Showing posts with label exchange. Show all posts
Showing posts with label exchange. Show all posts

15 April 2017

[#BBIHUT6] Giveaway Hop & My Birthday

Yeaay, inilah saat yang saya tunggu-tunggu setelah berjuang selama enam hari berturut-turut nerbitin tulisan di blog ini (kok saya merasa ngos-ngosan--ya iyalah, kan marathon!), akhirnya sampai di hari terakhir!
....
Nggak, maaf, abaikan kalimat di atas. Aslinya, saya seneng bisa ikutan #BBIHUT6 marathon ini. Memang, sih, rasanya ngos-ngosan banget (biasanya ngeblog nggak mesti seminggu sekali 😫) tapi saya merasakan manfaatnya. Itung-itung latihan berkomitmen #eaaa dan berdisiplin. Agak sedih juga sudah selesai marathonnya. Namun apapun itu, saya ingin berbagi buntelan kepada teman-teman pecinta buku dalam rangka giveaway hop sekalian ngerayain ulang tahun saya. Btw, inget-inget, ya ultah saya pas di Hari Kartini, tapi sayang nama saya bukan Kartini, jadi saya nggak bisa ikut kuis "Nama Saya Kartini"-nya Noura Books itu 😭.

Hadiah yang saya siapkan untuk kalian:
  • 1 (satu) voucher buku senilai Rp 150.000,00 untuk 1 (satu) orang pemenang. Buku boleh apa saja, jumlahnya bisa 1 atau 2 atau secukupnya sampai senilai 150.000. Harganya boleh setelah atau sebelum diskon, terserah pemenang. Pokoknya total 150.000 (tenang, ongkir tidak termasuk, akan saya tanggung sepenuhnya). Buku harus bisa dipesan di toko buku daring yang terpercaya yang ada di Indonesia.
  • 1 (satu) paket buku kolpri saya yang masih segel untuk 1 (satu) orang pemenang. Paket berisi buku Jatuh Cinta Diam-diam #2 (Dwitasari & Friends) dan Patah Hati Terindah (Aguk Irawan MN).
Oya, karena ada yang menanyakan tentang mekanisme penentuan pemenang kepada saya lewat Twitter, saya tambahkan di sini penjelasannya.

Pemenang akan saya pilih berdasarkan kelengkapan syarat dan jawabannya. Jawaban yang paling menarik dan ngena di hati saya *eaa* akan jadi pemenang pertama (yang akan dapat voucher buku) dan jawaban menarik berikutnya akan mendapatkan paket buku.

Jika, apes-apesnya--saya harap nggak terjadi--, nggak ada jawaban yang memenuhi ekspektasi saya, maka saya akan minta bantuan random.org.
Ketentuan:
  • Memiliki alamat kirim di Indonesia.
  • Ikuti blog ini, bisa lewat Google Friend Connect atau Bloglovin'.
  • Ikuti akun Twitter saya, @kimfricung.
  • Jawab pertanyaan berikut lewat Twitter dengan mensyen saya dan pakai hestek #BBIGAHop:
Apa yang membuatmu memutuskan membeli sebuah buku fisik padahal kamu sudah punya versi digitalnya?
  • Jawabanmu harus cukup dalam 1 (satu) kali tweet, ya. Jadi, tulis sepadat dan secantik mungkin.
  • Bagikan juga tautan giveaway ini lewat medsosmu, kalau lewat Twitter, tolong mensyen saya dan pakai hestek #BBIGAHop, ya.
  • Para pemenang nanti saya harapkan untuk menuliskan dan membagikan resensi dari buku yang hadiah giveaway ini (boleh di media apa saja).
  • Isikan data dirimu di Google form berikut.



Giveaway ini berlangsung mulai tanggal 15 April 2017 sampai 29 April 2017.
*Kepoin giveaway yang diadain para bloggers yang lain dalam rangkaian #BBIHUT6 di sini (di kolom tanggal 15 April 2017).

20 March 2016

So Many Books, So Little Time



Melalui buku, Jorge Luis Borges menemukan kesenangan, dengan jenis yang berbeda-beda untuk tiap buku yang berbeda. Kesenangan yang ia dapatkan saat membaca Arabian Nights tentu berbeda dengan yang ia dapatkan dari Moby Dick. Kesenangan itu seolah telah melebur dalam ingatannya dan tak lekang oleh waktu, sampai saat ia menceritakan buku-buku paling penting dalam hidupnya dalam ceramah bertajuk “Kredo Seorang Penyair” di Harvard University. Dalam kebutaan yang ia alami kemudian (di tahun 1955), tali-tali kehidupan seolah mengikatnya tetap erat dengan buku, yang terlihat jelas ketika ia diangkat menjadi direktur Perpustakaan Nasional dan bertanggung jawab atas sembilan ratus ribu buku. Ironisnya, ia hanya bisa membelai punggung-punggung buku itu tanpa bisa lagi membacanya.

“Tak seorang pun yang mesti membaca dengan mengasihani

atau mencemooh

terhadap pernyataan tentang kebesaran Tuhan ini;

yang dengan ironi yang berlebihan

menghadiahiku buku-buku dan kebutaan secara

bersamaan”
Poem of the Gifts--Jorge Luis Borges
(Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, hlm. 96-7)

Dalam mencintai buku, saya merasa memiliki beberapa kesamaan dengan penulis kenamaan Argentina tersebut. Saya juga sering “membayangkan surga itu sebagai semacam perpustakaan” (Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, hlm. 96), tempat saya bisa berenang-renang di dalam tumpukan buku—seperti Paman Gober yang berenang dalam lautan koin emasnya; menghirup bau kertas dan lem penjilidnya; mengecap tiap kisah yang terukir dalam lembaran-lembarannya.

Inilah yang benar-benar terjadi: saya mengalami goosebumps ketika menemukan banyak sekali novel berbahasa Inggris—dari yang klasik sampai pop—berderet-deret di rak American Corner di Perpustakaan Pusat UGM. Sempat, saya ingin membaca semuanya sebelum saya wisuda dan KTM saya disita, sehingga saya tidak bisa pinjam buku lagi, tapi apalah daya, so many books, so little time. Pada akhirnya, yang sempat saya pinjam dan telah saya tamatkan hanyalah Safe Haven (Nicholas Sparks), Thousand Cranes (Yasunari Kawabata), The Trial (Franz Kafka), sebuah kumpulan cerpen Anton Chekhov. Yang belum berhasil saya tamatkan banyak. Salah satu alasannya adalah bahasa Inggrisnya yang saya rasa terlalu klasik sehingga saya tidak kuat melahapnya sampai habis, misalnya To Kill A Mockingbird (Harper Lee) dan Lolita (Vladimir Nabokov).

Perasaan thrilled dan bergairah juga saya alami tiap masuk ke toko buku. Sebelum saya kuliah di Yogyakarta, saya selalu kesulitan membeli buku. Di kota tempat lahir saya, Juwana, tidak ada toko buku. Beruntung, saya pernah masuk ke toko alat tulis, yang ternyata menjual sedikit novel lama (yang saya duga pihak toko itu mendapatkannya dari obralan Gramedia entah di mana). Di toko itulah saya menemukan dan membeli novel She’ll Take It (Mary Carter), yang konyolnya minta ampun itu. Di Pati pun, kota tempat saya menambang ilmu di SMA, hanya ada satu toko buku yang benar-benar isinya buku semua, di mana saya membeli beberapa buku, salah satunya The Bonesetter's Daughter (Amy Tan). Itupun, koleksi bukunya tidak up-to-date. Inilah mengapa, tiap kali saya berkesempatan pergi ke Semarang atau kota besar lainnya, satu tempat yang wajib saya kunjungi adalah toko buku Gramedia atau Gunung Agung (biasanya saya temukan saat nge-mall).

Jadi, paham, kan, betapa bahagianya saya saat toko buku Gramedia dan Togamas begitu mudah saya temukan di Yogyakarta? Pun di kota istimewa ini, sering sekali diadakan event pesta buku, bazaar buku, bahkan sale gudang Gramedia yang penuh buku dan debu—yang sepertinya sulit ditemukan di kota besar lain. Bahkan, ada juga diskon buku terjadwal, seperti di Togamas (dulu semua novel diskon 25% tiap Jumat di Togamas Galeria, lalu belakangan saya selalu memburunya tiap Selasa di Togamas Affandi). Selain itu, acara-acara lain tentang buku juga sering ditemukan di Yogyakarta.

Oleh karena itu, bukan sepenuhnya salah saya jika semasa kuliah sampai sekarang saya aktif berprofesi sebagai penimbun buku. Keisengan mendatangi acara pesta buku atau sekadar main ke toko buku selepas suntuk kuliah Mekanika Fluida hari Jumat sore biasanya berujung pada buku baru yang diboyong ke kamar kos. Setelah saya jadi book reviewer DIVA Press—yang mendapat 3 buku baru gratis tiap bulan untuk diresensi—dan menjadi giveaway hunter, rak buku saya tidak muat lagi. Akhirnya, kolong meja dan lemari saya pun jadi penuh buku. Belum baca buku yang baru dibeli kemarin, besoknya sudah dapat buku baru lagi. Begitu seterusnya. So many books, so little time. So many books, so little space.

Saya menemukan “kehidupan yang lain” di dalam setiap buku yang saya baca, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Dalam buku fiksi, saya selalu bisa menemukan fakta dalam imajinasi. Sementara itu, dalam buku nonfiksi, saya menikmati cerita tentang fakta. Hal lain yang saya kagumi dari buku adalah, betapa ia bisa berbicara menembus batas-batas dimensi ruang dan waktu. Ketika dunia empat dimensi masih rumit dan sulit dijelaskan secara ilmiah, ternyata sejak awal mula lahirnya, buku telah berhasil mewujudkan dunia empat dimensi ini. Begini, ketika membaca Bumi Manusia karya Pram, maka saya akan tersedot dalam masa penjajahan dengan setting daerah Surabaya. Ketika membaca Lukisan Dorian Gray (Oscar Wilde), saya akan menemukan diri saya berada di Inggris, di era Victoria. Saya menemukan diri saya tegang di dalam suasana serangan Jepang atas Cina dalam novel The Devil of Nanking karya Mo Hayder. Dalam seri In Death (J.D. Robb), Letnan Eve Dallas mengajak saya bertualang memecahkan misteri-misteri pembunuhan di masa depan, lengkap dengan segala peralatan teknologi super canggih. Lain lagi dengan buku-buku dystopia, yang menyeret saya untuk menyaksikan kehancuran bumi di masa depan.

Jauh sebelum saya menyelami dunia kepenulisan, saya lebih dulu membaca. Saya sudah membaca buku sejak awal saya belajar membaca. Ketika masih TK dulu (atau bahkan sebelum masuk TK), ibu saya meminjam banyak buku cerita bergambar dari seorang teman gereja, untuk kemudian menyodorkannya pada saya. Di rumah, di tengah hamparan buku-buku cerita bergambar yang terbuka, saya menemukan kebahagiaan. Hansel dan Gretel, Gadis Berkerudung Merah, Gadis Korek Api, dan entah apa lagi, saya lupa. Saya juga punya buku cerita Putri Aurora yang ditulis menggunakan sistem “go to”, yang sangat menarik karena mengajak saya memilih sendiri kelanjutan cerita. Kemudian tibalah suatu masa di mana sepupu saya yang sudah beranjak dewasa membawa semua koleksi majalah komik Donal Bebek dan Doraemon-nya ke rumah saya. Tiada momen saya lewati tanpa membacanya. Jarang sekali saya buang air besar tanpa baca buku. Makan adalah momen yang nyaris selalu saya lewati sambil baca buku.

Saat SD, saya sering membaca buku yang dipinjam kakak saya dari perpustakaan SMA-nya (yang kemudian jadi SMA saya juga). Yang paling sering adalah buku kumpulan cerita rakyat dari berbagai kota di Nusantara. Saat SMP, saya menjadi satu-satunya penghuni perpustakaan sempit di sekolah saya. Saya gemar meminjam novel-novel detektif cilik. Yang paling saya ingat, karena setelah lulus SMP saya tak menjumpai lagi buku serupa, adalah serial Kalle Blomkvist karya Astrid Lindgren. Di masa itu juga pertama kalinya saya membaca Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh-nya Dee. (Bagi otak polos saya waktu itu, istilah solarplexus yang saya temukan di KPBJ menjadi semacam kata keramat bagi saya.) Buku Harry Potter pertama kali menginvasi saya juga di masa itu. Saya ingat sekali, bagaimana dunia fantasi ciptaan Rowling itu berhasil menelan saya, hingga kewajiban saya menyapu rumah tiap sore sering terbengkalai begitu saya duduk halaman belakang rumah, menunduk di atas buku Harry Potter di pangkuan.

Perpustakaan SMA adalah antitesis dari perpustakaan SMP saya. Banyak sekali novel bersemayam di sana, bahkan sering berdatangan novel-novel baru. Selain itu, banyak teman perempuan saya yang suka baca, sehingga kami sering rebutan antrian meminjam novel-novel terbaru. Saking larisnya, banyak novel yang penjilidnya telah lepas padahal baru saja beberapa bulan menjadi penghuni perpustakaan. Barangkali yang paling lekat di ingatan saya adalah novel-novel detektif (Trio Detektif, Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Hercule Poirot, seri In Death); novel thriller (Summer in Hell alias The Ruins dan Birdman, yang sering bikin saya ngilu waktu membayangkan adegan sayat-menyayat, iris-mengiris, atau operasi tanpa bius). Saat SMA, genre favorit saya adalah thriller dan slasher (baik novel maupun film), hingga saya cemas kalau nanti saya ikut-ikutan jadi psikopat. Film Saw adalah salah satu film favorit saya waktu itu, btw.

Namun, di masa itu, saya juga telah tercemar novel-novel Metropop, dan merasa bahwa novel teenlit "nggak banget". Kalau sebelumnya saya suka baca teenlit Gramedia, menginjak kelas XI saya menyukai romance Gagasmedia yang lebih dewasa, selain Metropop. Salah satu favorit saya adalah Winter in Tokyo karya Ilana Tan

Ternyata, sejak dulu, kemampuan dan preferensi bacaan saya senantiasa mengalami perubahan. Belakangan ini saya gemar melahap cerpen dan novel sastra (yang klasik maupun bukan), domestik maupun luar negeri. Baru-baru ini, saya menamakan diri extrovert reader. Istilah ini bisa dimaknai sebagai pembaca yang suka bertualang lintas genre. Meski begitu, saya tetaplah seorang gadis introver. Kalau tidak introver, mungkin saya tak akan segemar itu membaca buku.

“Introverts feel ‘just right’ with less stimulation, as when they sip wine with a close friend, solve a crossword puzzle, or read a book. […] [Although] We can’t say that every introvert is a bookworm or every extrovert wears lampshades at parties…” (Susan Cain in Quiet)

Jika dulu saya selalu bergairah tiap ke toko buku, dan terbilang sering main ke sana, belakangan ini tidak lagi. Pasalnya, saya sering mendapat buntelan buku gratis, pun dilimpahi setumpuk buku pinjaman dari teman, serta e-book berjubelan dalam kartu memori tablet. Oleh karena itu, saya merasa tak butuh lagi membeli buku, kecuali memang ada buku yang saya rasa wajib memilikinya sendiri (seperti Tetralogi Buru dan Inteligensi Embun Pagi). Atau jika ada buku terjemahan yang ingin sekali saya baca, tapi saya tak bisa menemukan e-book versi aslinya, maka saya akan membelinya. Atau kalau ada lomba menulis resensi buku dan saya diwajibkan membeli bukunya. Kalau bisa gratis, kenapa harus beli, begitulah prinsip saya :-h.

Meski sejak memiliki tablet di tahun 2014 saya cukup sering membaca e-book, buku fisik tetap jadi favorit. Namun, saya sadar, di masa depan sangat mungkin semua buku baru akan tidak memiliki wujud fisik. Jika saat itu tiba, saya ingin jadi salah satu manusia yang masih punya koleksi berderet-deret buku di rumahnya.

Sejak tahun 2013, saya gemar menulis resensi buku. Buku pertama yang saya resensi adalah Notasi karya Morra Quatro. Semenjak itu, ratusan resensi (seratus lebih bisa disebut “ratusan”, nggak? :)]) telah saya terbitkan di blog saya. Tahun berikutnya, saya menjadi book reviewer DIVA Press, yang bertugas meresensi buku-buku terbitan barunya tiap bulan. Di tahun 2014 itu pula saya bergabung dengan komunitas Blogger Buku Indonesia, dan sampai sekarang, bisa dibilang, saya masih berapi-api menjadi book blogger.

Dari buku-buku yang saya baca, saya belajar banyak. Sejak jadi book reviewer, otak saya makin terlatih dalam menganalisis buku. Saya suka mengupas lapis demi lapis elemen sastra yang sering tersembunyi di balik simbol dan alegori. Salah satu karya sastra yang membuat saya paling bergairah saat mengupasnya adalah Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan.

Sepanjang saya menulis, saya tak akan berhenti membaca buku. Begitu pula sebaliknya. Suatu saat nanti, saya berharap berhasil menuliskan “sastra sejati”.

“Titik mula sastra sejati adalah orang yang mengurung dirinya di kamar bersama buku-bukunya.” -- Orhan Pamuk (Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, hlm. 151)

Membaca telah menjadi lebih daripada hobi bagi saya. Ia sudah menjelma semacam cinta sejati saya, yang jika berpisah sebentar saja, saya akan merasa ada yang hilang. Maka dari itu, jiwa saya tak utuh lagi jika saya berhenti membaca. Akhirnya, mengingat “so many books, so little time”, saya memutuskan untuk membaca sebanyak mungkin buku selagi saya bisa.

*Judul tulisan ini saya pinjam dari sebuah petikan milik Franz Zappa.

25 May 2015

[Resensi 4 MUSIM CINTA] 4 Musim Bersinggungan dalam Negeri 2 Musim

Judul: 4 Musim Cinta
Penulis: Mandewi | Gafur | Puguh | Pringadi
Editor: Endah Sulwesi
Tebal: 332 halaman
Penerbit: Exchange
Cetakan: I, April 2015
ISBN: 978-602-72024-2-9
Harga: Rp 59.500,00
Rating saya: 4/5

"Kamu tahu, seperti apa rupa harapan itu?"
"Tidak."
"Aku tahu."
"Seperti apa?"
"Seperti kamu." 
(Arga dan Gayatri, hal. 9)
Gayatri, Arga, Pring, dan Gafur adalah empat orang birokrat muda yang bekerja di Direktorat Jenderal Perbendaharaan di bawah Kementrian Keuangan. Mereka berempat sama-sama suka menulis dan dipertemukan oleh suatu acara di Imah Seniman saat mereka menjadi finalis lomba menulis yang diadakan oleh organisasi mereka. Sebelumnya, Gayatri dan Pring saling mengenal lewat Facebook lantaran mereka berdua tergabung dalam satu grup kepenulisan. Sementara yang lainnya, mereka saling bertemu karena pekerjaan. Seperti kata , bekerja di organisasi itu memungkinkan semua pegawai saling bertemu meski tak bertugas di satu kota yang sama, karena mutasi yang dilakukan selalu meloncat-loncat.

Memiliki satu pekerjaan yang sama membuat mereka cepat akrab. Pertemuan pertama lekas saja menjelma satu persahabatan. Meski setelah itu Gafur dimutasikan ke Kendari, dan Pring kembali ke Sumbawa Besar, sementara Gayatri dan Arga di Jakarta, persahabatan mereka tetap terjalin. Namun, bukan persahabatan sejati namanya, jika tak ada pahit yang menguji. Cinta segitiga mewujud di tengah-tengah mereka. Arga, Gafur, dan Dira--seorang gadis barista di sebuah kedai kopi. Gayatri, Pring, dan istrinya, Indah. Rahasia-rahasia perlahan terungkap. Siapkah mereka menyambutnya?

***

Jangan berharap pada rasa penasaran

Jika hanya mengandalkan kemampuan mencabik-cabik rasa penasaran pembaca, maka novel ini telah berhasil. Bahkan, ia mencabiknya hingga tak bersisa, alias saya tak punya rasa penasaran lagi. Ceritanya terlampau mudah ditebak. Lantas, apa yang membuatnya istimewa?


"Mumpung aku ingat, kelemahan kamu ada di narasi. Tulisan kamu masih terlalu sempit. Maksudku, tulisan kamu masih berkutat di do this then do that alias urutan-urutan kejadian." 
(Pring, hal. 244)
Keempat penulisnya seolah ingin menunjukkan bagaimana itu menulis ditopang kekuatan narasi tanpa terlalu menitikberatkan pada urutan-urutan kejadian, seperti yang dikhotbahkan Pring pada Gayatri. Plot tak lagi menjadi primadona jika kita punya tokoh-tokoh yang kuat, narasi yang indah, dan dialog puitik nan berisi. Apalagi, para penulisnya adalah empat orang pegawai negeri sipil yang bekerja di Perbendaharaan, sesuatu yang cukup jarang terjadi. Istimewanya lagi, empat kepala dan empat pasang tangan yang menulis itu seolah melebur jadi satu dalam 4 Musim Cinta. Tak ada perpindahan kepala dan tangan yang terasa, segalanya mengalir lancar dan seolah alami.

Novel ini ditulis menggunakan empat sudut pandang orang pertama dari keempat tokoh utama, dengan tiap penulis menggawangi tiap tokoh. Menurut analisis saya, bagian Gayatri ditulis oleh Mandewi, Pring adalah Pringadi, Gafur adalah Gafur, dan Arga adalah Puguh. Mungkin mereka juga menyelipkan tentang diri mereka sesungguhnya dalam tiap-tiap tokoh itu. Judul novel ini (yang sama dengan judul kumpulan cerpen terbitan Gagasmedia tahun 2010, Empat Musim Cinta) melambangkan keempat tokohnya beserta lika-liku cinta masing-masing dari mereka. Jika boleh, saya ingin menganalogikan tiap tokoh dengan "musim".

Gayatri, si Musim Dingin

Sumber di sini.

Sumber di sini.
Gayatri, seorang gadis Bali yang digambarkan Pring seperti Yoon Eun Hye dalam serial drama Coffee Prince, tapi dalam versi kulit cokelat.

Ia baru saja ditinggal mati Aji (sebutan "ayah" dalam bahasa Bali). Ia seolah ada untuk menjadi idola para pria di sekitarnya, dengan sikapnya yang menyenangkan, kecerdasan, dan perhatiaannya. Ia merasa diri berbeda dengan gadis-gadis lain seumurannya, yang biasanya sudah menikah dan atau malah sudah punya anak. Kemandirian dan kecerdasan serupa benteng tinggi di sekitarnya, menimbulkan kesan dingin, meski sikapnya cenderung hangat pada semua orang, sehingga tak ada satu pun pria yang berhasil memanjatnya, selain Adam, dan kemudian Pring. Rasa sakit hati akibat ditinggal Adam menikah masih menghantu pikirannya di kala sendirian. Adam pergi, dan kini Gayatri jatuh cinta pada jenis pria yang sama: pria beristri. 

Sederhana saja, ia jatuh cinta pada Pring karena kepuitisannya. Agak polos sebenarnya, karena ia tak tahu bahwa pria itu telah beristri. Tak ada cincin di jari manis Pring, pun tak ada status perkawinan ditampilkan di profil Facebook-nya. Tapi, oh, ya ampun, Gayatri, tidakkah kau punya keberanian untuk sekadar bertanya pada teman-temanmu atau teman-temannya?

Arga, si Musim Semi

Sumber di sini.

Di antara keempat isi kepala para tokoh utama, Argalah yang paling berwarna dan selow. Manusia aneh yang (bisa-bisanya) menyukai kota Jakarta. Dari luar, lelaki Jawa itu nampak selalu ceria, dengan sifatnya yang supel dan "senyum paling lebar di dunia" (Gafur, hal. 215). Ia bagaikan musim semi yang hangat dan berwarna-warni dengan beraneka bunga bermekaran. Namun, tak ada yang tahu bahwa Arga suatu saat akan meledakkan kemarahannya yang terkubur di balik timbunan keceriaan itu seperti musim semi yang masih menyimpan sisa-sisa angin musim dingin. Kegagalannya dalam hubungan dengan wanita telah berhasil ia atasi, sebelum muncul kembali seorang wanita yang membuatnya sakit hati lagi.

Gafur, si Musim Panas

Sumber di sini.

Bagian sudut pandang Gafur kerap membuat pembaca gerah. Gerah karena kevulgarannya yang blak-blakan, tentang hubungannya dengan Dira, juga aktivitas masturbasinya. Di sisi lain, saya menghargai sikap Gafur yang terbuka ini, dibandingkan dengan ketiga tokoh utama lainnya yang cenderung berahasia. Gafur adalah gambaran laki-laki nyata di dunia--adakah laki-laki bujang dewasa yang tak pernah bermasturbasi? Kalau yang diam-diam iya, sih, banyak. Haha. Sikapnya yang apa adanya itu blak-blakan bagaikan panas matahari yang tak sembunyi-sembunyi saat musim panas. 

Pernah sekali, kata-kata Gafur tidak konsisten, ketika ia meminta tolong Pallawa untuk menyampaikan suratnya pada Dira.
"Atau sekiranya kau tak bisa menemui Dira langsung, cari saja Coni atau Riz..., minta tolong kepada mereka untuk mencarikan Dira. Ingat, Pall, ini sangat penting. Surat itu harus sampai langsung dari tanganmu ke tangan Dira. Jangan kau titipkan ke orang lain, apalagi kepada si Coni atau si Riz. Mereka bisa saja membuka dan mencuri baca sebelum diberikan kepada Dira." 
(Gafur, hal. 169-70)

Pring, si Musim Gugur

Sumber di sini.

Pring digambarkan sebagai sang penyair oleh Gayatri, dengan segala keahlian menulisnya, juga dalam meracik kalimat-kalimat gombalan puitis. Terpisah beberapa lama oleh istrinya, Indah, membuat serpihan cintanya mulai melambai-lambai seolah daun yang akan gugur. Belum lagi sikapnya yang paling pendiam di antara yang lain, dan cenderung muram. Sehelai daun cintanya itu pun akhirnya jatuh di pangkuan Gayatri, yang muncul untuk menyadarkannya seberapa besar cintanya pada Indah. Pada suatu titik, Pring memang harus memutuskan, sebelum saya makin muak akan keplin-planannya. Mengapa pula ia tak memakai cincin nikahnya? Seolah ia memang sengaja nampak sebagai seorang bujang di mata wanita lain. Ia sudah tahu yang ia lakukan salah, tapi tetap saja menggombali Gayatri dengan pesan-pesan puitisnya. Memang, sikapnya ini manusiawi sekali.

Sayangnya, kepuitisan Pring hanya sebatas narasi Gayatri dan pesan-pesan yang ia kirimkan pada gadis itu.
"Kenapa kita tidak iri pada hujan, Gayatri? Yang jatuh dan pecah hanya untuk sebuah kerinduan?" 
(Pring, hal. 116)

Dira si Kupu-kupu

Sumber di sini.

Dira, si gadis berpendidikan SMU yang berasal dari kampung. Gadis Sunda itu berkulit cokelat, tidak seperti lazimnya gadis Sunda yang berkulit putih. Itulah awal mula keminderannya. Sikapnya yang percaya diri, menyenangkan, ceria, sekaligus polos (ia takjub sekali melihat kamar hotel mewah tempat Gayatri menginap suatu kali saat ada penugasan), membuatnya cepat akrab dengan Gayatri, juga Gafur dan Arga. Seperti Gayatri, Dira pun jenis gadis yang unik. Tujuan hidupnya begitu sederhana: ingin menjadi kaya raya dan menikmati hidup. Bagi sebagian pembaca, mungkin ia terkesan hedonistis. Tapi, bagi saya, itu sah-sah saja. Siapa manusia yang tak ingin kaya dan tak ingin menikmati hidup? Saya justru kagum akan kepolosannya.

Ia juga gadis yang apatis terhadap pernikahan. Kata-katanya pada halaman 154-156 mengingatkan saya akan kesinisan tokoh Kevin Doyle dalam film 27 Dresses, yang juga membenci pernikahan. Dira menawarkan sudut pandang baru bagi Gafur, yang terlalu memegang aturan yang berlaku, dan mungkin juga kita semua.

"Kenapa setiap orang harus menikah? Cinta hanya perlu cinta, Gafur. Dan saling percaya. Tidak perlu pengumuman. Juga kertas yang distempel... Aku tidak ingin menikah, Gafur... Aku hanya berpikir pernikahan tidak menjamin kebahagiaan." 
(Dira, hal. 155-6)
Oleh karena itulah, saya menyebutnya kupu-kupu, karena keinginannya untuk selalu terbang dan bebas. Dengan santainya, ia terbang di antara musim semi dan musim panas, sambil menebarkan sayap-sayap indahnya. Ia muncul di antara Gafur dan Arga untuk menyadarkan mereka berdua, bahwa persahabatan mereka seharusnya lebih kuat dibandingkan cinta segitiga.

Persahabatan mereka berempat saya rasa belum pantas berada pada level "sahabat" lantaran mereka masih saling berahasia satu sama lain. Terlalu banyak rahasia.

***

Dialog, oh, dialog

Alurnya maju-mundur, cukup mencegah rasa jenuh saya. Kilasan-kilasan memori yang seringkali ditulis sesuka hati tanpa dicetak miring, membuat saya bingung di beberapa tempat, but it's okay. Termaafkan dengan mudah, apalagi didukung absennya typo. Saya tetap bisa menikmati dan memaham jalan cerita.

Salah satu unsur yang membuat novel ini istimewa adalah dialognya, seperti yang saya katakan tadi. Dialog-dialog cerdas ini ditulis bukan sekadar sebagai penebal halaman. Bahkan, seringkali, saya merasa bahwa isi dialog itu lebih penting dibandingkan narasinya. Berikut ini beberapa contohnya, minus dialog Gafur--Dira yang kebanyakan juga cerdas. Anehnya, ada beberapa dialog yang terkesan kekanak-kanakan, mungkin juga karena keterangan ekspresi para tokohnya, hingga tidak cocok berada dalam novel ini.

"Gayatri, aku ingin tahu, kenapa bulan tidak jatuh ke bumi? Apa karena gaya sentrifugal?"
"Kamu tahu jawabannya. Itu kan pelajaran zaman sekolah."
"Lalu, kenapa setiap kita tidak seperti mereka berdua, yang tetap seimbang pada tempatnya? Kenapa masih ada kerusuhan di Ambon, di Palestina, di mana-mana, yang mengatasnamakan agama? Kenapa kita tidak percaya pada gaya sentrifugal itu untuk sebuah toleransi?"
(Gayatri dan Pring, hal. 33)
"Motif, Pring, yang membedakan. Mereka berbuat bukan untuk diri sendiri, tapi untuk semua orang. Itulah sebabnya aku tak menyebut heroisme Mandela sebagai pengabdian. Dia memperjuangkan dirinya. Kelompoknya. Bagaimana jika ia bukan orang kulit hitam?" 
(Gafur, ketika mendiskusikan tentang pengabdian dengan Pring, hal. 79)
Saya paling suka dialog tentang bulan pada bab 5 yang berjudul "Bulan".

Profesi mereka sebagai pegawai negeri sipil cukup tergambarkan oleh dialog Gafur--Dira, seperti pada dialog di hal. 210-213. Selebihnya, hanya sekilas-sekilas saja. Meski begitu, profesi mereka memegang peranan cukup penting dalam cerita. Jika mereka bukan pegawai Dirjen Perbendaharaan, yang memungkinkan para pegawai yang bertugas di kantor-kantor berjauhan bertemu, mungkin mereka berempat juga tak akan bertemu.

Novel ini memberikan kesegaran baru pada dunia novel romance yang seringkali klise dan membosankan.



bloggerwidgets