[GIVEAWAY MARATHON] The Winner Announcement of Episode 2

Hello, all! I'm sorry of being late in announcing the winner for this episode >,< . I can't keep my promise to publish the announcement at the latest a week after I closed the giveaway.... But, I've read all the submitted review link, and I choose this one to be the winner of episode 2:


You can read her review too, here.

Secara alami, saya suka membaca resensi buku yang ditulis secara lengkap--bukan berarti harus panjang--tapi lengkap dalam hal struktur dan isinya. Ada sinopsis dan analisis. Sinopsis seharusnya ringkas saja, dan harus tetap bikin pembaca penasaran akan bukunya. Kemudian, analisis adalah bagian terpenting dari resensi. Kalau nggak ada analisis, namanya bukan resensi, tapi sekadar pamer buku. Hehehe.

Aya Murning, dalam resensinya ini, menuliskan secara lengkap, mulai dari sinopsis (hmm, itu lebih tepat disebut "blurb", ya?), sedikit penjelasan tentang seri Bluestroberi, lalu ringkasan jalan cerita. Kemudian, di bagian analisis, ia mengkritisi seputar dunia badminton yang digeluti salah satu tokoh dan beberapa bagian dari buku yang kurang logis. Seorang penulis resensi tidak hanya gencar mengkritisi, dong, tapi juga menunjukkan kelebihan buku yang diresensi. Dalam resensi ini, Ayu Murning juga menyampaikan kelebihan novel "Apple Wish".

Sekali lagi, selamat buat pemenang!
Untuk yang belum menang, mungkin karena genre novel yang diresensi tidak cocok dengan ketentuan yang saya ajukan. Sangat disayangkan :(
Jangan khawatir, masih ada Giveaway Marathon #3. Kali ini saya tantang kamu menulis resensi novel horror! Ayo ikutan! 

16 March 2015

[GIVEAWAY MARATHON] The Winner Announcement of Episode 1

I have read all the submitted forms, and finally I have to choose one winner. 
Who is the winner of this first episode?
Are you ready? :D

....

....

This is the winner!


You can check her review here.

Why I choose this one among all the submitted reviews?
Actually, it's simply because as I was reading it, suddenly and naturally, I was wanting this book so much. Yeah, I haven't read this "Eleanor & Park" yet. Fauziyyah's review made me be eager to read this book by myself! Moreover, she also put a song list for this book. I love the way how she described and showed the characters using quotes and dialog from the book. Although she didn't make analysis about the other points of the novel's intrinsic elements (she mostly told about the central characters and book's theme), it's okay for me since I could enjoy reading her review.

Don't worry, there's still 6 episodes more for this GIVEAWAY MARATHON.
Let's participate on Episode 2! ^^


[GIVEAWAY MARATHON] TANTANGAN MENULIS RESENSI BERHADIAH BUKU #2

Photo source here.

Selamat datang di rangkaian Giveaway Marathon Episode 2!


Silakan mengirimkan link ke resensimu melalui form berikut ini. Jangan lupa follow akun @divapress01, @ping_fiction, dan @kimfricung. Bagikan juga info lomba ini ke teman-temanmu.

Good luck! ^^



5 March 2015

[GIVEAWAY MARATHON] TANTANGAN MENULIS RESENSI BERHADIAH BUKU #1

Setelah tahun lalu cukup berhasil mengadakan kuis berhadiah buku-buku Divapress, kali ini saya akan membuka kembali rangkaian kuis berhadiah buku, bertajuk GIVEAWAY MARATHON. Kenapa marathon? Karena tantangan berupa lomba marathon! (Ya, nggak, lah!) Karena giveaway ini akan saya bikin sampai 7 sekuel (semacam buku Harry Potter), selama 7 minggu berturut-turut.

Tantangannya ngapain?

Tentu saja, seperti yang tercantum dalam judul, saya tantang kamu untuk menulis resensi buku. Berikut ini adalah ketentuannya. Baca baik-baik, ya, Guys, jangan sampai kelewatan atau menanyakan pertanyaan yang sudah tertulis di sini jawabannya. Hehehe.


Setiap minggu jumlah buku yang menjadi hadiah berbeda-beda, karena saya bagikan sesuai genre-nya. Tapi, jangan khawatir, setiap pemenang akan mendapatkan satu bonus buku (identitasnya masih rahasia, hehehe).

Silakan mengirimkan link ke resensimu melalui form berikut ini. Jangan lupa follow akun @divapress01, @ping_fiction, dan @kimfricung. Bagikan juga info lomba ini ke teman-temanmu.

Semoga sukses! ^^


bloggerwidgets