Showing posts with label spiritualisme. Show all posts
Showing posts with label spiritualisme. Show all posts

30 January 2017

[Resensi THE FIVE PEOPLE YOU MEET IN HEAVEN] Surga Versi Eddie Maintenance

Sinopsis

Sebuah kecelakaan di wahana Freddy's Free Fall di Taman Bermain Ruby Pier, merenggut nyawa Eddie, sang kepala maintenance taman bermain tersebut, yang saat itu mencoba menyelamatkan seorang bocah perempuan yang akan kejatuhan kabin. Eddie meninggal tanpa mengetahui apakah dia berhasil menyelamatkan anak itu. Di alam baka, Eddie bertemu dengan lima orang di tempat yang berbeda-beda, yang dipilih oleh masing-masing orang tersebut. Kelima orang tersebut, ada yang mati karena Eddie, ada yang dikenal hanya sekilas olehnya, ada yang dikenal baik, ada yang tak dikenalinya, ada yang sangat dikasihinya. Tiap orang itu memiliki hubungan dengan fragmen kehidupan Eddie, baik dia sadari maupun tidak. Tiap orang itu akan mengajarkannya sesuatu.
Masing-masing dari kami ada di kehidupanmu karena suatu sebab. Kau mungkin tidak tahu alasannya pada saat itu, dan itulah sebabnya ada alam baka. Untuk mengerti tentang kehidupanmu di dunia. (hlm. 40)
Setelah bertemu mereka, akankah Eddie menyadari bahwa keberadaannya di dunia, yang selama ini ia anggap tak berguna, sebenarnya bermanfaat bagi kehidupan lain? Akankah Eddie menerima dirinya sendiri apa adanya?
Aku sedih karena aku tidak melakukan apa pun dalam hidupku. Aku bukan apa-apa. Aku tidak menghasilkan apa pun. Aku merasa tidak berguna. Aku merasa aku tidak seharusnya ada di sana. (hlm. 198)

Tokoh

Eddie lahir pada tahun 1920-an. Ayahnya seorang petugas taman bermain Ruby Pier, bagian maintenance. Sejak kecil, Eddie telah akrab dengan taman bermain itu. Ia bercita-cita menjadi insinyur, tapi ketika perang meletus, ia memutuskan menjadi sukarelawan perang. Eddie pulang dari peperangan dengan membawa luka bakar, kaki digips dari pinggul sampai mata kaki, dan kenangan mengerikan akan perang. Kakinya pincang seumur hidup, memusnahkan kariernya sebagai pemain bisbol.

Di masa kanak-kanak, Eddie tumbuh tanpa merasakan perhatian yang cukup dari ayahnya. Malah, yang ia dapati adalah kekerasan, diperparah dengan komunikasi yang sangat minim. Hingga suatu saat setelah Eddie pulang dari perang, mereka berdua bertengkar, yang berakhir dengan ayah Eddie tidak pernah lagi mau bicara dengannya.

Sang ayah kemudian sakit parah, hingga Eddie--yang waktu itu sudah menikah dengan Marguerite--pindah ke apartemen orang tuanya dan menggantikan ayahnya bekerja di Ruby Pier. Menjadi pekerja maintenance di Ruby Pier seperti ayahnya tidak pernah masuk dalam daftar cita-citanya. Kemudian ayahnya meninggal dan Eddie "terjebak" selamanya di taman bermain itu, mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya tidak ia inginkan. Ia selalu menyesali mengapa ia tak punya kehidupan lain selain di Ruby Pier, melakukan hal-hal tidak berarti di sana. Ia selalu beranggapan bahwa entah bagaimana, hidupnya akan lebih berguna jika ia keluar dari sana. Eddie meninggal dalam keadaan belum memaafkan ayahnya dan dirinya sendiri.

Plot

Alur novel ini menarik, karena penulis memulainya dari bab "Tamat". "Tamat" adalah saat Eddie meninggal, karena memang yang diceritakan kemudian adalah apa yang terjadi pada Eddie setelah ia meninggal. Dengan gaya bercerita sudut pandang orang ketiga, penulis memperkenalkan masa lalu Eddie melalui memori yang dipacu atau cerita dari kelima orang yang ditemuinya di alam baka. Pola penulisan novel ini adalah sebagai berikut:
Eddie meninggal - adegan flashback hari ulang tahun Eddie - perjalanan Eddie di alam baka - orang pertama - adegan flashback hari ulang tahun Eddie - kisah orang pertama - adegan flashback hari ulang tahun Eddie - pelajaran pertama - adegan saat "ini" di bumi (yang adalah setelah Eddie meninggal) - adegan flashback hari ulang tahun Eddie - orang kedua - .... begitu seterusnya sampai orang kelima. 
Di hari ulang tahun Eddie, mulai dari dia lahir dan ulang tahun di umur-umur tertentu, selalu terjadi hal-hal yang mengubah hidupnya.

Tiap orang yang ditemuinya di alam baka melambangkan tahapan kehidupannya di bumi. Bertemu orang pertama, Eddie merasa tubuhnya sangat lentur dan ringan seperti bayi. Bertemu orang kedua, dia merasa tubuhnya kuat dan kaku. Begitu seterusnya, hingga saat bertemu orang kelima, dia sudah menyerupai fisiknya sebelum meninggal: berusia 83 tahun dengan kaki pincang dan tanda-tanda ketuaan meliputinya. Bukan hanya secara fisik, rupanya tingkatan-tingkatan itu juga berpengaruh pada emosinya. Ketika bertemu orang pertama, Eddie kehilangan seluruh rasa sakit, sedih, khawatirnya. Namun, ketika hendak bertemua orang kedua, Eddie bisa merasa takut (hlm. 62).

Apa yang Ingin Disampaikan Penulis

1. Gambaran surga menurut penulis: "alam baka untuk membuatmu mengerti tentang kehidupanmu di dunia" (hlm. 40) melalui lima orang yang ditemui Eddie.
2. Tentang kematian, pengorbanan, dan kedamaian.
Kenapa orang datang melayat ketika ada orang meninggal? [...] Itu karena jiwa manusia tahu, jauh di lubuk hati mereka, bahwa semua kehidupan saling berkaitan. Kematian bukan hanya mengambil seseorang, tapi juga luput dari orang lain, dan di celah kecil antara kena dan nyaris, kehidupan berubah. (hlm. 53)
Pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukan sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu untuk didambakan. [...] Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain. (hlm. 97)
Kau mendapat kedamaian setelah kau berdamai dengan dirimu sendiri. (hlm. 116)
3. Memahami cerita dari sisi/sudut pandang yang lain, misalnya tentang Mickey Shea (hlm. 142). Selalu ada tiga sudut pandang dari sebuah cerita antara kamu dan saya: ceritamu, cerita saya, dan cerita sebenarnya. Sebaiknya saya tidak menghakimi kamu jika saya belum memahami cerita dari sudut pandangmu, begitu pula sebaliknya. Sementara itu, mungkin hanya Tuhan yang mengetahui cerita sebenarnya.
4. Kehidupan seseorang memengaruhi/berkaitan dengan kehidupan orang lain.
Kejadian-kejadian yang terjadi sebelum kau dilahirkan tetap mempunyai pengaruh pada dirimu. Dan orang-orang yang hidup sebelum kau juga mempunyai pengaruh pada dirimu. (hlm. 127)

Meniti Bianglala?

Pemilihan judul untuk versi terjemahan Gramedia Pustaka Utama ini, mungkin mengacu pada (saya cuma bisa menduga-duga dengan sok tahu):
1. Bianglala erat dalam kehidupan Eddie, dan terlebih Marguerite, yang suka naik bianglala.
2. "Meniti" mungkin menggambarkan Eddie yang memasuki tahapan demi tahapan di alam baka, mulai dari bertemu orang pertama sampai kelima, dan tahapan penuaan fisik yang dirasakannya di sana. Bianglala berbentuk menyerupai lingkaran (kalau disederhanakan menjadi bangun dua dimensi) dan dia berputar (tapi kalau sedang tidak berputar, ya berhenti), sehingga kalau kita menitinya, maka sama saja dengan kita berputar-putar. Kita hendak menuju ke atas, tapi nantinya akan ke bawah lagi. Mungkin ini menggambarkan plot dalam novel ini. Di cabang pertama plot, penulis mengajak kita mengetahui cerita Eddie dari "masa kini" sebelum dia meninggal. Kemudian di alam baka, kita diajak menyelami masa lalu Eddie mulai dari kelahirannya sampai saat terakhir hidupnya. Di samping itu, kita menyaksikan Eddie semakin "tua" fisiknya di alam baka. "Berputar-putar" atau "siklus bianglala" itu mungkin juga melambangkan siklus lima orang di alam baka. Eddie bertemu lima orang, lalu ia akan menjadi salah satu orang untuk seseorang di alam baka, lalu seseorang itu akan jadi salah satu orang lagi, begitu seterusnya.
***
Kisah tentang Eddie, yang mungkin kegelisahan-kegelisahannya dalam hidup pernah atau sedang dialami oleh pembacanya, dengan gambaran akan surga yang unik, menggemakan bahwa hidup kita, bagaimana pun buruknya menurut kita, memiliki arti bagi kehidupan lain. Untuk bisa memahami arti hidup itu, pertama-tama, mungkin kita harus berdamai dengan diri sendiri terlebih dulu.[]

Data Buku

Judul: The Five People You Meet in Heaven (Meniti Bianglala)
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Andang H. Sutopo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VI, Desember 2012
Tebal: 208 halaman
ISBN: 978-979-22-7002-0
Rating saya: 4/5

11 July 2016

Menggugat Inteligensi Embun Pagi



“Supernova yang sebenarnya adalah potensi ledakan. Meneruskan Supernova berarti menebarkan potensi ledakan itu ke orang-orang. Ledakan pikiran.” (Re, hlm. 227)

Memahami Supernova

Membaca buku terakhir Supernova membuat saya menelusuri kembali jejak historis seri buku termasif ledakannya di Indonesia ini. Saya menulis ini sembari saya sendiri mencoba memahami Supernova, memahami jalan pikiran Dee. Sejak awal, Dee memaksudkan Supernova menjadi sebuah trilogi, dengan KPBJ sebagai prekuel. Itulah kenapa di bagian akhirnya tertulis “the beginning” (Dee bilang begitu di kata penutup Inteligensi Embun Pagi). Buku kedua dipecah jadi empat bagian: Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang. Keempatnya memiliki pola alur hero’s journey. Di empat buku pecahan inilah, Dee mengenalkan satu per satu tokoh protagonis utamanya.

Ditulis berjarak 8 tahun setelah Petir, tak heran, Partikel memiliki ruh yang terasa berbeda. Hal ini tak bisa dipungkiri, karena Dee pun turut berkembang selama prosesnya. Sebagai pembaca yang mengikuti serial ini sejak awal, saya memang kehilangan gaya penulisan Dee dengan bahasanya yang nyeleneh dan mengajak saya mengupas lapis demi lapis kulitnya di KPBJ. Apalagi di Gelombang, saya harus membaca gaya menulis multilingual yang bikin muak. Namun, Gelombang menggetarkan saya karena ia memberi petunjuk akan banyak hal, sekaligus memberikan banyak teka-teki baru. Saya merinding, lho, baca bagian akhir, ketika Alfa sedang di dalam pesawat terbang, dan Kell duduk di sebelahnya mendendangkan lagu "Fly Me to the Moon" (padahal di Akar, Kell sudah meninggal).

Gelombang menimbulkan gegar intelektual. Di buku-buku sebelumnya sama sekali tidak disinggung adanya klasifikasi karakter (Peretas, Infiltran, Sarvara). Tiba-tiba, di Gelombang, Dee menjejalkan ke mulut pembaca tentang itu. Lah, kok? Dee memang sengaja, atau dia baru kepikiran tentang Peretas, dll. pasca Petir? “Jawabannya adalah ya dan tidak.” (IEP, hlm. 702). Yah, saya belum puas dengan jawaban Dee itu. Udah, telen dulu aja (mungkin begitu kata Dee kemudian).

Peretas, Infiltran, Sarvara

Premis Supernova adalah segala sesuatu telah direncanakan, yang dinamakan sekuens. Di sini, kita bertemu makhluk-makhluk dengan misi khusus, Peretas, yang rela lahir, amnesia, dan mati berkali-kali dalam wujud manusia demi mencapai enlightment. Dalam setiap siklus, para Peretas ini berenam membentuk gugus. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai siklus, tapi nama kodenya selalu sama (Gio, IEP, hlm. 27). Bersama-sama, mereka berusaha memenuhi misi: membebaskan semua makhluk superior “dari penjara tubuh manusia, dari jerat samsara” (IEP, hlm. 619); untuk menyadarkan para Peretas siapa mereka 2500 tahun yang lalu.
"Kebenaran yang tak bernama tak pernah terputus." (Surat S kepada Akar)
Nama Peretas
Fungsi
Nama Kode
Bodhi
Peretas Kisi
Akar
Elektra Wijaya
Peretas Memori
Petir
Zarah Amala
Peretas Gerbang
Partikel
Alfa Sagala
Peretas Mimpi (sang Arsitek, Peretas pertama)
Gelombang
Gio
Peretas Kunci
Kabut

“Peretas tersebar di seluruh dunia, mengikuti jadwal dan rencana khusus yang mereka rencanakan dari sebelum mereka lahir. Satu faktor yang paling dipedulikan oleh Infiltran adalah magnet Bumi. Itu tolok ukur mereka untuk segala hal.” (Toni, hlm. 322).
Selain Peretas, ada Infiltran/Pembebas dan Sarvara/Penjaga.
Cerberus (Sumber di sini.)
“Pembebas dan Penjaga berbagi unsur yang serupa, tapi dengan kutub yang bertolak belakang. Bagi Penjaga, para Pembebas tak lebih dari perusak. Infiltran, begitu akhirnya mereka dijuluki karena strategi menyusup yang mereka terapkan. Bagi para Infiltran, para Penjaga adalah pemelihara penjara, memperlambat laju evolusi demi stabilitas dan status quo. Kaum yang kemudian oleh para Infiltran dijuluki sebagai Sarvara. Anjing penjaga.” (IEP, hlm. 619)
[Anjing penjaga yang dimaksud adalah Cerberus.]
Ketiga pihak ini bertemu, tumpek blek di IEP. Peretas dan Infiltran di satu pihak, Sarvara di pihak lainnya. Kedua pihak berperang, yang melibatkan para pembantu Infiltran yang disebut Umbra. Pihak pertama menginginkan evolusi kesadaran, pihak kedua tidak ingin itu terjadi.


Di IEP, kelima Peretas kita (bersama Infiltran) berjuang menggenapkan Hari Terobosan agar Peretas Puncak dengan nama kode Permata bisa turun untuk menggenapi gugus mereka.

Menggugat Inteligensi Embun Pagi (IEP)

Saat membaca halaman-halaman awal IEP, saya geregetan sekali. Di situ, proses penyadaran yang dialami Gio dengan dibantu oleh Luca diiringi dialog-dialog tidak penting. Kayak novel teenlit. Saya jadi merasa sedang baca Harry Potter, saat dia berumur sebelas tahun, dijemput oleh Hagrid dan dikasih tahu bahwa dia penyihir istimewa.

Terlalu banyak plot device yang terjadi tiba-tiba tanpa pernah disinggung atau diberikan petunjuk sebelumnya adalah hal yang paling mencolok di IEP. Contohnya:
·      Ternyata Peretas bisa dikonversi jadi Sarvara (penjelasan Alfa di hlm. 484).
·      Ternyata ada kisah antara Alfa dan Ishtar yang melibatkan mitologi Sumeria (di Keping 92).
·    Yang paling menyakitkan: surat dari S untuk Zarah (di Partikel), ternyata cuma tipuan Simon. Anjir, padahal selama ini saya benar-benar menganggap surat dari S itu adalah petunjuk untuk menyingkap segalanya. Mungkin ini efek dari perubahan rencana Dee yang tiba-tiba terhadap akhir serial Supernova. Efek samping dari dijadikannya Diva hanya sebagai bayang-bayang di IEP. Di sini, Dee terlihat malas dan ambil jalan mudah, dengan menjadikan surat itu hanya tipuan. Lalu surat untuk Akar juga tipuan?

Ishtar (Sumber di sini.)
Di IEP, semua tokoh reunian, tapi Rana terlewati. Sang Puteri tak mendapat tempat di sini. Pun Diva, yang begitu memikat di KPBJ, yang muncul di empat buku selanjutnya, hanya jadi figuran. Malah Ishtar yang jadi “bintang”. Mereka berdua punya beberapa kemiripan, sih, sama-sama punya daya tarik seksual tinggi, independen, kuat (di IEP, digambarkan bahwa Ishtar adalah Sarvara terkuat dibandingkan rekan-rekannya). Dalam kepercayaan Mesopotamia, Ishtar adalah Dewi Perang dan Cinta Seksual, yang juga diasosiasikan dengan planet Venus/Evening Star. (Bukan kebetulan kalau Bodhi memanggil Ishtar dengan sebutan “Star”). Saya mengapresiasi Dee, karena ia telah melahirkan dua tokoh perempuan kuat ini di serial Supernova.

Gio, yang dulunya seolah hanya figuran, ternyata... Saya merasa tertipu, mengingat ada 4 tokoh yang dieksplor oleh Dee dalam 4 buku (untuk membangun latar belakang mereka masing-masing, sebelum bergabung di IEP); mengingat isi surat S kepada Akar ("Salam saya untuk tiga teman kamu") dan Partikel ("Tiga teman yang paling utama sudah menunggu"), seharusnya cuma ada 4 karakter protagonis utama ini di IEP. Dan ternyata, protagonis utama di IEP adalah Alfa. Oleh karena kebanyakan tokoh, saya jadi merasa kepribadian para tokoh ini nyaris tak punya ciri khas. Kecuali Kell, Ishtar, Elektra, Reuben...

Saya juga ingin menggugat Zarah, betapa dia egois sekali ketika ia lebih mementingkan untuk mencari ayahnya “yang ia lihat keluar dari portal” daripada menyelesaikan urusan para Peretas (hlm. 483).

IEP sangat kompleks, karena melibatkan pembahasan tentang spiritualisme Barat dan Timur, berbagai mitologi kuno, dan sains, sehingga saya sering tidak paham. Dee menggunakan teknik dialog (ada yang berperan sebagai Sang Penjelas) dan narasi tokoh untuk menjelaskan berbagai hal ini. Meski begitu, tetap saja, banyak dialog yang isinya kurang bisa saya pahami. Ditambah lagi, Dee masih menggunakan gaya multilingual-nya itu (sekarang bonus bahasa Sumeria).

Dee terkesan malas menunjukkan adegan pada pembaca. Contohnya, ketika Gio bertemu dengan Madre Aya (hlm. 22-24), tidak jelas apa yang dilihat oleh Gio saat itu. Pengalaman itu hanya “diceritakan” secara abstrak. Di hlm. 29, Gio mengatakan bahwa tujuan selanjutnya, Gio harus pergi ke Indonesia. “Madre Aya menunjukkanku Pulau Jawa.” Oh, jadi Madre Aya nunjukin Pulau Jawa?!
Selain itu, ada beberapa salah penulisan, seperti:
·      “Ada empat orang tersisa di puncak. Tiga Peretas. Kita. Dan, satu orang yang keluar dari portal. Sarvara.” (Bodhi, hlm. 487) -> bukannya harusnya empat Peretas? Alfa dikemanain?
·      “Cara-cara Peretas itu aneh-aneh.” (Alfa, hlm. 557) -> mungkin seharusnya “Infiltran”, ya.

Pelajaran Penting dari IEP

“Sejarah yang satu ini… ah, seperti melukis di air. Sulit dikenang. Sulit dipegang. Rasanya satu dunia ini tersihir mantra untuk lupa. Lagi dan lagi.” (Chaska, hlm. 5)
Terlepas dari semua gugatan saya itu, saya mendapat beberapa pelajaran penting dari IEP.
1.  Apa yang bagi persepsi satu pihak "salah", ternyata di pihak lain "benar". Contohnya, sudut pandang Ishtar terhadap Infiltran. Ternyata Sarvara tidak sejahat yang selama ini diindoktrinasikan ke pikiran pembaca melalui sudut pandang Peretas dan Infiltran. Menurut sudut pandang Ishtar, “Daging yang membungkusmu (-mu = Alfa) adalah penjaramu. Memenjarakanmu dalam ilusi keterbatasan. Kamu yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada yang kamu tahu. Mereka (Infiltran) memutarmu untuk lahir dan mati. Mereka tidak ingin kamu bebas. Tidak ada kejahatan yang lebih keji daripada pengelabuan jati diri.” (hlm. 618)
2.  Tentang evolusi kesadaran. “Evolusi kesadaran, Bodhi. Evolusi adalah sifat alami semesta ini. Cuma itu kekuatan yang tidak bisa dihentikan siapa pun. Tidak oleh Sarvara, dan juga tidak oleh kita. Bahkan, dalam bungkusan jerat ini sekalipun, evolusi tidak berhenti. Hanya melambat. Evolusi secara alamiah membawa kesadaran kolektif untuk akhirnya mencapai ambang batas kritis yang kita sebut dhyana. Saat jejaring kita berhasil menciptakan celah, mereka yang sudah tiba di batas dhyana akan mengalami lompatan kesadaran. Melampaui jerat ini. Lepas.” (Kell, hlm. 197)
3. Tentang awareness. “Awareness. Kesadaran menentukan segalanya. Kamu bisa dikelilingi benda-benda berkekuatan luar biasa, tapi tanpa kesadaran, kamu bakal menganggap mereka benda biasa.” (Kell, hlm. 240). Belakangan ini, awareness jadi bahan renungan favorit saya, hingga saya sampai pada kesimpulan, bahwa bagi saya, hal paling esensial di dunia ini adalah kesadaran. Sadar siapa saya. Sadar untuk apa saya hidup di dunia ini. Sadar dalam melakukan segala hal.
4.  “Manusia itu ngomong A, padahal B. mukanya bikin C, padahal di hatinya D. Tujuannya E, tapi mutar-mutar dulu sampai Z. Bahasa itu, kan, gunanya buat jadi topeng. Manusia belum sanggup transparan. Itulah, efek kelamaan pikun. Ndilalahnya, manusia jadi ndak mudeng sama efek perbuatannya sendiri. Makanya karma di sini jelimet banget. […] Kita itu bergerak seperti satu tubuh, Le. Kalau ada di antara kita yang keminter, bikin rencana sendiri, semua kena getahnya.” (Kas, hlm. 415-416)
5.  Pembahasan Liong tentang “Belajar dari Semut”. “Kalian injak satu semut, kalian pikir semut yang lain bakal berhenti untuk berduka gara-gara mereka bersaudara? Mereka akan terus bekerja sampai misi mereka selesai. Fokus pada tugas kalian sebagai Peretas, bukan drama kalian sebagai manusia. Drama adalah komplikasi. Drama membuat kalian egois, berpikir kepentingan pribadi kalianlah yang paling penting.” (Liong, hlm. 467)

Jadi, saya tidak menganggap IEP adalah penutup yang bagus bagi seri Supernova. Tapi saya memberikan rating 2,5 atas usaha keras Dee untuk melahirkan seri yang dahsyat ini dengan konsistensi dan kreativitas tinggi. Dee tetap jadi salah satu penulis Indonesia yang saya segani. Saya juga kagum akan gaya penulisan Dee, yang di satu sisi terkesan sangat ilmiah, tapi di sisi lain tak kehilangan humornya. Misalnya, saat Toni memanggil Dimas–Reuben dengan sebutan “Paklik–Bulik”. Di Goodreads, saya bulatkan rating ini jadi 3, karena saya mendapat beberapa pelajaran penting yang terkait dengan hal-hal yang belakangan ini jadi bahan renungan saya. (Selain itu juga karena IEP memantik saya untuk mempelajari spiritualisme.) Betapa ini bukan suatu kebetulan, kan? 
“Carilah, Nak. Cari bukan untuk sampai ketemu. Cari sampai kamu merasa sudah tidak perlu lagi mencari.” (Aisyah, hlm. 105)
“Pasti ada alasan mengapa kamu memilih lahir dalam fisikmu yang sekarang. Kamu menjadi yang terkecil supaya kamu bisa belajar untuk tidak takut pada kekuatanmu sendiri.” (Liong kepada Elektra, hlm. 653)

bloggerwidgets