Showing posts with label supernova. Show all posts
Showing posts with label supernova. Show all posts

11 July 2016

Menggugat Inteligensi Embun Pagi



“Supernova yang sebenarnya adalah potensi ledakan. Meneruskan Supernova berarti menebarkan potensi ledakan itu ke orang-orang. Ledakan pikiran.” (Re, hlm. 227)

Memahami Supernova

Membaca buku terakhir Supernova membuat saya menelusuri kembali jejak historis seri buku termasif ledakannya di Indonesia ini. Saya menulis ini sembari saya sendiri mencoba memahami Supernova, memahami jalan pikiran Dee. Sejak awal, Dee memaksudkan Supernova menjadi sebuah trilogi, dengan KPBJ sebagai prekuel. Itulah kenapa di bagian akhirnya tertulis “the beginning” (Dee bilang begitu di kata penutup Inteligensi Embun Pagi). Buku kedua dipecah jadi empat bagian: Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang. Keempatnya memiliki pola alur hero’s journey. Di empat buku pecahan inilah, Dee mengenalkan satu per satu tokoh protagonis utamanya.

Ditulis berjarak 8 tahun setelah Petir, tak heran, Partikel memiliki ruh yang terasa berbeda. Hal ini tak bisa dipungkiri, karena Dee pun turut berkembang selama prosesnya. Sebagai pembaca yang mengikuti serial ini sejak awal, saya memang kehilangan gaya penulisan Dee dengan bahasanya yang nyeleneh dan mengajak saya mengupas lapis demi lapis kulitnya di KPBJ. Apalagi di Gelombang, saya harus membaca gaya menulis multilingual yang bikin muak. Namun, Gelombang menggetarkan saya karena ia memberi petunjuk akan banyak hal, sekaligus memberikan banyak teka-teki baru. Saya merinding, lho, baca bagian akhir, ketika Alfa sedang di dalam pesawat terbang, dan Kell duduk di sebelahnya mendendangkan lagu "Fly Me to the Moon" (padahal di Akar, Kell sudah meninggal).

Gelombang menimbulkan gegar intelektual. Di buku-buku sebelumnya sama sekali tidak disinggung adanya klasifikasi karakter (Peretas, Infiltran, Sarvara). Tiba-tiba, di Gelombang, Dee menjejalkan ke mulut pembaca tentang itu. Lah, kok? Dee memang sengaja, atau dia baru kepikiran tentang Peretas, dll. pasca Petir? “Jawabannya adalah ya dan tidak.” (IEP, hlm. 702). Yah, saya belum puas dengan jawaban Dee itu. Udah, telen dulu aja (mungkin begitu kata Dee kemudian).

Peretas, Infiltran, Sarvara

Premis Supernova adalah segala sesuatu telah direncanakan, yang dinamakan sekuens. Di sini, kita bertemu makhluk-makhluk dengan misi khusus, Peretas, yang rela lahir, amnesia, dan mati berkali-kali dalam wujud manusia demi mencapai enlightment. Dalam setiap siklus, para Peretas ini berenam membentuk gugus. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai siklus, tapi nama kodenya selalu sama (Gio, IEP, hlm. 27). Bersama-sama, mereka berusaha memenuhi misi: membebaskan semua makhluk superior “dari penjara tubuh manusia, dari jerat samsara” (IEP, hlm. 619); untuk menyadarkan para Peretas siapa mereka 2500 tahun yang lalu.
"Kebenaran yang tak bernama tak pernah terputus." (Surat S kepada Akar)
Nama Peretas
Fungsi
Nama Kode
Bodhi
Peretas Kisi
Akar
Elektra Wijaya
Peretas Memori
Petir
Zarah Amala
Peretas Gerbang
Partikel
Alfa Sagala
Peretas Mimpi (sang Arsitek, Peretas pertama)
Gelombang
Gio
Peretas Kunci
Kabut

Peretas tersebar di seluruh dunia, mengikuti jadwal dan rencana khusus yang mereka rencanakan dari sebelum mereka lahir. Satu faktor yang paling dipedulikan oleh Infiltran adalah magnet Bumi. Itu tolok ukur mereka untuk segala hal.” (Toni, hlm. 322).
Selain Peretas, ada Infiltran/Pembebas dan Sarvara/Penjaga.
Cerberus (Sumber di sini.)
Pembebas dan Penjaga berbagi unsur yang serupa, tapi dengan kutub yang bertolak belakang. Bagi Penjaga, para Pembebas tak lebih dari perusak. Infiltran, begitu akhirnya mereka dijuluki karena strategi menyusup yang mereka terapkan. Bagi para Infiltran, para Penjaga adalah pemelihara penjara, memperlambat laju evolusi demi stabilitas dan status quo. Kaum yang kemudian oleh para Infiltran dijuluki sebagai Sarvara. Anjing penjaga. (IEP, hlm. 619)
[Anjing penjaga yang dimaksud adalah Cerberus.]
Ketiga pihak ini bertemu, tumpek blek di IEP. Peretas dan Infiltran di satu pihak, Sarvara di pihak lainnya. Kedua pihak berperang, yang melibatkan para pembantu Infiltran yang disebut Umbra. Pihak pertama menginginkan evolusi kesadaran, pihak kedua tidak ingin itu terjadi.


Di IEP, kelima Peretas kita (bersama Infiltran) berjuang menggenapkan Hari Terobosan agar Peretas Puncak dengan nama kode Permata bisa turun untuk menggenapi gugus mereka.

Menggugat Inteligensi Embun Pagi (IEP)

Saat membaca halaman-halaman awal IEP, saya geregetan sekali. Di situ, proses penyadaran yang dialami Gio dengan dibantu oleh Luca diiringi dialog-dialog tidak penting. Kayak novel teenlit. Saya jadi merasa sedang baca Harry Potter, saat dia berumur sebelas tahun, dijemput oleh Hagrid dan dikasih tahu bahwa dia penyihir istimewa.

Terlalu banyak plot device yang terjadi tiba-tiba tanpa pernah disinggung atau diberikan petunjuk sebelumnya adalah hal yang paling mencolok di IEP. Contohnya:
·      Ternyata Peretas bisa dikonversi jadi Sarvara (penjelasan Alfa di hlm. 484).
·      Ternyata ada kisah antara Alfa dan Ishtar yang melibatkan mitologi Sumeria (di Keping 92).
·    Yang paling menyakitkan: surat dari S untuk Zarah (di Partikel), ternyata cuma tipuan Simon. Anjir, padahal selama ini saya benar-benar menganggap surat dari S itu adalah petunjuk untuk menyingkap segalanya. Mungkin ini efek dari perubahan rencana Dee yang tiba-tiba terhadap akhir serial Supernova. Efek samping dari dijadikannya Diva hanya sebagai bayang-bayang di IEP. Di sini, Dee terlihat malas dan ambil jalan mudah, dengan menjadikan surat itu hanya tipuan. Lalu surat untuk Akar juga tipuan?

Ishtar (Sumber di sini.)
Di IEP, semua tokoh reunian, tapi Rana terlewati. Sang Puteri tak mendapat tempat di sini. Pun Diva, yang begitu memikat di KPBJ, yang muncul di empat buku selanjutnya, hanya jadi figuran. Malah Ishtar yang jadi “bintang”. Mereka berdua punya beberapa kemiripan, sih, sama-sama punya daya tarik seksual tinggi, independen, kuat (di IEP, digambarkan bahwa Ishtar adalah Sarvara terkuat dibandingkan rekan-rekannya). Dalam kepercayaan Mesopotamia, Ishtar adalah Dewi Perang dan Cinta Seksual, yang juga diasosiasikan dengan planet Venus/Evening Star. (Bukan kebetulan kalau Bodhi memanggil Ishtar dengan sebutan “Star”). Saya mengapresiasi Dee, karena ia telah melahirkan dua tokoh perempuan kuat ini di serial Supernova.

Gio, yang dulunya seolah hanya figuran, ternyata... Saya merasa tertipu, mengingat ada 4 tokoh yang dieksplor oleh Dee dalam 4 buku (untuk membangun latar belakang mereka masing-masing, sebelum bergabung di IEP); mengingat isi surat S kepada Akar ("Salam saya untuk tiga teman kamu") dan Partikel ("Tiga teman yang paling utama sudah menunggu"), seharusnya cuma ada 4 karakter protagonis utama ini di IEP. Dan ternyata, protagonis utama di IEP adalah Alfa. Oleh karena kebanyakan tokoh, saya jadi merasa kepribadian para tokoh ini nyaris tak punya ciri khas. Kecuali Kell, Ishtar, Elektra, Reuben...

Saya juga ingin menggugat Zarah, betapa dia egois sekali ketika ia lebih mementingkan untuk mencari ayahnya “yang ia lihat keluar dari portal” daripada menyelesaikan urusan para Peretas (hlm. 483).

IEP sangat kompleks, karena melibatkan pembahasan tentang spiritualisme Barat dan Timur, berbagai mitologi kuno, dan sains, sehingga saya sering tidak paham. Dee menggunakan teknik dialog (ada yang berperan sebagai Sang Penjelas) dan narasi tokoh untuk menjelaskan berbagai hal ini. Meski begitu, tetap saja, banyak dialog yang isinya kurang bisa saya pahami. Ditambah lagi, Dee masih menggunakan gaya multilingual-nya itu (sekarang bonus bahasa Sumeria).

Dee terkesan malas menunjukkan adegan pada pembaca. Contohnya, ketika Gio bertemu dengan Madre Aya (hlm. 22-24), tidak jelas apa yang dilihat oleh Gio saat itu. Pengalaman itu hanya “diceritakan” secara abstrak. Di hlm. 29, Gio mengatakan bahwa tujuan selanjutnya, Gio harus pergi ke Indonesia. “Madre Aya menunjukkanku Pulau Jawa.” Oh, jadi Madre Aya nunjukin Pulau Jawa?!
Selain itu, ada beberapa salah penulisan, seperti:
·      “Ada empat orang tersisa di puncak. Tiga Peretas. Kita. Dan, satu orang yang keluar dari portal. Sarvara.” (Bodhi, hlm. 487) -> bukannya harusnya empat Peretas? Alfa dikemanain?
·      “Cara-cara Peretas itu aneh-aneh.” (Alfa, hlm. 557) -> mungkin seharusnya “Infiltran”, ya.

Pelajaran Penting dari IEP

“Sejarah yang satu ini… ah, seperti melukis di air. Sulit dikenang. Sulit dipegang. Rasanya satu dunia ini tersihir mantra untuk lupa. Lagi dan lagi.” (Chaska, hlm. 5)
Terlepas dari semua gugatan saya itu, saya mendapat beberapa pelajaran penting dari IEP.
1.  Apa yang bagi persepsi satu pihak "salah", ternyata di pihak lain "benar". Contohnya, sudut pandang Ishtar terhadap Infiltran. Ternyata Sarvara tidak sejahat yang selama ini diindoktrinasikan ke pikiran pembaca melalui sudut pandang Peretas dan Infiltran. Menurut sudut pandang Ishtar, “Daging yang membungkusmu (-mu = Alfa) adalah penjaramu. Memenjarakanmu dalam ilusi keterbatasan. Kamu yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada yang kamu tahu. Mereka (Infiltran) memutarmu untuk lahir dan mati. Mereka tidak ingin kamu bebas. Tidak ada kejahatan yang lebih keji daripada pengelabuan jati diri. (hlm. 618)
2.  Tentang evolusi kesadaran. “Evolusi kesadaran, Bodhi. Evolusi adalah sifat alami semesta ini. Cuma itu kekuatan yang tidak bisa dihentikan siapa pun. Tidak oleh Sarvara, dan juga tidak oleh kita. Bahkan, dalam bungkusan jerat ini sekalipun, evolusi tidak berhenti. Hanya melambat. Evolusi secara alamiah membawa kesadaran kolektif untuk akhirnya mencapai ambang batas kritis yang kita sebut dhyana. Saat jejaring kita berhasil menciptakan celah, mereka yang sudah tiba di batas dhyana akan mengalami lompatan kesadaran. Melampaui jerat ini. Lepas.” (Kell, hlm. 197)
3. Tentang awareness. Awareness. Kesadaran menentukan segalanya. Kamu bisa dikelilingi benda-benda berkekuatan luar biasa, tapi tanpa kesadaran, kamu bakal menganggap mereka benda biasa.” (Kell, hlm. 240). Belakangan ini, awareness jadi bahan renungan favorit saya, hingga saya sampai pada kesimpulan, bahwa bagi saya, hal paling esensial di dunia ini adalah kesadaran. Sadar siapa saya. Sadar untuk apa saya hidup di dunia ini. Sadar dalam melakukan segala hal.
4.  “Manusia itu ngomong A, padahal B. mukanya bikin C, padahal di hatinya D. Tujuannya E, tapi mutar-mutar dulu sampai Z. Bahasa itu, kan, gunanya buat jadi topeng. Manusia belum sanggup transparan. Itulah, efek kelamaan pikun. Ndilalahnya, manusia jadi ndak mudeng sama efek perbuatannya sendiri. Makanya karma di sini jelimet banget. […] Kita itu bergerak seperti satu tubuh, Le. Kalau ada di antara kita yang keminter, bikin rencana sendiri, semua kena getahnya.” (Kas, hlm. 415-416)
5.  Pembahasan Liong tentang “Belajar dari Semut”. “Kalian injak satu semut, kalian pikir semut yang lain bakal berhenti untuk berduka gara-gara mereka bersaudara? Mereka akan terus bekerja sampai misi mereka selesai. Fokus pada tugas kalian sebagai Peretas, bukan drama kalian sebagai manusia. Drama adalah komplikasi. Drama membuat kalian egois, berpikir kepentingan pribadi kalianlah yang paling penting. (Liong, hlm. 467)

Jadi, saya tidak menganggap IEP adalah penutup yang bagus bagi seri Supernova. Tapi saya memberikan rating 2,5 atas usaha keras Dee untuk melahirkan seri yang dahsyat ini dengan konsistensi dan kreativitas tinggi. Dee tetap jadi salah satu penulis Indonesia yang saya segani. Saya juga kagum akan gaya penulisan Dee, yang di satu sisi terkesan sangat ilmiah, tapi di sisi lain tak kehilangan humornya. Misalnya, saat Toni memanggil Dimas–Reuben dengan sebutan “Paklik–Bulik”. Di Goodreads, saya bulatkan rating ini jadi 3, karena saya mendapat beberapa pelajaran penting yang terkait dengan hal-hal yang belakangan ini jadi bahan renungan saya. (Selain itu juga karena IEP memantik saya untuk mempelajari spiritualisme.) Betapa ini bukan suatu kebetulan, kan? 
“Carilah, Nak. Cari bukan untuk sampai ketemu. Cari sampai kamu merasa sudah tidak perlu lagi mencari.” (Aisyah, hlm. 105)
“Pasti ada alasan mengapa kamu memilih lahir dalam fisikmu yang sekarang. Kamu menjadi yang terkecil supaya kamu bisa belajar untuk tidak takut pada kekuatanmu sendiri.” (Liong kepada Elektra, hlm. 653)

22 March 2015

[DEE'S COACHING CLINIC] The Secret Behind Writing: NO SECRET!



I've never been a fan of any famous writer. Never. I've got to the point of being a fan of some writers' books, but that's it. I've never been a fan of the writers' their selves. Just like when I was a die-hard fan of Harry Potter serial back then. Vigorously, I tried to memorize all of the spells and their functions Harry learned. I began to imagine what if I actually had a magic power too. Had I became delusional, it couldn't be helped. 

Then, here it came, the day when I read Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh for the first time. It was the book I borrowed from a close friend when I was in junior high school. Supernova #1 was still in its old cover, the first edition published in 2001 by TrueDee Books. Yeah, the one with a funny, amusing, unique introduction written by the publisher. Solarcell was the very first attracting word from the book I memorized till now. Gilaa, ini penulis, fiksi dicampur sains! Gilaa, ini novel atau buku referensi kuliah?! Footnote kurang banyak! Si penulis ini seorang profesor? Eh, ternyata tidak. Seorang lulusan HI Unpad yang telah menjadi artis sebelum menerbitkan Supernova. How could? How could Dee write a best-seller book since she didn't have experience as a professional writer before?

A unique fiction always captures my heart. In that way, Dee could make her Supernova serial became one serial that I always looks forward to it. So, when Bentang Pustaka announced a challenge to write a review of Supernova #5: Gelombang, I accepted the challenge straightaway. Why? Hey, I'm insane if I didn't take this challenge to win an opportunity to meet and learn about writing directly from the master!

So, here I am. It is 8 A.M., March 15, 2015. This day will be engraved in my mind forever. Wiryowidagdo Ballroom of The Sunan Hotel Solo makes perfect crime scene for these 20 best reviewers of Gelombang (I was selected, thanks to my review), who are craving and being champed at the bit, rob Dee’s experiences in writing. I am among the others who are the fans (some are die-hard ones) of Dee, while I am not. I am just a fan of Supernova. In fact, some of them participated the review competition just to be able to take a photo with Dee, or just have her sign on their books.

Just at the moment when Dee is entering the room, and she stands on the mini stage, she removes her high heels and replaced them with sandals. How cute that she is being herself in front of their fans. Then, the first session is began directly, at 9.30 A.M. (though on the poster, it should be started at 8.00, but Dee has just landed at almost 9.00). Once the Mbak-mbak MC begins the session, many fingers are pointing the ceiling.

Do you know why Dee wanted to write on the first place? At first, she just wanted to share. She says that since in junior high school, she was a very dedicated diarist.
“Saya menyimpan buku-buku diary saya dalam sebuah peti. Setiap menulis diary, saya dulu membayangkan bagaimana jika suatu saat ada bencana menimpa Indonesia hingga rata dengan tanah, dan ada seorang explorer menemukan peti berisi diary saya. Berkat diary itu, orang-orang yang membacanya akan tahu kisah hidup seorang bocah perempuan bernama Dewi Lestari....”
Quite amusing, right? The way she tells us is very amusing too. From only a will to share, write itself has grown up to become a matter of perseverance.

Picture source here, edited by me.

Finally, writing is about a routinized activity. This is her answer for my question, “what if the routine makes our writing be flat?”


Silly me! The one which is routinized is the writing activity, not the writing itself. You don’t constantly write about same topic day after day, right? 
***
 
Then, what made Dee write Supernova?
It was just simply because she was eager to read some books which fused science with fiction and spiritualism. And back then, there was barely that kind of book written by Indonesian author. So that, she made that kind of book herself. How to begin writing? First, don’t exaggerate too much! “I wanna write a novel with a very impressively cool idea! But, it would be too difficult for me!” Stop thinking like that! Let’s just think about the things you love; “what kind of book you wanna read?” If you can’t find any books in bookstores that meet your wish, then why don’t you write it yourself? An artist should create market; not follow it. 

Early in her carrier as a writer, actually Dee didn’t know much about techniques. She just mostly used her intuition to build her story (Supernova KPBJ, Akar, and Petir). So, she didn’t have a vision of how much pages she would and should write. But, as she learned more and more, she realized that techniques also have an important role.



Generally, a novel consists of these three stages:  




Controlling those three stages doesn’t enough to make a great novel. You must create a unique main character, too, like the ones Dee created in Supernova, i.e. Bodhi, Elektra, Zarah, and Alfa. Fortunately, munificiently, Dee shares her receipt in creating strong, unique, and lovable main characters.



That simple equation (let's just call it the equation of character) has created the character of Elektra, a girl with an ordinary-near-unlucky life, an extremely lazy person. But, Dee added an extraordinary ability, to become a healer using electricity! Splash! In a jiffy, I have fallen into this character.
JUST CREATE A CHARACTER WHO BECOMES A VICTIM OF REACTION, AND VOILA! YOU’VE CREATED A BORING AND WEAK CHARACTER!
The main character should drive the plot with her/his actions, NOT THE CONTRARY!
The equation above also works on creating a creative story!
And remember that a creative work is a collaborative work between the author and the story realm itself. It means, there’s a dialog between them! The story has its own soul which we can’t fully restrain; we just can give it “corridors”. A creative story also needs an almost-real description about, e.g. setting and character. Let’s use our five senses to describe the small details (but not all details, of course), like the mood of a place, ambience, how the air smells, what the colour of the soil is. While writing Madre, Dee had just realized that the strongest sense to describe something is olfactory one. For example, you maybe forget the parfume’s label that your boyfriend usually uses, but you could remember its smell. This kind of fiction, which can describe its elements as real as a real life, is called VERISIMILITUDE.

HOW IMPORTANT IS THE RESEARCH IN WRITING FICTION?
Firstly, the research usually can be divided into four sorts, i.e. from books, cyber research, interview, and visiting location. If we can’t visit the location directly, we can interview people who have been there. By inserting the facts we know from research into our story, it’ll become a verisimilitude. As the designer of our story, we must know all the parts that we create and write, including their validities. To do that, we must be a good observer. Writer’s camera  never sleep,” says Dee. We capture all of our surrounding we meet everyday and store it in our bank data. When we need it, we can browse it easily. Sometimes, Dee use this method to create some characters. Her camera captures a unique person who can move her to make him/her as the real version of her character. Not all parts are the same, but we can process our observation with some imaginative parts. This method also useful to help create sharp visualization of character description.

Dee’s answers are very communicative, practical, to the point, and enlightening. She’s quite humorous and a humble famous writer. She greet all of us as her friends, not either her fans or her students. She is willing to share her receipts in creating unique stories without hiding the significant parts. And, her last message is....

KILL YOUR DARLING! Be a cruel executioner for your own writing! Be dauntless to revise it, even if you have to rewritten it in a whole! Don’t consider a (some) part(s) as sacred one(s), because it could be the sacred one is the main cause of your writing getting stuck.
 
And, let’s befriend with deadline! It’ll make you keep writing till the end, and repel all reason that drag our feet.

Until the end of this coaching clinic, it seems that I have become her fan a little bit.

 

bloggerwidgets